Feodalisme Teknologi: Akan Mendominasi Pasar?

Sejarah dan Perkembangan Sistem Ekonomi

Bicara tentang sejarah dan sistem ekonomi serta perkembangannya, seakan kita diajak untuk menyelam dalam palung pengetahuan ekonomi. Proses ini tidak hanya membantu kita memperkaya khazanah pengetahuan, tetapi juga memberi kita wawasan yang lebih bijak dalam menganalisis dan memahami dinamika sistem ekonomi yang selalu berubah dari fase ke fase.

Diskursus tentang ekonomi terasa tak pernah habis untuk diikuti karena ekonomi selalu menjadi bagian penting dari setiap peradaban. Dalam berbagai bentuknya, ekonomi sering kali menjadi sorotan dengan berbagai dinamika dan motif yang dirancang untuk mengkooptasi instrumen lainnya.

Salah satu contoh yang menarik adalah transisi dari mazhab Merkantilisme ke ekonomi klasik. Perkembangan ekonomi klasik dimulai dari berkembangnya kaum merkantilis. Dalam pandangan mereka, kemakmuran sebuah negara ditentukan oleh jumlah sumber daya terbatas yang bisa dikumpulkan oleh negara, terutama emas, perak, atau logam berharga lainnya. Semakin besar aset yang disimpan, semakin kuat dan bebas negara dalam menjalankan aktivitas seperti perang atau pembuatan koloni-koloni baru.

Tujuan ekonomi merkantilis Eropa adalah memperkuat posisi negara dibandingkan negara lain. Dalam prosesnya, negara-negara lain dilemahkan melalui penjajahan atau pembuatan koloni. Sistem ini juga dikenal sebagai ekonomi monarki absolut atau absolutisme, di mana kekuasaan negara sepenuhnya digunakan sebagai alat untuk mengatur segala sesuatu.

Dengan sistem tersebut, negara menjadi penguasa absolut yang mengendalikan semua aspek kehidupan. Kekuasaan begitu dominan dalam sistem perekonomian tersebut.



Kekuatan Ekonomi BRICS – ()

Mereka menganggap orang di luar dirinya sebagai inferior dan dirinya sendiri sebagai superior. Pengaruh kekuasaan yang begitu kuat memicu berbagai reaksi. Salah satunya adalah gagasan tentang pasar bebas oleh Adam Smith dan David Ricardo. Mereka berpendapat bahwa kesejahteraan akan diperoleh jika mekanisme pasar sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar itu sendiri, bukan pemerintah. Negara seharusnya fokus pada keamanan dan administrasi ketatanegaraan saja.

Adam Smith menciptakan beberapa karya untuk merespons kaum merkantilis. Karyanya yang terkenal adalah The Wealth of Nations. Dalam bukunya, ia menyatakan bahwa sistem pasar harus bekerja tanpa intervensi pemerintah. Kebebasan individu akan mengarah pada kesejahteraan. Bagi Smith, intervensi pemerintah hanya memanjakan masyarakat yang akhirnya membuat mereka lemah dan tidak berdaya.

Dengan teori tangan tak terlihat (invisible hand), Smith yakin bahwa kreativitas dan inovasi individu akan membentuk sistem pasar liberal. Dengan kreativitas, manusia unggul akan muncul, dan mekanisme pasar akan sepenuhnya diserahkan pada perdagangan. Smith percaya bahwa mekanisme pasar bebas akan menghadirkan efisiensi, meningkatkan produktivitas, dan kesejahteraan. Karena pengaruhnya yang signifikan, Adam Smith diberi gelar the father of economics.



Perbandingan beberapa indikator ekonomi Indonesia vs Vietnam. – (Tim Infografis)

Ekonomi Abad ke-21

Berbicara tentang distribusi kekayaan dalam sistem ekonomi global abad ke-21, muncul istilah Rate of Capital, di mana pemilik modal yang mengakumulasi modalnya akan memiliki keuntungan yang melebihi pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Hal ini dikritik oleh Thomas Piketty dalam bukunya Capital in the Twenty-First Century. Menurut Piketty, masalah distribusi kekayaan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga hubungan kekuasaan dengan politisi yang juga merupakan pemilik modal.

Untuk mengatasi hal ini, kebijakan politik harus memiliki keterpihakan, distribusi yang tidak pasti dan tidak terkontrol, yang berdampak pada pengakumulasian kekayaan yang tidak merata. Untuk itu, kekuasaan dan politik harus ikut menentukan redistribusi kekayaan, misalnya dengan pajak progresif, peningkatan pajak PPN dan PPh, maupun pembatasan-pembatasan lainnya.

Tekno Feodal Gantikan Kapitalisme?

Membayangkan akhir kapitalisme secara umum dianggap sebagai hal yang sangat imajiner bahkan mustahil, terutama ketika membaca buku Huntington berjudul The End of History, di mana ia menyatakan bahwa peradaban dunia sudah final dan dimenangkan oleh kapitalisme. Namun bagi Yanis Varoufakis dalam bukunya Tekno Feodalisme, indikasi-indikasi kelemahan kapitalisme mulai muncul, terutama dalam bentuk feodalisme yang berubah menjadi teknologi feodal, yang cukup kuat mendominasi pasar ekonomi digital.

Bagi para kapitalis, tekno-feodalisme merupakan ancaman bagi kapitalisme dan mekanisme pasar yang bisa menghambat perkembangan kebebasan individu, sama seperti feodalisme dulu yang menghambat pendidikan atau investasi dalam peningkatan lahan.



Kelas menengah tergerus, ekonomi terancam – (Dok )

Bagi kaum liberal dan kapitalis, tekno-feodal memiliki potensi kuat untuk mengikis keberadaan kapitalis melalui beberapa gerakan, salah satunya adalah politik. Moratorium pikiran tentang kemunduran kapitalisme yang dulunya membeku kinin telah berakhir. Resesi imajinasi progresif yang berlangsung selama beberapa dekade telah usai.

Tampaknya akhir kapitalisme yang lama ditunggu-tunggu justru awal dari sesuatu yang jauh lebih buruk, dengan campuran eksplosif perubahan iklim, ketidaksetaraan, dan berbagai ketimpangan sosial yang terbangun. Hal ini memicu distopia kembali muncul dengan kekuatan yang hebat.

Dengan fenomena ini, kaum kiri bermetamorfosis yang sulit dibedakan. Beberapa dekade lalu, mereka kesulitan berkembang kecuali berkolaborasi dengan kanan. Bahkan kecenderungan kedua kutub ideologis hampir bertemu pada deskripsi bersama tentang realitas baru.

Meskipun kedua kubu memahami berakhirnya kapitalisme yang benar-benar ada, tidak berarti datangnya hari yang lebih baik, baik itu sosialisme demokratis atau liberalisme klasik “murni”. Sebaliknya, konsensus yang muncul adalah bahwa rezim baru tersebut hanyalah tekno-feodalisme, sebuah -isme dengan sangat sedikit teman yang terhormat.

Neo-feodalisme saat ini hadir dengan slogan-slogan yang menarik, aplikasi seluler yang canggih, bahkan janji kebahagiaan virtual abadi sudah mulai menjadi dogma dalam dunia virtual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *