Mahasiswa ISBA Yogyakarta Dianiaya Plt Kasatpol PP Bangka, Korban Saudara Bupati

Peristiwa Penganiayaan di Asrama ISBA Yogyakarta

Seorang mahasiswa asal Bangka Belitung, Dhaifu (22), mengaku menjadi korban dugaan penganiayaan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bangka, Indrata Yusaka. Peristiwa tersebut terjadi di Asrama Ikatan Studi Bangka (ISBA) Yogyakarta pada Kamis malam (18/12/2025) sekitar pukul 18.30 WIB.

Dhaifu yang sedang mengerjakan tugas menggunakan laptop di kamar asrama nomor LD.12, tiba-tiba didatangi dua orang berseragam Satpol PP tanpa izin. Salah satu dari mereka adalah Indrata Yusaka, yang kemudian meminta mereka tetap berada di dalam kamar sambil melakukan inspeksi mendadak (sidak).

Dhaifu mencoba bertanya dengan sopan mengenai maksud sidak tersebut. Namun, menurutnya, Indrata tidak merespons secara baik dan justru marah. Situasi memanas hingga akhirnya salah satu temannya diminta keluar kamar, sementara yang lain tetap berada di dalam sebagai saksi. Pintu kamar ditutup dari dalam oleh anggota Satpol PP.

Dhaifu menyebutkan bahwa Indrata membuka rompinya dan melemparkannya ke lantai, lalu mendekatinya dengan nada emosi. Laptop milik Dhaifu sempat tersenggol hingga hampir jatuh. Ia langsung menyelamatkan laptop tersebut sebelum bertanya alasan perlakuan kasar tersebut. Namun, Indrata justru mengatakan bahwa Dhaifu melawan.

Tidak lama kemudian, Dhaifu ditampar di pipi kanannya. Saat ia berusaha keluar kamar, ia justru ditahan, didorong, lalu dicekik hingga terpojok di sudut dinding. Dhaifu mengaku tidak melakukan perlawanan dan hanya bertanya alasan perlakuan kasar tersebut. Peristiwa itu berlangsung singkat, diperkirakan tak sampai lima menit.

Setelah cekikan dilepas, Dhaifu langsung keluar kamar dan menghubungi ayahnya. Atas saran keluarga, ia kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek setempat dengan didampingi temannya. Dalam proses mediasi yang digelar pihak kepolisian di asrama ISBA Yogyakarta, Dhaifu menyebut Indrata tidak mengakui telah melakukan pemukulan dan pencekikan. Mediasi tersebut turut disaksikan sejumlah anggota Satpol PP serta Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Bangka, Thony Marza.

Meski telah ada permintaan maaf, Dhaifu menyatakan tetap melanjutkan kasus ini ke jalur hukum. Ia mengaku sudah melapor ke Polres dan menjalani visum. “Saya langsung lapor malam itu juga ke Polres. Sudah divisum,” tegasnya.

Enggan Berkomentar

Sementara itu, Plt Kasatpol PP Bangka, Indrata Yusaka, belum memberikan keterangan terkait dugaan penganiayaan tersebut. Saat dihubungi, ia meminta awak media untuk berkoordinasi dengan Sekda Bangka. “Satu pintu saja ke Pak Sekda,” ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp. Hingga berita ini diturunkan, Pj Sekda Bangka, Thony Marza, belum memberikan tanggapan resmi. Keduanya diketahui masih berada di luar daerah.

Pemukulan Pelanggaran Hukum

Kasus ini mendapat perhatian dari DPRD Kabupaten Bangka. Ketua DPRD Bangka, Jumadi, menyayangkan insiden tersebut dan menegaskan pihaknya tidak akan mentoleransi tindakan kekerasan, terlebih jika dilakukan oleh pejabat publik. “Kalau memang terjadi pemukulan, kami tidak akan mentolerir. Itu pelanggaran hukum,” kata Jumadi. Ia menyebut DPRD akan memanggil pihak-pihak terkait, termasuk Plt Kasatpol PP dan Sekda Bangka, untuk dimintai klarifikasi melalui rapat dengar pendapat (RDP). “Ini juga akan kami sampaikan ke Bupati dan Wakil Bupati Bangka,” ujarnya.

Tunggu Fakta Utuh

Bupati Bangka, Fery Insani, mengaku telah mengetahui insiden tersebut melalui rekaman video yang diterimanya pada Jumat dini hari. Namun, ia menegaskan belum dapat mengambil sikap sebelum menerima informasi yang utuh. “Kami tunggu keterangan lengkap dulu. Ini masih sensitif,” kata Fery. Fery juga mengungkapkan bahwa dirinya merupakan alumni ISBA Yogyakarta dan pernah tinggal di asrama tersebut saat menempuh pendidikan. Ia meminta semua pihak menahan diri hingga proses hukum berjalan.

Korban Masih Keluarga Bupati Bangka

Belakangan, Dhaifu diakui oleh Bupati Bangka Fery Insani sebagai keluarganya. Insiden ini sudah sampai ke telinga Bupati Bangka, Fery Insani sejak malam kejadian. Fery Insani menyebut, dirinya mendapatkan kabar tersebut tadi malam sekira pukul 24.00 WIB atau jam 12 malam lewat rekaman video. “Dalam rekaman tersebut ada polisi kayaknya. Ya ginilah, nanti kita terima informasi yang utuh lah baru kita sikap seperti apa,” kata Fery kepada, Jumat (19/12/2025) di Kantor Bupati Bangka.

Lanjut Bupati, sebetulnya dia tidak bisa memberikan komentar karena sangat disayangkan kenapa insiden tersebut bisa terjadi. “Saya enggak tau lah, apakah mungkin waktu atau seperti apa, kami akan terima langsung lah (informasinya-red). Karena bapak ini belum denger langsung, bener dak k mukul (bener enggak kamu mukul-red),” jelasnya. Oleh karena itu, dirinya belum bisa mengambil kebijakan lantaran hal ini masih dianggap sensitif.

Lebih lanjut, Fery menyebut bahwa dirinya juga alumni ISBA Yogyakarta sewaktu berkuliah dulu di Universitas Gajah Mada. “Saya pernah tinggal di ISBA waktu menyelesaikan tesis. Saya tau lah ISBA itu, ya semua kita menahan diri dulu ya. Nanti kita tunggu jawaban utuh dan lengkap, baru kita ambil sikap,” ungkapnya. Diakui Fery, tadi pagi dirinya juga mendapatkan telfon dari orangtua mahasiswa yang menjadi korban pemukulan tersebut yang meminta dipertemukan dengan Pj Sekda Bangka, Thony Marza dan Plt Kasatpol PP Bangka, Indrata Yusaka. “Saya bilang iya. Kebetulan ternyata orangtua anak itu, kakeknya, kami satu turunan, kami masih satu keluarga, ya anak itu termasuk keluarga saya. Masih keluarga deket Bupati juga itu, enggak papa lah saya kan santai-santai aja,” ujarnya.

Exit mobile version