Kenaikan Harga Minyak Mentah Memicu Tekanan pada Kebijakan BBM Nasional
Harga minyak mentah dunia yang kini mendekati 93 dolar AS per barel menimbulkan tekanan signifikan terhadap kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Praktisi migas, Hadi Ismoyo, mengatakan bahwa lonjakan harga energi global ini mempersempit ruang gerak pemerintah dalam menjaga stabilitas harga BBM.
Saat ini, harga minyak jauh melampaui asumsi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Hal ini menempatkan pemerintah dan PT Pertamina (Persero) pada situasi sulit antara harus menahan harga BBM atau menambah beban subsidi energi.
“Harga sudah melambung ke 93 dolar AS per barel, sementara asumsi pemerintah di angka 70 dolar AS per barel. Berat bagi Pertamina jika tidak ada penyesuaian harga atau penambahan pagu subsidi BBM tanpa menaikkan harga. Di sisi lain ruang fiskal juga sempit. Pilihan ini sangat sulit,” ujar Hadi kepada media.
Menurutnya, sebagai perusahaan energi, Pertamina beroperasi dengan prinsip bisnis yang mempertimbangkan biaya bahan baku. Kenaikan harga minyak mentah akan memengaruhi biaya produksi bahan bakar yang dipasarkan di dalam negeri. Kondisi tersebut membuat perusahaan tidak dapat sepenuhnya menahan dampak kenaikan harga energi global tanpa dukungan kebijakan pemerintah.
“Pertamina adalah korporasi sehingga ketika bahan baku naik, otomatis produk juga harus menyesuaikan. Prinsip bisnisnya seperti itu. Tinggal kenaikan ini mau diserap di mana dan oleh siapa,” tambah tokoh yang juga bagian dari Dewan Penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia periode 2025–2028 tersebut.
Opsi Pemerintah untuk Mengurangi Beban Subsidi
Hadi menilai pemerintah memiliki opsi menahan tekanan kenaikan harga BBM melalui penambahan pagu subsidi energi. Langkah tersebut dapat ditempuh dengan melakukan penyesuaian prioritas belanja negara agar dampak kenaikan harga energi tidak langsung dirasakan masyarakat.
“Cara yang tidak membebani masyarakat adalah menambah pagu subsidi dengan melakukan peninjauan kembali APBN. Pemerintah bisa menggunakan skala prioritas untuk memangkas atau menunda program yang tidak mendesak,” katanya.
Dalam jangka menengah hingga panjang, ia menilai pemerintah perlu memperkuat program konversi energi. Program konversi BBM ke gas serta konversi sepeda motor ke kendaraan listrik dinilai dapat menekan kebutuhan subsidi energi.
Selain itu, Hadi juga menilai peningkatan eksplorasi migas di sektor hulu perlu didorong lebih masif. Penugasan kepada Pertamina untuk memperluas kegiatan eksplorasi dinilai penting guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Dampak Konflik Timur Tengah pada Harga Minyak
Lonjakan harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir juga disoroti Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas), Elan Biantoro. Ia mengamati gejolak harga energi global meningkat setelah eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Harga minyak mentah yang sekitar dua pekan lalu masih berada pada kisaran 65 hingga 67 dolar AS per barel kini melonjak hingga kisaran 83 dolar AS sampai mendekati 90 dolar AS per barel. Pergerakan harga tersebut dinilai berpotensi terus meningkat apabila eskalasi konflik tidak mereda.
“Ya, seperti yang kita amati beberapa hari terakhir memang gejolak ini sudah memberikan dampak yang sangat signifikan terkait dengan harga,” kata Elan.
Ia memandang tren kenaikan harga minyak bahkan berpeluang menembus 100 dolar AS per barel apabila konflik berlanjut. Situasi tersebut pernah terjadi saat pecahnya perang Rusia dan Ukraina yang mendorong harga minyak global melampaui level 100 dolar AS per barel.
Kekhawatiran Terhadap Rantai Pasok Energi Global
Ketegangan di Timur Tengah juga memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasok energi global. Salah satu titik yang dipantau pasar energi adalah jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dunia.
“Tidak mustahil juga untuk mencapai lebih dari 100 dolar. Itu pernah terjadi saat shock perang Rusia dan Ukraina di awal, yang juga mendorong harga minyak hingga di atas 100 dolar per barel,” ujar Elan.
Konflik yang berkepanjangan berpotensi memicu tekanan lanjutan pada harga energi global. Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi stabilitas biaya energi dan perekonomian nasional.












