Sejarah Usaha Marning Keluarga Mbah Maryam dan Waluyo
Di Desa Bukit Barisan, Kepahiang, Mbah Maryam dan Waluyo telah mengelola usaha marning sejak tahun 1979. Usaha rumahan ini menjadi sumber penghidupan keluarga selama hampir 47 tahun. Proses pembuatan marning memakan waktu sekitar lima hari dan menghasilkan sekitar 25 kilogram per hari. Varian rasa yang tersedia meliputi original, bawang, pedas manis, balado, keju, dan cokelat. Harga jual berkisar antara Rp10.000 hingga Rp20.000 per bungkus.
Awal Mula Usaha Marning
Usaha ini berawal dari proses belajar yang tidak instan. Waluyo sempat berguru kepada seorang perajin marning bernama Mbah Pariem sebelum akhirnya membuka usaha sendiri. “Awalnya dulu ikut dan belajar membuat jagung marning dengan Mbah Pariem. Setelah sudah punya modal, saya buat usaha ini,” ujarnya.
Kini, di usia yang tak lagi muda, Waluyo dan Maryam memproduksi sekitar 25 kilogram marning setiap hari. Jumlah tersebut menyesuaikan dengan kemampuan fisik keduanya. “Kami berdua hanya mampu buat sekitar 25 kilogram sehari,” ujar Waluyo.
Proses Pembuatan Marning
Proses pembuatan marning tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan, terlebih sebagian besar tahapan masih mengandalkan panas matahari. “Dalam proses pembuatan marning sampai pengemasan butuh waktu sekitar lima hari, tergantung kondisi cuaca saat penjemuran,” jelas Waluyo.
Jagung yang digunakan berasal dari hasil panen petani sekitar desa. Setelah dipilih, jagung dijemur hingga kering, lalu direbus dua kali selama dua jam dengan air yang diganti setiap perebusan. “Prosesnya itu jagung yang kami dapat dari hasil panen petani sekitar sini dijemur dulu hingga kering, kemudian direbus dua kali per dua jam dan diganti airnya. Setelah itu baru dicuci,” beber Waluyo.
Setelah dicuci bersih, jagung kembali dijemur selama dua hingga tiga hari sampai benar-benar kering. Barulah kemudian digoreng dan dicampur bumbu sesuai varian rasa. “Setelah bersih dicuci terus dijemur kembali selama dua sampai tiga hari hingga kering, baru kemudian digoreng dan dicampur dengan bumbu sesuai varian rasanya,” ungkap Waluyo.
Varian Rasa dan Harga Terjangkau
Beragam rasa ditawarkan untuk memenuhi selera konsumen, mulai dari original, bawang, pedas manis, balado, keju, hingga cokelat. “Varian rasanya itu ada rasa original, bawang, pedas manis, balado, keju dan rasa coklat,” terang Waluyo.
Harga jualnya pun terjangkau, berkisar antara Rp10.000 hingga Rp20.000 per bungkus, tergantung ukuran dan varian rasa. “Jualnya dari Rp10.000 sampai Rp20.000 per bungkus, tergantung ukuran dan varian rasanya,” jelas Waluyo.
Pelanggan dari Berbagai Daerah
Soal keuntungan, Waluyo mengaku tidak pernah menghitungnya secara rinci. Baginya, yang terpenting usaha tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Hasil penjualannya tidak saya hitung sebenarnya, cukup untuk makan sehari-hari dan uang sekolah anak,” katanya dengan senyum sederhana.
Pelanggan mereka datang dari berbagai daerah, seperti Rejang Lebong, Lubuk Linggau, hingga Kota Bengkulu. Sebagian bahkan menjadi pelanggan tetap yang rutin memesan. “Pembeli kita macam-macam, ada dari Curup, Linggau dan Bengkulu yang rutinnya,” tutur Waluyo.
Cara Mendapatkan Marning Buatan Tangan
Bagi masyarakat yang ingin mencicipi gurihnya jagung marning buatan tangan Waluyo dan Maryam, dapat langsung datang ke kediaman mereka di Desa Bukit Barisan RT 1. Usaha ini buka setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 21.00 WIB. “Jika berminat bisa datang langsung ke tempat kami di Desa Bukit Barisan RT satu. Kita buka setiap hari dari jam 05.00 sampai 21.00 WIB atau hubungi nomor saya 082180523269,” pungkas Waluyo.










