Desa Wisata Wonolopo: Menjaga Warisan dengan Inovasi
Sumarman berdiri di antara deretan botol jamu tradisi Wonolopo, tangannya sesekali merapikan rempah yang dipamerkan. Di stand Desa Wisata Wonolopo di Taman Eduwisata Omah Ampiran, lelaki yang menjabat Sekretaris Pengelola Desa Wisata Wonolopo itu bercerita bagaimana desanya mencoba menata diri memelihara warisan, tetapi juga membuka ruang wirausaha baru.
Ia menyebut konsepnya “ngumahan” kampung-kampung usaha yang dijahit dalam satu bingkai bernama Omah Ampiran Wonolopo. Tradisi turun-temurun meracik jamu menjadi fondasi kampung edukasi, sebelum berkembang menjadi paket wisata yang mengajak pengunjung “muter-mumpung kampung”.
Wonolopo kini merawat 15 destinasi, mulai dari sanggar budaya, area outbound, camping ground, hingga zona tanam-menanam organik dan urban farming. Yang kami bangun itu apa yang memang sudah ada di masyarakat. Jamu jadi titik awal, lalu muncul produk baru seperti omah getuk krispi, nasi kaworan, sampai integrated farming.
Di luar agenda pameran, Wonolopo sendiri terus bergerak. Rintisan wisatanya sudah berlangsung bertahun-tahun dengan wisatawan yang datang sekitar tiga ribu orang per tahun, gabungan antara pengunjung paket dan nonpaket. Untuk paket edukasi jamu dan wirausaha kampung, jumlahnya stabil di kisaran seribu wisatawan, meski tahun ini baru sekitar 600 peserta.
Sumarman menyadari Wonolopo bukan desa wisata yang mengejar gemerlap. Mereka hanya berusaha menjaga apa yang diwariskan, lalu merawatnya menjadi ruang belajar, ruang usaha, dan ruang singgah. Yang penting hidup, berkembang, dan bermanfaat bagi warga.
Pameran tersebut menjadi agenda perdana Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang yang mempertemukan 13 desa wisata dalam satu ruang. Asisten Administrasi Umum Setda Kota Semarang, R. Wing Wiyarso P, menyebut pameran ini menjadi titik mula transformasi. Menurutnya, para pengelola desa wisata perlu didorong agar semakin percaya diri menunjukkan potensi lokal yang selama ini menopang arus wisatawan ke Semarang.
Kita siapkan ruang bagi desa wisata yang sudah eksis. Silakan berlomba meningkatkan kualitas dan daya tarik masing-masing. Wing menegaskan, Semarang sedang memacu diri menuju visi sebagai kota pariwisata. Desa wisata dipandang sebagai motor kecil yang mampu menggerakkan ekonomi tingkat bawah, lalu beresonansi memperkuat daya saing kota secara keseluruhan.
Sumber daya manusia, katanya, menjadi kunci utama. Pelatihan, pendampingan, sampai sertifikasi profesi akan dikejar agar pengelola semakin profesional.
Dari panggung pameran, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Semarang, Indriyasari, ikut menyuarakan optimismenya. Sebanyak 13 desa wisata, dengan stan dan atraksi masing-masing, menampilkan hanya “kulit luar” dari potensi yang mereka punya sehari-hari. Apa yang mereka tunjukkan di panggung itu baru sedikit. Potensi harian mereka jauh lebih menarik. Ini yang perlu dilihat bukan hanya warga Semarang, tapi juga wisatawan dari luar.
Iin berharap momentum ini menumbuhkan kolaborasi baru. Ia mendorong setiap desa wisata lebih lantang menonjolkan cerita khas mereka keunikan yang menjadi ruh desa wisata agar mampu menggerakkan ekonomi warga. Kekuatan desa wisata ada pada ceritanya. Tahun depan acara ini jadi agenda rutin Disbudpar. Kita berjuang bareng.
Dukungan juga datang dari anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena. Ia menilai pameran semacam ini harus dibarengi langkah konkret. Dalam waktu dekat, ia berencana menemui para pengelola hotel di Semarang untuk membahas kerja sama paket wisata. Tamu hotel bisa dapat paket singkat atau akhir pekan menuju desa wisata. Ini peluang besar.
Menurutnya, hotel dapat menjadi pintu masuk wisatawan lokal maupun mancanegara menuju desa wisata. Namun ia mengingatkan bahwa keberlanjutan harus tetap jadi pagar utama. Produk wisata tak boleh dibuat hanya karena tren atau meniru daerah lain. Hulu dan hilir harus tersedia. Kalau demand sudah dibuat, suplainya jangan sampai tersendat.
Pameran desa wisata perdana ini menjadi langkah awal Semarang merakit identitas baru kota yang tak hanya mengandalkan pusat kota, tetapi juga ritme kehidupan desa yang hidup, otentik, dan berdaya.












