Gudang di Sukoharjo Menyimpan Sejarah Penerbangan Nasional
Di balik hamparan sawah dan jalan desa yang sunyi di Dusun Dukuh, Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah berdiri sebuah gudang yang menyimpan pemandangan tak lazim. Bukan traktor atau hasil panen, melainkan potongan-potongan sejarah penerbangan nasional: belasan bangkai pesawat komersial tersusun rapi di atas lahan seluas kurang lebih 4.000 meter persegi.
Sedikitnya ada 11 unit pesawat eks Merpati Nusantara Airlines yang kini “berlabuh” permanen di tempat itu. Sayap, badan pesawat, hingga kokpitnya menjadi saksi bisu masa kejayaan maskapai pelat merah yang pernah melayani rute-rute perintis di Indonesia. Namun di Sukoharjo, bangkai-bangkai pesawat ini tak sekadar menunggu waktu untuk berkarat. Pesawat-pesawat tersebut justru memiliki “kehidupan kedua”.
Mereka diperjualbelikan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sarana edukasi penerbangan hingga disulap menjadi bangunan unik berkonsep restoran atau kafe bertema aviasi. Dari rongsokan, lahir peluang bisnis yang tak terduga.
Awal Mula Bisnis Bangkai Pesawat
Mahdianto, salah seorang karyawan gudang, menyebut usaha jual beli bangkai pesawat ini mulai berjalan sejak akhir 2019, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19. Sebelumnya, seluruh bangkai pesawat itu disimpan di Jakarta sebelum akhirnya dipindahkan ke Sukoharjo.
Pemiliknya, Ambon Muhtarom, sebelumnya bergerak di bisnis scrap kapal sejak 1995 hingga 2011. Setelah itu beralih ke perdagangan bangkai pesawat yang sudah tidak terpakai. Pengalaman panjang di dunia scrap menjadi modal penting.
Jika scrap kapal identik dengan pembongkaran kapal tua menjadi besi tua, dunia pesawat menawarkan nilai lebih. Tak semua harus dilebur. Banyak bagian justru memiliki daya tarik visual dan nilai edukatif. Seiring waktu, peluang itu kian terlihat.
Menurut Mahdianto, usaha jual beli bangkai pesawat ini menjadi tambahan sumber pemasukan yang cukup menjanjikan. Selama beroperasi di Sukoharjo, setidaknya sudah satu unit pesawat terjual ke wilayah Jawa Timur untuk kebutuhan pendidikan penerbangan.
Peluang Bisnis yang Menjanjikan
Pesawat yang terjual itu jenis CASA 212-200 dengan harga Rp 1,2 miliar. Ketertarikan pasar sebenarnya cukup tinggi. Namun, Mahdianto mengakui banyak calon pembeli masih berada pada tahap pertimbangan. Mayoritas dari mereka tertarik menjadikan badan pesawat sebagai bangunan restoran atau kafe yang menawarkan pengalaman berbeda bagi pengunjung.
Soal harga, satu unit pesawat dibanderol mulai Rp 700 juta dengan sistem ambil sendiri. Jika pembeli berada di Pulau Jawa dan meminta pengantaran, ongkos kirim berkisar Rp 50 juta hingga Rp 60 juta. Ditambah lagi biaya perakitan dan pemasangan di lokasi yang bisa mencapai Rp 200 juta hingga Rp 300 juta.
“Kalau dihitung total, bisa sekitar Rp 1 miliar lebih sedikit untuk satu pesawat,” ungkapnya.
Komponen Dijual Terpisah
Tak hanya badan pesawat, gudang ini juga menjual berbagai komponen secara terpisah. Kursi penumpang dilepas Rp 2 juta per set isi dua, sementara kursi pilot menjadi komponen paling diminati dengan harga mencapai Rp 13 juta per unit. Ban pesawat kecil dijual sekitar Rp 700 ribu, sedangkan ban pesawat besar di atas Rp 1 juta. Seluruhnya diklaim masih baru dan belum pernah digunakan.
Mahdianto menjelaskan, seluruh pesawat tersebut diperoleh melalui lelang aset Merpati Nusantara Airlines saat maskapai itu dinyatakan pailit pada 2013. Jenisnya pun beragam, mulai dari CASA 212-200, Fokker 200, Fokker 100, hingga Boeing 737-200. Di antara semuanya, Boeing 737-200 menjadi unit termahal dengan harga mencapai Rp 2,2 miliar, sudah termasuk biaya pengiriman dan pemasangan.
“Untuk proses perakitan pesawat di lokasi pembeli, biasanya membutuhkan waktu paling cepat sekitar dua minggu,” pungkas pria ramah ini.












