Siswa SD Naik KRL Sendirian Pukul 4 Pagi, Sekolah Khawatir, Ibu Tidak Setuju Pindah

Siswa SD Nekat Naik KRL Subuh untuk Berangkat Sekolah

Sebuah video yang menampilkan seorang siswa SD naik Kereta Rel Listrik (KRL) sendirian pada pukul 4 pagi viral di media sosial. Video tersebut menunjukkan anak kecil berpakaian seragam sekolah menaiki KRL dari Tangerang menuju Stasiun Klender, Jakarta Timur. Kejadian ini menarik perhatian publik dan memicu diskusi tentang kondisi pendidikan serta kehidupan siswa di daerah tertentu.

Siswa tersebut tinggal di Tangerang, Banten, sementara sekolahnya berada di Duren Sawit, Jakarta Timur. Awalnya, video ini diunggah oleh akun Instagram @Jabodetabek24info. Pihak sekolah kemudian mengonfirmasi kejadian ini dan menjelaskan latar belakangnya.

Kondisi Keluarga dan Alasan Anak Melakukan Hal Ini

Kepala Satuan Pelaksana (Kasatlak) Pendidikan Duren Sawit, Farida Farhah, menjelaskan bahwa siswa tersebut awalnya tinggal dekat sekolah. Namun, setelah ibunya, yang merupakan orangtua tunggal, pindah ke Tangerang karena pekerjaan, ia tetap melanjutkan sekolah di tempat lama.

“Orangtuanya memang dulu tinggal dekat sekolah. Setelah pindah, anaknya tetap bersekolah di sana. Itu yang disampaikan pihak sekolah kepada kami,” ujar Farida.

Anak tersebut juga menolak tawaran pindah sekolah. Baik sang anak maupun ibunya tidak mau pindah karena merasa nyaman dengan lingkungan saat ini. “Anaknya merasa sudah nyaman dan tidak keberatan terkait dengan keberangkatan anak tersebut dari pagi dengan perjalanan yang segitu panjangnya. Anaknya merasa juga enjoy juga gitu kan,” tambah Farida.

Namun, setelah melalui pendekatan yang dilakukan oleh sekolah dan keluarga temannya, anak tersebut akhirnya bersedia tinggal sementara di rumah temannya di Duren Sawit. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kesehatan dan keselamatannya.

Solusi yang Diambil Pihak Sekolah

Farida menjelaskan bahwa selama ini, anak tersebut berangkat sendirian tanpa alat komunikasi pribadi. Ia hanya menitipkan diri kepada penjaga stasiun kereta. “Kalau dari sana itu dilepas sama ibunya sendiri, dia menitipkan sama penjaga di stasiun kereta. Jadi masuk sampai JakLingko aman, terus turunnya juga aman,” jelasnya.

Keputusan untuk memindahkan anak tersebut ke sekolah yang lebih dekat akan dilakukan setelah pembagian rapor semester pada pertengahan Desember 2025. Hingga saat itu tiba, ia akan tetap tinggal di rumah temannya di Duren Sawit.

Masalah Akses Pendidikan di Papua Barat Daya

Selain kasus siswa SD di Jakarta, ada juga situasi miris di Kampung Waumi, Kampung Ajam, dan Kampung Waripi, Distrik Manekar, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya. Para murid di daerah tersebut harus menyeberangi sungai setiap hari untuk pergi ke sekolah.

Mereka yang merupakan murid SD dan SMA kesulitan pergi ke sekolah akibat tidak adanya jembatan penyeberangan. Mereka harus menuju distrik lain, seperti Kebar untuk bersekolah karena belum ada fasilitas pendidikan di daerah mereka.

“Kami terpaksa membuka sepatu dan melipat celana panjang hingga lutut kalau melintas di Kali Api Kebar,” kata salah satu pelajar SMA Negeri Kebar Kabupaten Tambrauw, Yohanis Ajam.

Jarak permukiman warga di tiga kampung tersebut ke sekolah di Distrik Mawabuan dan Distrik Kebar sekitar satu kilometer. Karena akses yang sulit, sebagian pelajar kadang batal pergi ke sekolah. Mereka ada terpaksa meninggalkan ujian.

Yohanis berharap, kondisi akses yang sulit tersebut mendapat perhatian pemerintah. “Kami berharap ada perhatian pemerintah untuk membangun jembatan supaya kami tidak sulit lagi menyeberang kali,” kata dia.

Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nasrau, saat dikonfirmasi wartawan mengatakan bahwa masalah ini akan menjadi perhatian bagi pemerintah provinsi Papua Barat Daya. “Iya, itu akan jadi atensi bagi kami,” ucap Ahmad Nasrau.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *