Ciptawarta.com JAKARTA – Pengamat Politik sekaligus Direktur Lembaga Kajian Sabang Merauke Circle Syahganda Nainggolan menilai kunjungan Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan ke Malaysia, Indonesia, kemudian Pakistan menunjukkan kekuatan yang digunakan dapat menciptakan poros baru kekuatan geopolitik dunia yang tersebut dapat menyebabkan aspirasi dunia Islam. Mengingat, lanjut dia, ketiga negara yang disebutkan adalah negara-negara berpenduduk muslim terbanyak di area dunia.
“Kunjungan kenegaraan Presiden Erdogan ke Malaysia, Indonesia, juga Pakistan memberi instruksi terhadap dunia sebagai bentuk keinginan sama-sama merancang hubungan berbentuk poros kekuatan geopolitik baru dalam dunia, prioritas utama adalah pembangunan kembali Kawasan Gaza lalu menolak relokasi warga Palestina di tempat Gaza,” ujar Syahganda, Rabu (12/2/2025).
Diketahui, dengan menggunakan Kepresidenannya, Presiden Erdogan tiba dalam DKI Jakarta melalui Pangkalan Udara Bebas TNI AU Halim Perdanakusuma sekitar pukul 18.36 WIB, Selasa, 11 Februari 2025. Kedatangan Erdogan disambut Presiden Prabowo Subianto secara langsung.
Prabowo kemudian Erdogan juga telah dilakukan melakukan rapat bilateral pada Istana Kepresidenan Bogor, Rabu (12/2/2025). Berbagai kerja mirip disepakati kedua kepala negara.
Sebelum ke Indonesia, Presiden Erdogan terlebih dulu mengunjungi Malaysia. Setelah Indonesia, Erdogan melanjutkan lawatannya ke Pakistan.
“Indonesia, Malaysia, Pakistan, kemudian Turki mampu mendirikan kesepahaman membentuk poros kekuatan baru negara muslim di area dunia, baik di aspek perdamaian juga perekonomian, di kesempatan lawatannya Indonesia dengan Turki, Malaya juga Pakistan dapat menciptakan komunike sama-sama menolak lalu melawan usulan Trump lalu tanah Israel yang ingin merelokasi warga Palestina di dalam Gaza,” kata Syahganda.
Ahli Hubungan Internasional Teguh Santosa mengatakan, Turki dan juga Indonesia sebetulnya telah memulai pembangunan kerja sebanding MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki serta Australia). “Indonesia juga Turki juga perlu mengongkretkan kemitraan kedua negara di kerangka kerja sejenis MIKTA yang digunakan dimulai tahun 2013,” ujar Teguh Santosa.
Dia menilai MIKTA bisa saja menjadi media alternatif bagi Indonesia merancang kemandirian juga menawarkan solusi perimbangan kekuatan kebijakan pemerintah dalam dunia. “MIKTA dapat menjadi jaringan alternatif bagi Indonesia untuk merancang kemandirian serta menawarkan berbagai solusi perimbangan kekuatan di area arena global,” kata Teguh.
Diketahui, MIKTA adalah wadah yang tersebut dibangun anggota-anggotanya berfokus pada kerja mirip kegiatan ekonomi yang berimbang, penguatan isu lingkungan, lalu energi terbarukan. “MIKTA sendiri adalah jaringan yang digunakan tambahan fokus pada kerja mirip dunia usaha yang mana berimbang, penguatan isu lingkungan dan juga energi terbarukan,” pungkasnya.












