Ancaman Nyata dari Jakarta Utara

Kondisi Pesisir Jakarta Kembali Mendapat Perhatian

Kondisi pesisir Jakarta kembali menjadi perhatian setelah air laut di Pantai Mutiara terlihat hampir setinggi tanggul yang melindungi kawasan tersebut. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan ancaman rob yang semakin meningkat akibat kombinasi gelombang tinggi, penurunan permukaan tanah, dan cuaca ekstrem.

Situasi ini juga menunjukkan kerentanan infrastruktur perlindungan pesisir Jakarta, meskipun tanggul telah diperbaiki setelah jebol pada 2016. Pemerintah pusat dan provinsi kini menghadapi tekanan untuk mempercepat pembangunan tanggul yang lebih kuat sebelum risiko menjadi bencana besar.

Kebocoran Tanggul dan Respons Pemerintah

Video kebocoran tanggul Pantai Mutiara pada Sabtu (22/11/2025) memicu perhatian publik setelah diunggah ke Instagram akun @nikoatmaja. Niko menyebut titik kebocoran berada di kolam renang fasilitas umum kawasan perumahan tersebut. Dalam video, air laut tampak merembes dari bagian bawah tanggul yang mulai retak dan menimbulkan genangan tipis.

Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta telah meninjau lokasi setelah video itu viral. “Merespons informasi di sosial media soal tanggul rembes di Pantai Mutiara, Dinas SDA DKI Jakarta saat ini sudah dilakukan survei lapangan,” ujar Ketua Subkelompok Perencanaan Bidang Pengendalian Rob dan Pengembangan Pesisir Pantai, Alfan Widyastanto.

Dinas SDA juga memetakan tanggul-tanggul lain yang berpotensi mengalami rembes atau kebocoran. Untuk Pantai Mutiara, perbaikan sedang dalam tahap perencanaan. “Untuk tanggul di Pantai Mutiara, Dinas SDA DKI Jakarta saat ini sedang melaksanakan tahap perencanaan dengan elevasi tanggul yang akan lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi tanggul saat ini,” kata Alfan.

Kekhawatiran Warga tentang Tanggul yang Makin Rentan

Warga Pantai Mutiara menyebut air laut kini lebih sering sejajar bahkan hampir melampaui tanggul setinggi satu meter, terutama setelah cuaca buruk melanda. Jalan di kawasan perumahan pun menjadi becek akibat lompatan gelombang.

“Ya, kayaknya baru-baru sekarang setinggi ini. Kalau melebihi tembok enggak pernah, tapi kalau sejajar mungkin iya kalau musim mau hujan gitu,” kata Endang (41). Ketebalan tanggul yang hanya sekitar 10–15 sentimeter membuatnya dianggap mudah terkikis ombak.

“Ada kekhawatiran takut jebol dan air laut tumpah ke daratan berpotensi membuat Jakarta tenggelam,” ujar Udin (40).

Risiko Rob yang Meningkat karena Penurunan Permukaan Tanah

Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahardiansyah menilai penurunan permukaan tanah akibat pembangunan gedung bertingkat menjadi faktor penting yang memperparah kondisi pesisir. “Bahkan, di wilayah utara itu per tahun rata-rata bisa 20 sentimeter turunnya. Nah, itu yang menyebabkan airnya jadi lebih tinggi,” ucap Trubus.

Menurutnya, jika tanggul jebol, dampak dapat meluas hingga puluhan kilometer. Kombinasi hujan deras, pasang tinggi, dan air kiriman dari Bogor disebut berpotensi membuat wilayah Jakarta tenggelam. Trubus juga menilai perhatian pemerintah lebih banyak tertuju pada pusat kota, sementara pembangunan tanggul pesisir masih tertinggal.

Pelajaran dari Jebolnya Tanggul Tahun 2016

Pada 3 Juni 2016, tanggul Pantai Mutiara pernah jebol akibat pasang tinggi dan erosi tanah di bawah struktur jembatan. Sebanyak 124 rumah terendam hingga dua meter. Pemerintah saat itu harus membangun tanggul baru setinggi 2,5 meter dengan ketebalan 40–50 sentimeter, namun kondisi saat ini kembali menunjukkan bahwa air laut masih bisa mencapai ketinggian tanggul.

Dinas SDA menyebut tingginya gelombang pada awal November 2025 membuat air laut melompat ke daratan. “Pada kondisi pasang normal, posisi air laut masih sedikit di bawah tanggul eksisting, namun pada kondisi pasang tinggi posisi lompatan gelombang air laut bisa melewati tanggul eksisting,” jelas Sekdis SDA DKI, Nugraharyadi.

Rencana Pembangunan Tanggul NCICD dan Kesiapan Jakarta

Pemerintah menyiapkan proyek NCICD (National Capital Integrated Coastal Development) bersama Kementerian Pekerjaan Umum untuk memperkuat pertahanan pantai. “Melalui Dinas SDA DKI Jakarta saat ini sedang dilaksanakan tahap perencanaan dengan elevasi tanggul yang akan lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi tanggul saat ini,” ujar Nugraharyadi.

Pembangunan NCICD tercantum dalam nota kesepakatan antara Pemprov DKI dan Kementerian PUPR. Detail desain masih dikaji karena pemerintah ingin tanggul yang benar-benar kuat dan aman. “Untuk detail dimensi tanggul sedang dikaji oleh Konsultan Perencana,” ujarnya.

Namun proyek ini membutuhkan biaya besar dan harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. “Harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” terang Nugraha.

Peringatan Ahok dan Respons Pemprov Jakarta

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memperingatkan potensi banjir besar jika tanggul Pantai Mutiara jebol. “Jika (tanggul Pantai Mutiara) jebol air laut pasang dan hujan turun, bisa banjir sampai Monas,” kata Ahok.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berharap prediksi tersebut tidak terbukti. “Tanggapannya sederhana, mudah-mudahan Pak Ahok salah,” ujarnya. “Mudah-mudahan Pak Ahok salah.”

Ahok juga menjelaskan langkah normalisasi Waduk Pluit yang ia lakukan selama dua tahun masa jabatannya untuk mengendalikan banjir dan mencegah risiko besar jika tanggul pesisir jebol. “Itu yang saya kerjakan di Waduk Pluit agar warga di bantaran Waduk Pluit tidak mati jika jebol (tanggul laut di Pantai Mutiara),” ujar Ahok.

Efektivitas NCICD dan Tantangan Penanganan Rob

Trubus menilai NCICD hanya mampu meminimalkan risiko rob, bukan menyelesaikan masalah. “Efektif sih enggak, paling meminimalkan, kalau efektif ya Giant Sea Wall. Sampai sekarang cuma wacana, enggak ada yang mau nanggung toh dari mana duitnya,” ucapnya.

Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan strategi tambahan, termasuk edukasi evakuasi bagi warga pesisir jika tanggul jebol sewaktu-waktu. Kebocoran tanggul Pantai Mutiara dan kondisi air laut yang bahkan lebih tinggi daratan menunjukkan bahwa Jakarta semakin rentan terhadap ancaman rob. Dengan penurunan tanah yang terus berlangsung dan gelombang pasang yang meningkat, pembangunan tanggul yang lebih kuat serta perencanaan jangka panjang menjadi kebutuhan mendesak. Situasi ini menegaskan pentingnya strategi terpadu untuk melindungi kawasan pesisir dan mencegah dampak sosial-ekonomi yang jauh lebih besar bagi Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *