Dendam Berdarah, 3 Perlakuan Ibu Picu Pembunuhan, Terinspirasi Film Kartun

Kasus Tragis: Anak SD Tega Bunuh Ibu Kandung

Kasus tragis yang melibatkan seorang siswi kelas 6 SD berinisial SAS alias Al (12) masih menyisakan banyak pertanyaan di kalangan masyarakat. Peristiwa ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena Faizah Soraya, ibu kandung Al, meninggal dunia setelah ditikam oleh putri bungsunya sendiri.

Dari hasil pemeriksaan, Al akhirnya mengungkap tiga alasan utama yang mendorongnya melakukan perbuatan tersebut. Dalam konferensi pers, Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak menjelaskan bahwa pengaruh dari film kartun dan game online turut memengaruhi pola pikir pelaku.

Tiga Alasan yang Memicu Emosi Pelaku

Alasan Pertama: Ancaman Pisau dari Ibunya

Al merasa ketakutan dan tertekan karena pernah melihat ibunya mengancam dirinya, kakaknya, dan ayahnya menggunakan pisau. Pengakuan ini disampaikan dalam pemeriksaan terhadap pelaku. Menurut Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, perlakuan korban terhadap keluarga sangat mengkhawatirkan.

Alasan Kedua: Perlakuan Kasar Terhadap Kakak dan Adik

Al juga menyimpan kemarahan mendalam karena sering melihat kakaknya, SAS alias Az (16), menjadi sasaran amarah sang ibu. Ia mengaku gusar setelah beberapa kali menyaksikan kakaknya dipukul menggunakan sapu hingga ikat pinggang. Selain itu, Al juga mengungkap bahwa dirinya sendiri pernah mengalami perlakuan serupa, seperti dimarahi dan dicubit oleh ibunya.

Alasan Ketiga: Marah Game Online Dihapus

Selain itu, Al nekat membunuh ibunya karena marah karena game online-nya dihapus. Setelah kejadian itu, ia melihat game online lainnya dan juga kartun anime, sehingga terinspirasi untuk membunuh sang ibu. Pengakuan ini disampaikan oleh Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak dalam konferensi pers.

Detik-Detik Pembunuhan

Sesak akan dendam di dadanya, Al tiba-tiba terbangun dini hari pada tanggal 10 Desember 2025. Sembari memandangi ibunya yang tidur di sampingnya, Al mengambil pisau di rumahnya lalu menikam sang ibu. Namun sebelum menusuk ibunya, Al sempat melepas bajunya.

“Adik tiba-tiba terbangun dan memandangi korban yang tidur di sampingnya semakin menimbulkan rasa marah. Adik mengambil pisau, membuka bajunya, dan melukai korban,” ujar Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak.

Melihat adiknya melukai ibunya, kakak pun melerainya. Tak mau kalah, Al kembali mengambil pisau kecil di dapur. Di momen tersebut, kakak dan adik sempat bersitegang agar ibunya tidak terluka lagi.

Penanganan Awal dan Akhir Tragedi

Setelah itu, kakak lari ke lantai dua dan membangunkan sang ayah. “Bapak terbangun karena kakak memanggil ke kamar, bapak mengecek korban di lantai satu, korban masih hidup, korban disenderkan,” tambah Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak.

Melihat kakaknya ke lantai dua, sang adik menyusul. Adik memeluk sang bapak bak tanda penyesalan. Usai mendengar istrinya ditikam, bapak menuju ke kamar dan memenuhi permintaan korban. Yakni korban sempat minta diambilkan air minum dan disenderkan di kasur.

“Untuk keterangan adik, adik ke kamar memakai baju, dan naik ke lantai dua memeluk bapaknya. Bapak, kakak, adik turun ke lantai satu, bapak dan kakak mengecek kondisi korban. Korban masih hidup dan meminta dipanggilkan ambulan. Korban meminta minum dan minta didudukkan. Bapak berusaha menghubungi RS,” jelas Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak.

Namun sayang, nyawa korban tidak bisa diselamatkan.

Exit mobile version