Pengalaman Chat yang Menimbulkan Ketegangan
Beberapa bulan yang lalu, terjadi sebuah situasi yang memicu ketegangan dalam salah satu grup WhatsApp (WA) yang khusus digunakan untuk membahas masalah ARKAS (Aplikasi Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah). Grup ini menjadi tempat bagi pendamping ARKAS untuk berdiskusi dan menyelesaikan berbagai masalah terkait perencanaan dan penggunaan dana BOS. Dalam grup tersebut, ada seorang pendamping yang bertugas memfasilitasi anggota grup agar bisa menyelesaikan masalah dengan baik.
Pada suatu saat, terjadi chat yang membuat salah satu pendamping merasa tidak nyaman hingga akhirnya keluar dari grup. Saya sendiri merasa sedikit cemas melihat situasi seperti itu. Namun, rasa penasaran membuat saya mencari tahu penyebab ketegangan tersebut. Setelah menelusuri daftar komentar, saya menemukan pesan yang cukup emosional dan menjadi pemicu kejengkelan.
Pesan tersebut dikirim menjelang tengah malam dan berisi permintaan kepada pendamping untuk menyetujui perubahan ARKAS yang telah dilakukan oleh sebuah sekolah. Isi pesannya kurang lebih seperti ini: “Mana nih, Admin? Saya butuh pengesahan malam ini. Besok kami harus tuntaskan buku kas!” Pesan ini berasal dari operator sekolah yang baru saja melakukan perubahan rencana pembelanjaan dalam ARKAS. Untuk dapat melaporkan perubahan tersebut, mereka membutuhkan persetujuan dari pendamping jika sudah memenuhi syarat.
Saya menduga bahwa pengirim pesan ini masih beliau dan mungkin terbiasa menggunakan bahasa santai serta tanpa basa-basi dalam berkomunikasi. Pada sisi lain, pendamping ARKAS terkesan sensitif dan merasa tersinggung dengan pesan tersebut. Ia menganggap pesan itu sebagai perintah daripada permohonan. Setelah merespons dengan nada yang agak keras, pendamping langsung keluar dari grup.
Saya memahami posisi pendamping tersebut. Bisa jadi ia sedang menghadapi tekanan karena banyaknya pertanyaan yang masuk tentang ARKAS. Di dekat deadline penutupan ARKAS, biasanya pendamping akan menerima banyak pesan dari sekolah, baik melalui grup maupun pesan langsung.
Ambiguitas Bahasa dalam Komunikasi Chat
Chat memungkinkan kita untuk melakukan transaksi komunikasi secara real-time melalui pesan teks, suara, gambar, video, emoji, dan lain-lain. Dalam banyak kasus, bahasa menjadi media utama dalam komunikasi. Dalam linguistik, bahasa dianggap sebagai instrumen paling luwes dan efektif dalam proses komunikasi. Bahasa memungkinkan manusia untuk mengekspresikan perasaan, pikiran, ide filosofis, serta pengetahuan ilmiah secara mendalam dan terperinci.
Namun, bahasa juga memiliki kelemahan, yaitu kemampuannya untuk memberikan makna ambigu. Tanpa konteks yang jelas, sebuah kata atau kalimat bisa disalahartikan. Misalnya, kata “kepala” bisa mengacu pada bagian tubuh manusia atau sebagai pemimpin dalam sebuah organisasi. Ambiguitas ini tidak hanya muncul dari makna harfiah, tetapi juga dari perbedaan penafsiran psikologis. Pesan yang kita sampaikan bisa berubah maknanya saat disampaikan, ditafsirkan, atau diingat.
Dalam kasus chat di atas, pesan “Mana nih, Admin? Saya butuh pengesahan malam ini…” secara tersirat merupakan permohonan. Namun, penerima pesan mungkin menganggapnya sebagai perintah. Perbedaan antara perintah dan permohonan terletak pada nada dan gaya bahasa yang digunakan. Di sinilah ambiguitas muncul. Jika pesan tersebut disampaikan dengan gaya yang lebih sopan, seperti “Selamat malam Admin. Mohon bantuan pengesahan ARKAS agar bisa mengisi buku kas malam ini,” maka kemungkinan besar akan lebih diterima dengan baik.
Chat sebagai Sarana Bergaul
Chat atau chatting adalah salah satu fitur pergaulan dunia maya. Dengan adanya fitur ini, kita bisa berinteraksi tanpa terhalang oleh jarak dan waktu. Fitur media sosial ini mampu mendobrak batasan geografis sehingga memungkinkan kita menjalin hubungan tanpa batas.
Bergaul melalui chat tidak jauh berbeda dengan bergaul dalam dunia nyata. Dalam konteks bahasa tulis, meskipun tidak ada standar baku dalam penulisan pesan, umumnya kita memiliki norma-norma yang sepakat bersama saat berkomunikasi. Beberapa aspek penting dalam komunikasi melalui chat antara lain kesantunan berbahasa, pemilihan kata, struktur kalimat, serta waktu respon.
Kesantunan berbahasa dalam komunikasi chat sangat penting untuk menjaga kualitas interaksi digital. Dengan memperhatikan pemilihan kata, sapaan, emotikon, struktur kalimat, serta waktu respon, komunikasi melalui chat tetap bisa mencerminkan nilai-nilai sopan santun. Bahasa chat menuntut kehati-hatian dalam pemilihan kata, meskipun bersifat informal. Tidak adanya ekspresi wajah atau intonasi membuat pesan mudah disalahartikan. Pesan tulisan dalam chat adalah pesan bisu tanpa suara. Pilihan kata dan struktur kalimat bisa menjadi representasi dari intonasi atau gestur tubuh.
Penerima pesan mungkin memahami isi pesan, tetapi belum tentu merespons secara positif. Oleh karena itu, komunikasi efektif tidak hanya tentang pemahaman pesan, tetapi juga menunjukkan kesantunan dan penghargaan terhadap orang lain.
Lombok Timur, 18 Januari 2026












