JAKARTA — Sejak 15 Agustus 1995, India telah menjalankan program makan bergizi gratis yang dikenal sebagai Mid-Day Meal Scheme. Setelah berjalan selama tiga dekade, program ini menjadi salah satu referensi bagi banyak negara, termasuk Indonesia, dalam mengembangkan kebijakan serupa untuk anak-anak sekolah.
Pada April 2024, Gibran Rakabuming Raka, yang saat itu baru saja terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, melakukan pertemuan dengan Duta Besar India untuk Indonesia, Shandeep Chakravorty. Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai topik, termasuk program makan bergizi gratis (MBG), kesehatan, bioteknologi, dan pertanian.
Gibran menyatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan skema terbaik dengan belajar dari negara-negara lain yang sudah menjalankan program ini. Ia menekankan pentingnya memahami dampak program tersebut terhadap anak-anak, cara distribusi logistik, serta peran ahli gizi dalam penyediaan makanan.
Setelah pemerintahan Prabowo-Gibran berjalan, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana juga menyampaikan bahwa sebelum program MBG dijalankan, Menteri Luar Negeri Sugiono telah membidik India sebagai mitra kerja sama dalam pengembangan program makan bergizi.
Menurut Dadan, Sugiono pernah berkunjung ke India dan menemukan adanya peluang kerja sama, meskipun belum ada pembahasan teknis lebih lanjut.
Bagaimana sebenarnya program makan bergizi gratis berjalan di India selama 30 tahun terakhir?
Pada 15 Agustus 2025, pemerintah India meluncurkan National Programme of Nutritional Support to Primary Education (NP-NSPE), yang dikenal sebagai Mid-Day Meal Scheme. Program ini bertujuan meningkatkan kehadiran anak-anak di sekolah sambil memperbaiki kualitas gizinya.
Awalnya, program makan bergizi gratis sudah ada sejak 1925, namun hanya dalam skala kecil. Pada 1995, program ini resmi menjadi nasional dan mulai diterapkan secara luas pada 1997—1998. Pada 2002, cakupannya diperluas hingga mencakup berbagai segmen anak-anak.
Pada November 2001, Mahkamah Agung India memerintahkan negara bagian untuk menyediakan makanan matang di semua sekolah dasar yang dibiayai pemerintah. Hal ini mempercepat perluasan program.
Awalnya, bantuan pemerintah pusat dalam skema Mid-Day Meal adalah pasokan biji-bijian seperti beras dan gandum 100 gram per anak per hari. Namun, seiring waktu, program ini direvisi agar makanan memiliki kandungan 300 kalori dan 8—12 gram protein.
Pada 2007, program ini diperluas lagi, dengan memberikan makanan kepada anak-anak kelas VI—VIII di daerah terbelakang. Nilai kalori meningkat menjadi 700 kalori dan 20 gram protein.
Sejak 2009, revisi lain dilakukan untuk memastikan pola makan seimbang, termasuk peningkatan porsi kacang-kacangan dan sayuran, serta pengurangan minyak dan lemak.
Kini, program makan bergizi gratis India dikenal dengan nama Pradhan Mantri Poshan Shakti Nirman (PM-Poshan).
Peluang dan Tantangan
Meski memiliki manfaat signifikan, program PM-Poshan juga menghadapi tantangan. Pada 2013, terjadi kasus kontaminasi minyak di Bihar, serta temuan makanan tidak segar dan kondisi dapur yang kurang higienis.
Selain itu, inflasi tinggi di India pada 2023—2024 memengaruhi kualitas bahan pangan. Inflasi pangan naik rata-rata 6,3% antara Juni 2020 dan Juni 2024, dibandingkan 2,9% dalam empat tahun sebelumnya.
Kurangnya penyesuaian anggaran menyebabkan beberapa sekolah mengurangi porsi sayur atau buah, atau mengganti bahan makanan dengan yang lebih murah. Ekonom independen, Dipa Sinha, menyatakan bahwa meskipun biji-bijian gratis, hal ini tidak cukup untuk mengganti bahan-bahan bergizi lainnya.
Namun, program ini juga membawa peluang. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengikuti program makan bergizi gratis selama lima tahun meningkatkan nilai ujian membaca sebesar 18% dan matematika 9%.
World Food Programme (WFP) menilai bahwa setiap US$1 yang diinvestasikan dalam makanan sekolah dapat menghasilkan keuntungan ekonomi hingga US$9.
India dan Indonesia memiliki kesamaan, seperti populasi besar dan status sebagai negara berkembang. Tantangan yang pernah terjadi di India bisa menjadi pelajaran penting bagi Indonesia dalam mengembangkan program makan bergizi gratis.












