Bencana Longsor di Dukuh Glempang, Brebes
Pada Kamis malam, 1 Januari 2026, sekitar pukul 19.00 WIB, terjadi longsoran tebing sungai di Dukuh Glempang, RT 03 RW 06, Desa Kalinusu, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Peristiwa ini menimbulkan dampak signifikan bagi masyarakat setempat. Dua rumah warga mengalami kerusakan parah, sedangkan sembilan orang harus mengungsi untuk menjaga keselamatan diri.
Longsoran tersebut dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang terus mengguyur wilayah Brebes bagian selatan sejak siang hingga malam hari. Hujan deras ini menyebabkan beberapa sungai meluap dan mempercepat erosi pada tebing-tebing di permukiman warga. Salah satu sungai yang terdampak adalah Kali Keruh, yang berhulu di lereng barat Gunung Slamet.
Kepala Desa Kalinusu, Wasid, memastikan bahwa tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian tersebut. Namun, ancaman longsor susulan masih sangat tinggi. Empat rumah lainnya kini berada dalam kondisi rawan dan terus dipantau oleh pemerintah desa bersama warga setempat.
“Tidak ada korban jiwa. Namun dua rumah terdampak cukup parah dan empat rumah lainnya terancam longsor susulan,” kata Wasid saat dikonfirmasi, Jumat 2 Januari 2026.
Longsoran terjadi di tebing Kali Keruh, yang memiliki debit air yang meningkat drastis pada malam kejadian. Arus air bahkan berubah arah ke utara di wilayah Dukuh Glempang. Perubahan aliran ini mempercepat proses erosi dan menyebabkan tebing sungai runtuh.
Tebing yang longsor memiliki panjang sekitar 100 meter dengan ketinggian mencapai 20 meter. Material tanah dan lumpur langsung menimpa area belakang rumah warga yang berada tepat di bibir sungai.
Dua rumah yang terdampak langsung adalah milik Sudaryo (55) dan Yatin (70). Rumah Sudaryo dihuni empat jiwa, sementara rumah Yatin dihuni lima orang. Kedua keluarga tersebut kini mengungsi ke rumah saudara yang dinilai lebih aman dari ancaman longsor.
Untuk mencegah risiko kecelakaan, warga bersama aparat desa melakukan pembongkaran terhadap dua rumah tersebut. Langkah ini diambil karena posisi bangunan sudah tidak stabil dan dikhawatirkan roboh jika terjadi longsor lanjutan.
“Pembongkaran dilakukan secara gotong royong demi keselamatan penghuni dan warga sekitar,” ujar Wasid.
Selain dua rumah yang rusak, empat rumah lainnya masuk dalam kategori terancam. Rumah-rumah tersebut berada di jalur rawan longsor akibat pergerakan tanah di sepanjang tebing sungai. Pemilik rumah yang terancam masing-masing adalah Jaronah (58) dengan satu penghuni, Kholik dengan empat penghuni, Dasrip (62) dengan tujuh penghuni, serta Muhammad (40) dengan empat penghuni.
Jika kondisi memburuk, sedikitnya 16 jiwa berpotensi harus dievakuasi. Pemerintah desa telah menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi hujan lebat susulan.
Pada hari yang sama, hujan deras melanda sedikitnya enam kecamatan di wilayah Brebes selatan. Kondisi ini memicu banjir di beberapa sungai dan meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi, termasuk longsor dan banjir bandang.
Pemerintah Desa Kalinusu melakukan pemantauan intensif melalui koordinasi berbasis WhatsApp Group yang melibatkan perangkat desa, relawan, dan warga setempat. Selain itu, asesmen lapangan terus dilakukan untuk memetakan tingkat kerawanan dan kebutuhan warga terdampak.
Edukasi kebencanaan juga diberikan kepada warga RT 03 RW 06. Warga diminta tetap siaga mengingat musim hujan masih berlangsung dan Kali Keruh dikenal sering meluap saat curah hujan tinggi.
Pemerintah desa menilai penanganan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Keruh menjadi kebutuhan mendesak. Penguatan tebing sungai dan pengendalian aliran air dinilai penting untuk mencegah longsor yang lebih luas di masa mendatang.
Pihak berwenang mengimbau warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan. Tanda-tanda alam seperti retakan tanah, pergeseran bangunan, serta perubahan aliran air harus segera dilaporkan kepada aparat desa.
Warga yang merasa terancam juga disarankan mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman, terutama saat hujan deras turun. Keselamatan jiwa menjadi prioritas utama dalam menghadapi potensi bencana alam selama musim penghujan.












