Damkar: Kerugian Kebakaran Lebih Mahal daripada Harga APAR



jateng.

SEMARANG – Kerugian yang ditimbulkan oleh kebakaran jauh lebih besar dibandingkan harga alat pemadam api ringan (APAR), mengingat insiden terbakarnya sepeda motor Yamaha F1Z R di sebuah SPBU di Kota Semarang.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa penggunaan APAR sangat penting dalam situasi darurat. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang, Sih Rianung, menyampaikan hal tersebut setelah kejadian kebakaran pada sepeda motor Yamaha F1Z R di SPBU 44.502.07 Tegalsari, Jalan Sriwijaya, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Saat itu, petugas pom bensin baru bisa memadamkan kendaraan roda dua setelah mendapat izin dari manajer SPBU Pertamina. Padahal, pemilik sepeda motor telah meminta izin untuk menggunakan APAR yang bisa digunakan siapa pun dalam keadaan darurat.

Rianung juga menyoroti anggapan bahwa pengadaan APAR mahal. Menurutnya, biaya alat jauh lebih kecil dibandingkan kerugian akibat kebakaran.

“Harga APAR sekitar Rp 1,5 juta sampai Rp2 juta. Isi ulangnya pun relatif murah, sekitar Rp60 ribu per kilogram. Yang mahal itu kerugian akibat kebakaran, bukan alatnya,” katanya ditemui di Kantor Damkar Kota Semarang, Senin (6/4).

Ia menyampaikan keprihatinan atas peristiwa tersebut karena menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Menurutnya, insiden itu seharusnya bisa diminimalkan apabila petugas Pom Bensin milik Pertamina tanggap dalam penanganan awal kebakaran.

“Yang pertama saya prihatin. Setiap kejadian kebakaran pasti menimbulkan kerugian. Kami turut prihatin kepada masyarakat yang terdampak, mohon tabah,” ujarnya.

Seusai kejadian, Damkar menginspeksi untuk mengevaluasi kesiapsiagaan di lokasi. Hasilnya, ditemukan bahwa kecepatan respons awal masih perlu ditingkatkan oleh pengelola SPBU.

Menurut Rianung, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci dalam menghadapi situasi darurat, baik dalam upaya pencegahan maupun pemadaman kebakaran.

Dia juga menekankan kepekaan petugas Pom Bensin terhadap potensi bahaya. Keberadaan alat pemadam api ringan (APAR) harus diimbangi dengan kemampuan penggunaan yang benar.

“Petugas harus tahu cara membuka, mengarahkan hingga menyemprot APAR dengan tepat. Jangan sampai api dibiarkan karena kurang peka. Api kecil kalau didiamkan akan membesar dan makin sulit dipadamkan,” ujarnya.

Pihaknya terus mengedepankan upaya pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat, termasuk sejak usia dini. “Fokus utama kami sebenarnya pencegahan, bukan pemadaman,” ujarnya.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, dan CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Tengah dan DIY Taufik Kurniawan telah mengambil langkah cepat menyikapi insiden yang terjadi pada Jumat (3/4) kemarin.

Dia mengatakan SPBU Sriwijaya ditutup sementara selama dua hari untuk pembekalan dan pembinaan terhadap operator, khususnya terkait aspek keselamatan (HSSE) dan peningkatan respons cepat dalam penanganan kebakaran pada fase krusial (golden time).

“Penutupan ini juga untuk perbaikan sarana dan prasarana, baik dari sisi keselamatan maupun fasilitas lain yang perlu dibenahi,” ujarnya.

Selama penutupan, masyarakat diarahkan untuk mengisi bahan bakar di SPBU terdekat, yakni SPBU Veteran dan SPBU Coco Ahmad Yani dengan jaminan ketersediaan stok BBM dalam kondisi aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *