Perasaan Tak Enak Dwi Murdiono Sebelum Jatuhnya Pesawat ATR 42-500
Dwi Murdiono, seorang teknisi pesawat ATR 42-500, mengalami perasaan tak enak sebelum terbang bersama pesawat yang akhirnya jatuh. Perasaan ini menjadi firasat bagi keluarga dan rekan-rekannya. Sang ayah, Bambang Muchwanto, menceritakan bahwa putranya sering merasa was-was setiap kali harus naik pesawat.
- Dwi Murdiono pernah bercerita bahwa ia trauma naik pesawat.
- Namun, karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak baik-baik saja, ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai teknisi pesawat.
- Bambang mencoba memberikan semangat kepada anaknya dengan berkata, “Mau gimana karena ekonomi tidak baik-baik saja, jalani saja. Mungkin itu rezekimu, Mas Dwi.”
Pesawat ATR 42-500 jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep-Maros, Sulawesi Selatan, pada hari Sabtu (17/1/2026). Dwi Murdiono menjadi satu dari sepuluh korban dalam kejadian ini. Statusnya sebagai engineer atau teknisi pesawat ATR 42-500 menunjukkan bahwa ia memiliki peran penting dalam operasi penerbangan tersebut.
Bambang Muchwanto, yang datang dari Kota Malang didampingi anak ketiganya, Tarmizi, sedang menjalani prosedur pencocokan DNA sebagai bagian dari proses identifikasi korban. Ia menahan air mata sambil menanti kabar tentang anaknya. Wajah muramnya menunjukkan rasa cemas dan harapan besar agar sang putra ditemukan.
Teka-teki Identitas Korban Kedua Pesawat ATR 42-500
Operasi pencarian dan penyelamatan jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung kembali diwarnai kabar duka. Di tengah medan ekstrem dan cuaca yang tidak bersahabat, tim SAR gabungan berhasil menemukan satu korban lagi. Penemuan ini menambah panjang daftar korban jiwa dari tragedi penerbangan yang mengguncang publik sejak akhir pekan lalu.
Korban kedua tersebut ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Informasi awal menyebutkan bahwa korban berjenis kelamin perempuan. Namun, identitasnya masih menjadi tanda tanya dan menunggu proses identifikasi resmi oleh tim berwenang.
Basarnas Konfirmasi Penemuan Korban Kedua
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, membenarkan penemuan tersebut. Pernyataan itu disampaikan di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar pada Senin, 19 Januari 2026.
“Telah ditemukan satu korban,” ujar Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii kepada wartawan di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Senin, 19 Januari 2026.
Penemuan ini menjadi titik penting dalam operasi SAR yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir, sekaligus mempertegas bahwa proses evakuasi masih terus berjalan.
Korban Ditemukan Sore Hari, Identitas Masih Misteri
Syafii menjelaskan bahwa korban ditemukan sekitar pukul 14.00 Wita. Berdasarkan laporan awal yang diterima dari tim di lapangan, korban berjenis kelamin perempuan. Namun demikian, pihak Basarnas menegaskan bahwa kepastian identitas belum bisa disampaikan kepada publik.
Proses identifikasi masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari tim Disaster Victim Identification (DVI), yang berwenang memastikan identitas korban secara ilmiah dan akurat.
“Nanti kepastian identitas disampaikan oleh DVI. Informasi awal yang kami terima, korban pertama berjenis kelamin laki-laki, dan korban kedua berjenis kelamin perempuan,” kata Syafii.
Medan Ekstrem Jadi Tantangan Utama Evakuasi
Korban kedua ditemukan di lokasi yang sangat sulit dijangkau. Medan di sekitar titik penemuan disebut sebagai salah satu area paling berbahaya di Gunung Bulusaraung. Tebing yang curam dan kondisi alam yang ekstrem membuat proses evakuasi tidak bisa dilakukan secara cepat.
Korban ditemukan di kedalaman sekitar 500 meter dari puncak gunung. Situasi ini menuntut kehati-hatian ekstra dari seluruh personel SAR yang bertugas.
“Lokasi berada di tebing yang sangat terjal. Kedalaman korban diperkirakan sekitar 500 meter dari puncak,” ujarnya.
Setiap langkah evakuasi dilakukan dengan perhitungan matang demi menghindari risiko tambahan, baik bagi korban maupun bagi tim penyelamat.
Basarnas Fokus Evakuasi, Identitas Belum Disampaikan
Syafii menegaskan bahwa hingga saat ini, Basarnas masih memusatkan perhatian penuh pada proses evakuasi. Identitas korban belum dapat diumumkan sebelum seluruh tahapan identifikasi selesai dilakukan oleh tim DVI.
Ia juga menekankan bahwa keselamatan seluruh personel SAR menjadi prioritas utama dalam operasi ini, mengingat medan dan cuaca yang masih menyimpan potensi bahaya.
Pencarian Diprioritaskan Lewat Jalur Udara
Sebelumnya, Basarnas telah menyampaikan bahwa operasi pencarian pesawat ATR 42-500 diprioritaskan melalui jalur udara. Langkah ini diambil untuk mempercepat pencarian di kawasan pegunungan yang sulit dijangkau lewat jalur darat.
“Prioritas kami adalah SAR menggunakan sarana udara,” kata Syafii.
Sejumlah pesawat dan helikopter telah dikerahkan sejak awal operasi. Upaya ini menjadi tulang punggung pencarian yang kini memasuki hari ketiga.
Penguatan Armada dan Antisipasi Cuaca Buruk
Operasi udara diperkuat dengan pengerahan pesawat Boeing untuk pengawasan dari udara, serta helikopter yang digunakan untuk menurunkan personel penyelamat langsung ke lokasi-lokasi sulit. Basarnas juga menyiapkan tambahan pesawat dari Surabaya. Selain itu, opsi modifikasi cuaca turut dipertimbangkan sebagai langkah antisipatif, mengingat kondisi cuaca buruk masih menyelimuti kawasan Gunung Bulusaraung.
Di tengah segala keterbatasan dan tantangan alam, operasi SAR terus berjalan, membawa harapan bagi keluarga korban dan publik yang menanti kejelasan akhir dari tragedi ini.












