Peningkatan Bencana di Kota Batu
Jumlah bencana yang terjadi di Kota Batu mengalami peningkatan signifikan dari 122 kejadian pada tahun 2024 menjadi 209 kejadian pada tahun 2025. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh musim penghujan, tetapi juga diduga kuat akibat alih fungsi lahan di hulu sungai yang memicu banjir dan longsoran tanah.
Banyak warga yang terdampak bencana mencapai 281 orang, dengan 78 rumah mengalami kerusakan. Wilayah Bumiaji menjadi wilayah paling rawan bencana di Kota Batu.
Temuan Aliran Lahan di Hulu Sungai
Temuan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu menunjukkan adanya indikasi alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai setelah terjadinya banjir luapan bercampur lumpur dan sampah di Bumiaji beberapa waktu lalu.
Untuk mengetahui aliran alur Sungai Kali Paron, DPUPR melakukan pengambilan foto udara. Langkah ini merupakan instruksi langsung dari Wali Kota Batu, Nurochman, agar dapat diketahui penyebab banjir luapan yang masuk ke rumah warga maupun jalan raya.
“Saya instruksikan Dinas PUPR segera melakukan foto udara untuk pemetaan sungai dan kanal-kanal banjir eksisting. Data ini akan memudahkan pemerintah dalam melakukan pemetaan dan intervensi kebijakan, termasuk rencana menambah kanal-kanal baru atau sudetan untuk memecah debit air,” tutur Nurochman saat itu.
Peran Masyarakat dalam Menghadapi Bencana
Nurochman juga menyoroti pentingnya komitmen masyarakat dalam menjaga kawasan hulu sungai. Menurutnya, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan sangat krusial dalam mencegah bencana.
“Pemerintah akan menambah sudetan, tapi perilaku masyarakat terkait alih fungsi lahan harus menjadi komitmen bersama. Masyarakat pengelola hutan harus berpikir jangka panjang bahwa ada saudara-saudara kita di posisi bawah yang harus dipertimbangkan keselamatannya. Kepatuhan terhadap ketentuan pemanfaatan kawasan hutan adalah kunci,” ujarnya.
Upaya Mitigasi yang Dilakukan
BPBD telah melakukan upaya mitigasi beberapa bulan lalu. Namun, kendala utama di lapangan adalah aliran air yang membawa material berat seperti lumpur, sampah, dan potongan kayu.
“Sebanyak apapun kanal dan sudetan sungai, tetap tidak akan bisa menampung jika air membawa material lumpur, sampah, hingga potongan kayu. Inilah mengapa kesadaran menjaga hutan dan tidak membuang sampah ke aliran sungai menjadi sangat penting agar upaya mitigasi kami di hilir tidak sia-sia,” jelas Nurochman.
Data Bencana di Kota Batu
Dari total 209 kejadian bencana di Kota Batu, terdiri dari 127 bencana tanah longsor, 46 kejadian cuaca ekstrem, 25 banjir, 10 kebakaran gedung dan bangunan serta satu kebakaran hutan dan lahan.
“Bencana alam mendominasi dengan 199 kejadian. Sedangkan kejadian bencana non alam 10 kejadian,” kata Plt Kalaksa BPBD Kota Batu, Suwoko kepada Suryamalang.com, Minggu (11/1/2026).
Dampak Bencana pada Masyarakat
Dari 209 bencana yang terjadi di Kota Batu, ratusan orang terdampak. Total ada sebanyak 281 orang terdampak dan 26 orang mengungsi.
“Rumah rusak ada sebanyak 19 rumah keadaan rusak berat, 16 rusak sedang, 24 rusak ringan dan 19 rumah terendam. Sementara juga ada seluas 1 hektar sawah dan 0,175 hektar milik masyarakat yang terdampak bencana,” jelasnya.
BPBD Kota Batu membenarkan adanya kejadian bencana tersebut menyebabkan dampak korban, kerusakan maupun kerugian pada sektor rumah, sosial ekonomi, pelayanan dasar serta prasarana dan sarana vital.
Lokasi Bencana yang Paling Rawan
Sementara untuk lokasi bencana di Kota Batu, paling banyak terjadi di wilayah Kecamatan Bumiaji dengan jumlah sebanyak 99 bencana, disusul Kecamatan Batu dengan 78 kejadian dan Kecamatan Junrejo sebanyak 32 bencana.












