Jembatan Mahulu Kembali Diuji Beban Pasca-Ditabrak Tongkang
Jembatan Mahulu, yang terletak di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, kembali menjalani uji beban setelah mengalami insiden tabrakan oleh kapal tongkang untuk ketiga kalinya. Uji ini dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Kaltim pada Rabu (4/2/2026). Pengujian ini menjadi pengujian kedua setelah sebelumnya dilakukan pada 17 Januari 2026 pasca-insiden pertama.
Insiden penabrakan oleh kapal tongkang terjadi sejak Desember 2025, dengan tiga kali kejadian berbeda. Kejadian pertama terjadi pada 23 Desember 2025, di mana tiga buah pelindung jembatan atau fender hilang tersapu arus Sungai Mahakam. Insiden kedua terjadi pada 4 Januari 2026 dini hari, saat salah satu struktur jembatan tertabrak hingga menyebabkan kerusakan pada pilar. Sementara itu, insiden ketiga terjadi pada 25 Januari 2026, ketika fender dan pilar di Pilar P9 dan P10 kembali tertabrak, meskipun secara visual tidak menunjukkan kerusakan serius.
Jembatan Mahulu memiliki panjang keseluruhan sekitar 799 meter dan menghubungkan kelurahan Loa Buah, Sungai Kunjang dengan kelurahan Sengkotek, Samarinda Seberang. Jembatan ini menjadi jalur utama kendaraan berat keluar masuk Kota Samarinda.
Uji Dinamis dan NDT Dilakukan untuk Memastikan Keamanan Struktur
Kepala Bidang Bina Marga DPUPR-PERA Kaltim, Muhammad Muhran, menjelaskan bahwa pengujian ini dilakukan sebagai respons terhadap insiden ketiga ditabrak oleh tongkang. “Kami melakukan kembali uji dinamis dan uji non destructive test (NDT) karena kejadian di tanggal 25 Januari 2026,” ujarnya.
Muhran menambahkan bahwa pengujian kali ini menggunakan tenaga ahli yang sama dengan pengujian sebelumnya. Meski ingin dilakukan sesegera mungkin, tim uji tengah berada di Ambon sehingga baru bisa dilaksanakan.
Hasil pengujian akan keluar dalam waktu seminggu dari pelaksanaannya. Muhran juga membeberkan hasil uji dinamis dan uji NDT pertama pada 17 Januari 2026 yang menunjukkan bahwa jembatan masih dalam kondisi aman. Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya tetap mengambil langkah kehati-hatian karena insiden ketiga.
Tim Ahli UGM Melakukan Evaluasi Mendalam
Proses evaluasi mendalam terhadap kondisi struktur Jembatan Mahulu Samarinda terus berlanjut. Tim ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan pengujian struktur pada Jembatan Mahulu, Rabu (4/2/2026).
Tenaga Ahli Struktur Universitas Gadjah Mada (UGM), Christopher Triyoso, menjelaskan bahwa pihaknya fokus melakukan pengujian getaran atau yang secara teknis disebut sebagai uji dinamik. “Kita akan melihat getaran pada jembatan tersebut memiliki frekuensi berapa. Jadi setiap struktur di dunia itu pasti memiliki suatu getaran, dan getaran itu berkaitan dengan kekakuan struktur tersebut,” jelas Christopher Triyoso saat ditemui di sela pengujian.
Dalam proses pengujian ini, tim menggunakan satu unit truk roda enam jenis Mitsubishi Canter dengan bobot sekitar delapan ton. Truk tersebut dijalankan melewati bidang kejut berupa plat besi dengan ketinggian sekitar 20 cm dari permukaan aspal, hentakan truk kemudian menghasilkan getaran mendadak pada struktur jembatan.
Pengujian difokuskan pada satu bentang yang berkaitan langsung dengan pilar jembatan yang sempat tertabrak tongkang. Christopher merujuk pada regulasi dari Surat Edaran Bina Marga untuk parameter kesehatan jembatan. Indikator utama yang digunakan adalah perbandingan antara nilai frekuensi saat ini dengan data pengujian sebelumnya.
Hasil Analisis Akan Menjadi Dasar Rekomendasi
Data yang telah dihimpun dari lapangan tidak bisa langsung disimpulkan secara instan karena membutuhkan waktu analisis yang cukup detail. “Kira-kira seminggu untuk kita memproses datanya,” pungkas Christopher.
Hasil dari analisis frekuensi dan pemodelan 3D ini nantinya akan menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah daerah untuk menentukan langkah selanjutnya di Jembatan Mahulu. Masyarakat diharapkan bersabar menanti status final dari kelayakan jembatan tersebut.












