Fasilitas Chairlift di Tugu Monas untuk Bantu Mobilitas Pengunjung
Tugu Monumen Nasional (Monas) di Gambir, Jakarta Pusat, kini dilengkapi dengan fasilitas chairlift atau kursi angkat. Fasilitas ini dirancang untuk membantu mobilitas pengunjung yang membutuhkan, seperti lansia, penyandang disabilitas, dan ibu hamil saat naik dan turun tangga di area tersebut.
Fasilitas chairlift berupa kursi yang menempel pada rel besi yang dipasang di sepanjang jalur tangga Tugu Monas. Saat ini, tiga titik di Tugu Monas telah dilengkapi dengan chairlift. Titik pertama berada di pintu keluar Tugu Monas yang terhubung langsung dengan Museum Monas. Selanjutnya, chairlift juga terpasang di tangga yang menghubungkan area museum dengan tangga menuju plataran bawah atau Cawan Monas. Titik ketiga berada di tangga angkat yang menuju ke bagian Cawan Monas.
Menurut Saepudin, petugas Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas, chairlift tidak diperuntukkan bagi anak-anak maupun pengunjung yang masih memiliki kemampuan mobilitas fisik yang baik. “Kalau yang masih kuat jalan, naik-turun tangga. Kita tidak perbolehkan pakai ya,” ujarnya.
Cara Kerja Kursi Angkat di Monas
Sebelum memanfaatkan fasilitas tersebut, pengunjung lansia dan ibu hamil akan ditanya oleh petugas UPK Monas. Pertanyaan itu biasanya disampaikan ketika petugas melihat lansia, ibu hamil, atau penyandang disabilitas yang hendak memasuki Kompleks Tugu Monas. “Ditanya, ‘Apakah Ibu atau Bapak masih kuat naik tangga? Atau ada kendala saat turun tangga?’ Jika ada kita bantu untuk memanfaatkan chairlift,” jelas Saepudin.
Untuk penyandang disabilitas, pihak UPK langsung memberikan fasilitasi. Saat menggunakan chairlift, semua tetap diawasi dan dibantu dengan remote control untuk menggerakkan lift angkat. Petugas lalu akan membuka kursi chairlift yang terlipat agar bisa diduduki oleh pengguna.
Setelah pengguna duduk, sabuk pengaman (seatbelt) dipasang melintang di bagian paha untuk menjaga keamanan. Selanjutnya, petugas memberi aba-aba bahwa chairlift siap digunakan. “Lalu kami tekan tombol pada remote control. Pengguna tinggal duduk saja. Chairlift akan langsung membawa menaiki tangga sampai ke atas atau sebaliknya,” jelas Saepudin.
Petugas siap mengawasi selama chairlift digunakan untuk menaiki dan menuruni tangga. Namun, para pengguna juga bisa mengatur pergerakan chairlift secara mandiri untuk naik dan turun tangga. Caranya dengan menyentuh alat pengendali seperti bola yang ada di lengan kursi chairlift. “Tekan dan tahan, lalu nanti chairlift akan bergerak saat kita naiki ke arah atas atau bawah. Kalau dilepas, kursi kita berhenti,” tutur Saepudin.
Kapasitas dan Harga Fasilitas
Saepudin menyebut, kapasitas chairlift memiliki batas berat maksimal untuk pengguna yang diangkut. “Maksimal chairlift ini mengangkut beban 120 kilogram (kg). Kalau lebih dari itu berisiko,” tuturnya. Fasilitas ini gratis dan bisa dimanfaatkan masyarakat yang membutuhkan.
Pengalaman Naik Chairlift
Beberapa pengunjung Tugu Monas berkesempatan mencoba chairlift untuk menaiki dan menuruni tangga di Tugu Monas. Saat digunakan di bagian pintu keluar Tugu Monas, waktu tempuh naik maupun turun chairlift masing-masing sekitar satu menit. Sementara itu, pada tangga yang menghubungkan Museum Monas dengan tangga menuju Cawan Monas, waktu yang diperlukan untuk naik dan turun masing-masing sekitar 1 menit 45 detik.
Chairlift bergerak perlahan dan tidak terasa curam saat digunakan untuk turun tangga. Saat chairlift bergerak naik maupun turun, terdengar alunan musik. Musik yang diputar berupa petikan gitar dengan irama pop. “Dari sana-nya (produsen chairlift) sudah seperti itu. Memang ada musiknya,” kata Saepudin.
Chairlift yang dipakai di Monas ini merupakan buatan Taiwan. Salah seorang pengunjung Tugu Monas, Eli Nursari (59), memanfaatkan fasilitas chairlift saat ditemui. Warga Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang berwisata ke Monas itu tertarik memanfaatkan lift karena kondisi kakinya sudah tidak fit akibat usia dan mengalami kecelakaan.
“Kalau naik tangga sebenarnya masih kuat. Asalkan pelan-pelan. Kalau turun tangga itu saya yang sulit. Kaki bagian bawah sakit jika tertekuk kan,” kata Eli. “Saat ditawari petugas buat naik ini saya langsung iyakan. Sekaligus mencoba. Jadi cepat naik-turun tangganya. Buat lansia kayak saya naik turun itu satu demi satu tangga lho,” jelasnya.
Eli bilang, chairlift sebaiknya disosialisasikan lebih luas agar pengunjung lebih paham fungsinya. Selain itu, menurut dia perlu dijelaskan bahwa fasilitas tersebut gratis. “Tadi soalnya saya sempat bertanya ini gratis apa bayar? Karena kan kursinya bagus ya,” tuturnya.
Pengunjung Monas lainnya, Lukita (64), mulanya juga menduga fasilitas chairlift berbayar. Karena itu, ia sempat bertanya berkali-kali kepada petugas. “Kalau saya sebenarnya masih kuat naik dan turun tangga ya. Apalagi kalau bareng cucu-cucu begini, malu kalau naik itu kan. Tapi infonya saya mau kasih tahu ke teman-teman,” kata Lukita. “Fasilitasnya bagus. Memang kalau tempat wisata sebaiknya ada fasilitas seperti ini untuk membantu yang kesulitan mobilitas,” tuturnya.












