Ramalan Ekonomi 2026: Angka 5,2 Persen Terwujud di Tengah Badai Global

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada 2026

Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berada dalam kisaran 5,2 persen. Proyeksi ini didasarkan pada kondisi ekonomi yang stabil dan momentum positif yang terus berlanjut dari tahun sebelumnya.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar 5,03 persen yoy. Penguatan terutama terlihat pada triwulan IV 2025, di mana pertumbuhan mencapai 5,39 persen yoy, menjadi laju tertinggi sejak triwulan III 2022. Hal ini menunjukkan bahwa momentum ekonomi semakin membaik di akhir tahun.

Kinerja tersebut menunjukkan daya tahan permintaan domestik yang tetap solid di tengah ketidakpastian global. Hal ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang terjaga serta aktivitas investasi yang menguat. Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini sepanjang 2026, menjaga stabilitas makroekonomi menjadi prasyarat utama.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyampaikan bahwa capaian di atas 5 persen mencerminkan fondasi pertumbuhan yang semakin seimbang. Menurutnya, pertumbuhan 2025 menegaskan bahwa permintaan domestik masih menjadi jangkar utama. Di sisi lain, lonjakan investasi, khususnya pada mesin dan peralatan, menunjukkan bahwa dunia usaha mulai meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi kebutuhan masa depan sekaligus merespons peluang pasar yang membaik.

Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi yang Menguat

Sebagai kontributor terbesar PDB, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11 persen yoy pada triwulan IV 2025, meningkat dari 4,89 persen pada triwulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh mobilitas dan belanja musiman selama periode Natal dan Tahun Baru, serta peningkatan transaksi ritel daring dan dukungan distribusi bantuan sosial tunai pemerintah pada akhir tahun.

Secara keseluruhan, konsumsi rumah tangga sepanjang 2025 tumbuh 4,98 persen, sedikit lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya, menegaskan ketahanan daya beli masyarakat.

Sementara itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) meningkat menjadi 6,12 persen yoy pada triwulan IV 2025 dari 5,04 persen pada triwulan sebelumnya. Sepanjang tahun, investasi tumbuh 5,09 persen, naik dari 4,61 persen pada 2024. Akselerasi ini terutama berasal dari investasi mesin dan peralatan yang melonjak tajam, baik pada akhir tahun maupun secara kumulatif tahunan, mencerminkan meningkatnya keyakinan pelaku usaha dan rencana ekspansi produksi.

Belanja Pemerintah dan Dinamika Eksternal

Belanja pemerintah tumbuh 4,55 persen yoy pada triwulan IV 2025. Namun secara tahunan, pertumbuhannya melambat menjadi 2,50 persen akibat tingginya basis belanja pada periode pemilu tahun sebelumnya serta pergeseran fokus kebijakan untuk mendorong konsumsi dan investasi.

Dari sisi eksternal, pertumbuhan ekspor pada triwulan IV 2025 melambat menjadi 3,25 persen yoy setelah sebelumnya terdorong percepatan pengiriman menjelang perubahan kebijakan tarif perdagangan global. Sementara itu, impor meningkat 3,96 persen yoy, sejalan dengan kebutuhan bahan baku dan barang modal yang lebih tinggi.

Di tengah dinamika tersebut, ketahanan eksternal Indonesia tetap ditopang oleh surplus perdagangan yang masih terjaga. Meski begitu, prospek ekspor 2026 perlu mencermati perubahan kebijakan dagang global dan permintaan dari mitra dagang utama.

Sektor Ekonomi yang Berkontribusi

Secara lapangan usaha, industri pengolahan sebagai penyumbang terbesar PDB tumbuh 5,40 persen yoy pada triwulan IV dan 5,30 persen sepanjang 2025. Perdagangan menguat menjadi 6,10 persen yoy pada triwulan IV, didorong oleh permintaan domestik yang stabil dan pemulihan perdagangan otomotif.

Sektor pertanian juga membaik, didorong oleh peningkatan produksi peternakan dan perikanan untuk mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Aktivitas mobilitas masyarakat membuat transportasi dan pergudangan serta jasa lainnya mencatat pertumbuhan tertinggi pada triwulan IV 2025.

Sebaliknya, pertambangan masih tertekan akibat pelemahan ekspor batu bara dan gangguan produksi di sejumlah lokasi.

Proyeksi 2026 dan Faktor yang Perlu Dicermati

PIER memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,1–5,2 persen pada 2026. Potensi peningkatan menuju 5,2–5,3 persen terbuka apabila tekanan eksternal mereda dan reformasi struktural semakin memperkuat keyakinan pelaku usaha serta konsumen.

Dalam proyeksi tersebut, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi diperkirakan tetap menjadi penopang utama. Namun, volatilitas pasar keuangan global serta dinamika perdagangan dunia menjadi faktor yang perlu dicermati.

Kebijakan Moneter dan Fiskal yang Koordinasi

PIER menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter masih terbuka secara terbatas pada 2026, seiring inflasi inti yang relatif terjaga dan prospek penurunan suku bunga global yang lebih gradual. Namun, tekanan harga pangan yang bersifat musiman serta risiko dari pelemahan nilai tukar perlu diantisipasi agar inflasi tetap terkendali.

Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengelola volatilitas pasar, dan mempertahankan persepsi risiko yang sehat bagi pasar keuangan domestik, sekaligus memastikan transmisi kebijakan ke pembiayaan sektor produktif berjalan efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *