3 Berita Terpopuler Sumbar: Ibu Jual Anak, Pengungsian Galodo, dan Kapal Nelayan Hilang

Informasi Menarik dari Sumatera Barat

Berikut ini adalah informasi menarik yang terkait dengan Sumatera Barat dalam 24 jam terakhir. Berbagai peristiwa penting dan kejadian khusus telah muncul, baik itu kasus hukum, instruksi pemerintah, maupun kejadian alam yang memerlukan tindakan cepat.

Ibu Rumah Tangga di Payakumbuh Diduga Menjual Anak Kandungnya

Seorang ibu rumah tangga di Payakumbuh diduga menjual anak kandungnya melalui aplikasi hijau. Aplikasi ini awalnya dibuat untuk komunikasi antara keluarga dan teman, tetapi kini disalahgunakan sebagai wadah prostitusi terselubung yang mudah diakses.

Berdasarkan rilis resmi dari Polres Payakumbuh, peristiwa ini terungkap saat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Payakumbuh menggerebek sebuah rumah kontrakan di kawasan Kecamatan Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh, pada Kamis (11/12) sekitar pukul 09.00 WIB. Kasus ini telah dilimpahkan ke Polres Payakumbuh untuk penyidikan lebih lanjut.

Kapolres Payakumbuh AKBP Ricky Ricardo, melalui Kasat Reskrim IPTU Andrio Surya Siregar, menyatakan bahwa tersangka Y (42 tahun) telah ditahan dan menjalani proses penyidikan. Tersangka diperkirakan telah melakukan tindakan melawan hukum selama empat bulan terakhir. Selain anak kandungnya, ada dua orang lain yang juga menjadi “anak galeh” dari tersangka.

Harga transaksi yang diberlakukan oleh tersangka adalah Rp250.000 untuk sekali berhubungan. Dalam proses pemesanan, tersangka menunjukkan tiga buah foto wanita untuk dipilih si pemesan. Saat penangkapan, tersangka baru saja menyelesaikan transaksi dengan pria hidung belang, dan kebetulan anak kandungnya yang diorder saat itu.

Polisi juga mengamankan uang tunai senilai Rp250.000 yang diduga hasil transaksi, satu unit handphone, serta print out chat pemesanan untuk kebutuhan penyidikan.

Mensesneg Instruksikan Pemanfaatan Tanah Negara dan BUMN untuk Relokasi Korban Bencana

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI, Prasetyo Hadi, memberikan instruksi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) untuk memanfaatkan tanah negara maupun lahan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai lokasi relokasi warga terdampak bencana yang lahannya tidak lagi layak dijadikan tempat tinggal.

Instruksi ini disampaikan melalui sambungan telepon kepada Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, pada Senin (15/12/2025). Langkah ini dinilai sebagai solusi percepatan relokasi, terutama di tengah keterbatasan pemerintah kabupaten dan kota dalam pengadaan lahan.

Prasetyo Hadi menegaskan bahwa jika di wilayah terdampak terdapat tanah negara atau lahan yang dikelola BUMN, maka bisa dikoordinasikan di lapangan apabila memang dibutuhkan sebagai lokasi relokasi bagi warga yang tidak memungkinkan kembali ke tempat tinggalnya semula.

Pemanfaatan lahan negara dinilai sebagai alternatif konkret ketika daerah mengalami kendala pembebasan lahan. Jika ada Hak Guna Usaha (HGU) yang tidak diperpanjang izinnya, itu bisa dimanfaatkan. Begitu juga lahan yang dikelola BUMN, silakan dikoordinasikan di lapangan.

Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah menyatakan kesiapan Pemerintah Provinsi Sumbar untuk segera berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota terdampak, termasuk melakukan pemetaan lokasi serta memastikan kesiapan warga yang akan direlokasi.

Hingga saat ini, terdapat empat daerah yang telah melaporkan kesiapan lahan untuk relokasi warga terdampak bencana, yakni Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Agam, Kabupaten Limapuluh Kota, dan Kabupaten Padang Pariaman.

Perahu Nelayan Hilang Kontak di Pagai Selatan Mentawai

Perahu nelayan dengan empat penumpang dilaporkan hilang kontak di perairan Bitojat, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Perahu tersebut merupakan jenis kayu dengan panjang sekitar 9 meter, berwarna merah hijau, dan menggunakan mesin dompeng.

Empat penumpang perahu tersebut bernama Efwinsyah (45), Reza Septiawansyah (15), Amir Mahmud (52), dan Kamarudin (63). Saat ini keempat korban telah berada di Pelabuhan Sikakap dengan kondisi selamat.

Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kansar) Mentawai awalnya menerima laporan kecelakaan kapal berupa perahu nelayan hilang kontak. Informasi awal diterima pada Minggu 14 Desember 2025, pukul 15.45 WIB. Perahu nelayan dengan empat orang penumpang berangkat memancing dari Sikakap menuju Pulau Bitojat, pada Senin 1 Desember 2025.

Setelah dilakukan pencarian oleh tim SAR gabungan, pada Minggu pukul 17.30 WIB, pihak keluarga menginformasikan berhasil berkomunikasi dengan para korban. Para korban memastikan kondisinya dalam keadaan selamat, sedangkan kapalnya sempat mengalami kerusakan berupa mati mesin.

Setelah dilakukan perbaikan mesin secara mandiri, mesin kapal kembali dapat dihidupkan dan para nelayan langsung menuju pelabuhan. Kapal nelayan beserta keempat nelayan tiba di Dermaga TPI Sikakap dalam kondisi aman dan selamat.

Kepala Kantor SAR Mentawai, Benteng Hilton Telaumbanua, menyampaikan bahwa kapal mengalami kerusakan mesin selama dua hari di tengah laut. Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi para nelayan agar selalu memastikan kondisi kapal, mesin, dan radio pemancar marabahaya sebelum melaut.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *