Jika sebuah ziarah dan perjalanan dimaknai sebagai laku spiritual, maka izinkan kali ini saya mencoba menguraikannya, tanpa berniat menggurui serta menasihati. Semoga bermanfaat. Selamat membaca!
Panggilan Batin: Ziarah Emosional ke Melangi, Sleman
Sebuah dorongan aneh, kuat, dan tak tertebak, menyeruak dalam sanubari saya jelang dini hari. Langkah kaki ini seolah dikerahkan, diarahkan, menuju satu titik di Yogyakarta: Desa Melangi. Ini bukan sekadar desa biasa. Ia adalah sebidang tanah bersejarah di Sleman, yang sarat dengan jejak spiritual dan perjuangan.
Sebelum kembali ke Kalimantan, entah kenapa, hati ini harus kembali ke Jogja. Bukan untuk menikmati senja, melainkan untuk sebuah ziarah batin yang konkret ditengah hantaman badai fitnah melanda.
Desa Perdikannya Diponegoro dan Spiritualitas Akar Rumput
Melangi, yang di zaman Belanda dikenal sebagai desa perdikan atau “desa putih”, adalah sebuah desa bebas pajak. Keistimewaan ini diberikan karena di sana berlangsung aktivitas masif pengajian yang melibatkan masyarakat akar rumput. Ini adalah simbol perlawanan damai dan kekuatan ilmu.
Desa ini memiliki akar sejarah yang kuat; didirikan oleh Hamengkubuwono I, yang merupakan kakek dari Pangeran Ontowiryo, atau yang kita kenal sebagai Pangeran Diponegoro. Bahkan, di desa inilah Diponegoro muda belajar ilmu agama—dari Nahwu, Fikih dasar, hingga ilmu Hikmah.
Ilmu Hikmah ini bahkan telah diajarkan langsung oleh neneknya, Ki Ratu Ageng, seorang ahli hikmah, Tasawuf sekaligus guru spiritual Diponogoro dari jalur Kesultanan Bima, yang kisahnya banyak diabadikan dalam Babad Diponegoro.
Menghormati Guru yang Dilupakan Sejarah
Malam itu, 7 menjelang 8 Desember. Gerak hati ini menuntun saya untuk menyambangi makam para wali dan tokoh di Melangi. Tujuan utama ziarah ini adalah makam Mbah Nuriman. Beliau adalah guru spiritual sezaman Pangeran Diponegoro, yang mengawal peperangan Jawa namun sayangnya dilupakan dalam catatan sejarah formal. Sebagai santri, mengirimkan Al-Fatihah di pusaranya adalah hadiah kecil, sebuah penghormatan atas jasanya yang besar.
Selain itu, saya juga mengunjungi Pesantren Hujjatul Islam, sebuah pesantren tradisional yang sangat kokoh. Pesantren ini didirikan oleh Kiai Khatrul Aziz, seorang tokoh besar NU sekaligus salah satu pendiri Ma’arif di Yogyakarta. Kiai Khatrul Aziz ini juga merupakan tokoh yang dilupakan sejarah, namun memiliki kontribusi nyata, bahkan mewakafkan lemari pribadinya untuk yayasan ini.
Makam Kiai di atas juga berdekatan dengan makam Mbah Nuriman. Saya pun sekaligus mengirimkan hadiah Al-Fatihah pada dini hari tersebut. Sebelumnya juga berkesempatan silaturahmi Gus Somad, putra beliau yang kini mengasuh pesantren, karena pernah belajar dan berguru langsung kepada beliau. Pesantren ini (Hujjatul Islam) kini menjadi pilar pendidikan yang kuat bagi santri penerus perjuangan pilar dakwah di masa mendatang.
Dari Muhammadiyah ke Pelabuhan Spiritual Nahdiyin
Perjalanan spiritual saya pribadi memang penuh warna. Ziarah ke Melangi ini terjadi selang beberapa hari setelah saya mengunjungi makam Mbah Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Saya sendiri lahir dan tumbuh sebagai kader Muhammadiyah sejak kecil, mengikuti pelatihan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Taruna Melati. Masa kuliah menjadi ajang saya bergaul dan belajar dari berbagai organisasi, membuka diri pada berbagai pandangan. Setelah itu, saya kembali ke pangkuan Muhammadiyah, belajar banyak dari guru-guru hebat seperti almarhum Prof. Yunahar Ilyas dan Fahrurrahman Kamal (beliau kini masih aktif mengajar dan mengasuh maha santri).
Namun, dorongan kuat untuk mendalami ilmu Hikmah dan kitab, yang terinspirasi dari isyarat Prof. Yunahar Ilyas, membawa saya bergaul dengan ulama-ulama Nahdiyin. Setelah pengembaraan awal di Krapyak, pelabuhan spiritual saya akhirnya berlabuh di Melangi, di Hujjatul Islam, bersama Gus Somad sebagai mentor hikmah hingga kini.
Kontrak Emosional dengan Sebuah Tempat
Mengapa Melangi begitu memanggil? Entah kenapa, setiap kali berada di Jogja, selalu ada panggilan batin yang sulit ditampik. Mungkin karena pernah nyantri kalong di sana, rutin datang tiap minggu, sekadar jagongan, bahsul masail ringan, merokok, dan mengaji kitab dengan beberapa santri lawas kala itu.
Ada kelekatan emosional yang kuat, sebuah kontrak emosional yang konkret yang terjalin, diperkuat oleh fakta bahwa saya pernah membangun ruang baca kecil-kecilan di Hujjatul Islam. Melangi bukan hanya desa bersejarah, ia adalah tempat bersemayamnya aulia, para pendakwah, dan penyiar Islam.
Catatan diari ini hanyalah upaya kecil untuk menuangkan jejak sejarah dan perasaan tak terdefinisikan ini. Bukan untuk mengajari atau memberikan insight baru, melainkan untuk merekam perjalanan pulang menuju kedalaman batin. Saya sudah kembali ke sana, dan semoga catatan ini layak dibagikan.










