Kesuksesan Jason Putra di Olimpiade Matematika Internasional
Matematika sering kali dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan bagi banyak siswa. Namun, bagi Jason Putra, angka-angka adalah bahasa yang membawanya terbang ke podium juara. Siswa SMAN 5 Surabaya ini sukses meraih Silver Award for Excellent Achievement pada Final Round Fermat Mathematical Olympiad (FMO) 2025–2026 di Vietnam. Sebelumnya, ia juga berhasil meraih medali emas di Southeast Asia Mathematics Olympiad (SEAMO). Dua penghargaan internasional dalam waktu dua minggu, sebuah pencapaian yang lahir dari pola belajar yang terstruktur dan disiplin.
Lebih dari Sekadar Menghitung
Banyak orang mengira olimpiade matematika hanya soal hitung-hitungan cepat. Padahal, kompetisi seperti FMO menuntut logika mendalam, kreativitas, dan kemampuan membaca soal berbahasa Inggris dengan presisi tinggi. Jason Putra Hendrata, yang turun di kategori Secondary (kelas 10), menjelaskan bahwa setiap ajang memiliki karakteristik berbeda. “Yang beda itu standarnya. Semua pakai bahasa Inggris dan level soalnya benar-benar olimpiade,” ujarnya. Kompetitornya pun tidak main-main, karena peserta berasal dari berbagai negara seperti Uzbekistan, Tajikistan, hingga Rusia.
Kunci Sukses Jason Putra yang Bisa Ditiru
Berikut tiga pola belajar yang menjadi fondasi keberhasilan Jason, sekaligus bisa menjadi tips belajar olimpiade matematika bagi siswa lain:
-
Memahami Logika, Bukan Menghafal Rumus

Alih-alih menghafal rumus, Jason fokus memahami konsep dasar dan pola soal. Ia memanfaatkan waktu satu bulan persiapan untuk mempelajari past papers dan mengenali karakter soal tiap kompetisi. Dengan cara itu, ia tidak kaget saat bertemu model soal yang kompleks. Logika menjadi pegangan utama, bukan hafalan semata. -
Konsisten Berlatih Setiap Hari
Jason tidak belajar hanya saat mendekati lomba. Ia membiasakan diri berlatih rutin sekitar 1–2 jam per hari. Menjelang kompetisi, intensitasnya meningkat. Konsistensi ini yang membuat kemampuannya terus terasah, bukan sekadar naik turun mengikuti musim lomba. -
Mengelola Stres dan Language Barrier
Kompetisi internasional juga menghadirkan tantangan bahasa. Jason mengakui ada hambatan komunikasi yang harus dihadapi. Namun, ia tetap tenang dan memecah persoalan menjadi bagian kecil. Fokus kembali ke konsep dasar menjadi cara efektif untuk menghindari panik.
Pentingnya Keseimbangan (Work-Life Balance)
Di balik gelar juara, Jason tetaplah remaja biasa. Ia aktif dalam kegiatan pramuka dan tetap menjalani kehidupan sekolah seperti siswa lainnya. Saat musim olimpiade tiba, ia menyesuaikan prioritas tanpa meninggalkan komitmen sepenuhnya. Keseimbangan ini membuatnya tidak mudah terbebani ekspektasi. Ia juga berbagi pesan sederhana bagi pelajar lain: “Pesannya ya jangan terlalu terpaku sama nilai dan membandingkan diri dengan orang lain. Karena yang bisa menilai diri kita ya diri kita sendiri.”
Dukungan Sekolah dan Keluarga
Dukungan dari sekolah dan keluarga menjadi faktor penting dalam kesuksesan Jason. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 5 Surabaya, Agus Widodo, menegaskan komitmen sekolah dalam mendukung bakat siswa. “Tentu yang kami utamakan sesuai dengan pendidikan berjenjang, tapi tidak menutup kemungkinan menampung semua talent anak-anak. Terbukti banyak piala dari luar negeri, hampir dua minggu kami memberikan penghargaan kepada mereka,” tutup Agus Widodo.
Kesimpulan
Kisah Jason Putra Surabaya membuktikan bahwa prestasi di olimpiade matematika internasional bukan semata soal bakat. Di balik medali perak dari Vietnam dan emas dari Bali, ada disiplin 1–2 jam latihan setiap hari, pemahaman logika yang kuat, strategi menghadapi soal sulit, serta dukungan keluarga dan sekolah. Dengan pola belajar yang terstruktur dan konsisten, siapa pun bisa mencapai prestasi yang luar biasa.












