Kehilangan Karier dan Nama Baik: Dosen UIM Terancam Hukuman Akibat Aksi Meludahi Kasir
Seorang dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM), Amal Said, kini menghadapi konsekuensi serius akibat tindakan tidak terpuji yang dilakukannya. Insiden ini berawal dari sebuah kejadian di sebuah swalayan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar. Saat itu, Amal Said meludahi seorang pegawai kasir bernama Ningsih (21) hanya karena masalah antrean.
Tindakan yang Tidak Etis
Amal Said mengaku bahwa aksinya meludahi korban adalah kesalahan. Namun, ia juga meminta korban untuk turut mengakui kesalahan. Menurutnya, ia tidak menyerobot antrean, melainkan hanya pindah ke meja kasir yang kosong agar proses pembayaran lebih cepat. Ia merasa cara peneguran dari kasir tidak sopan dan melukai harga dirinya.
“Saya anggap cara menegurnya tidak menghargai saya. Akhirnya saya tersinggung dan secara spontan meludahi karena emosi,” ujar Amal.
Ia juga menegaskan bahwa ia tidak langsung meludahi wajah petugas wanita tersebut. “Setelah saya bayar belanjaan, saya emosi sekali di situ. Saya ludahi bajunya, tidak benar itu saya ludahi mukanya.”
Dampak pada Karier dan Status ASN
Aksi ini membuat nama baik Amal Said rusak. Sebagai dosen yang telah bekerja selama 33 tahun, ia merasa pengabdiannya selama ini sirna dalam sekejap. “Sekarang ini sudah rusak nama saya, bahkan mungkin juga berakibat ke tempat kerja saya. Rusak sekali saya ini. Satu detik saya berbuat itu, 33 tahun saya pegawai, mengajar, ribuan mahasiswa saya selesaikan, masa sedetik itu rusak segalanya. Tidak sebanding,” keluhnya.
Rektor UIM, Prof Dr Muammar Bakry, membenarkan status Amal Said sebagai dosen negeri yang diperbantukan di kampus. Ia menyatakan akan memberikan sanksi tegas atas tindakan Amal yang dianggap tidak manusiawi.
“Kita harus tabayyun dulu sama yang bersangkutan toh. Yang pasti di video itu kan ndak bagus lah, ndak manusiawi kalau itu kejadian,” ujarnya.
Dampak pada Korban
Ningsih (21), korban dari aksi tersebut, hingga kini masih mengalami tekanan mental pasca insiden. Ia mengaku syok saat wajahnya diludahi oleh pelaku hanya karena masalah antrean.
“Kurang ajar kau itu caramu melayani! Saya ini juga mau membayar, kenapa begitu caramu?” ujar Ningsih menirukan bentakan pelaku.
Dalam kondisi syok dan “kena mental”, Ningsih langsung meninggalkan meja kasir untuk membersihkan diri. Ia mengaku takut dan terintimidasi, sehingga terpaksa mengalah meski dirinya adalah korban.
“Saya minta maaf karena takut kalau dilawan masalahnya tambah panjang. Temanku juga cuma diam karena takut,” ungkapnya.
Jalur Hukum dan Proses Penyelidikan
Usai melancarkan aksi penghinaan tersebut, sang dosen langsung meninggalkan lokasi. Dukungan keluarga dan pihak manajemen swalayan akhirnya menguatkan langkahnya untuk menempuh jalur hukum.
Pada Rabu malam, Ningsih resmi melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tamalanrea. Kanit Reskrim Polsek Tamalanrea, Iptu Sangkala, membenarkan adanya laporan N tersebut.
“Sudah, melaporkan di Polsek Tamalanrea dengan laporan penghinaan dan dilakukan proses penyelidikan,” kata Iptu Sangkala via pesan WhatsApp.
Proses penyelidikan akan dilanjutkan dengan memanggil saksi-saksi dan mengumpulkan barang bukti.