Daerah  

Izin Ikut Acara Gereja, Franky D Tanamal Selamat Tidak Naik Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Pangkep

Franky D Tanamal Selamat dari Kecelakaan Pesawat ATR 42-500

Franky D Tanamal berhasil selamat dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026). Meskipun namanya tercantum dalam manifest penumpang, ia tidak ikut dalam penerbangan tersebut karena izin tidak ikut terbang. Informasi ini terungkap melalui unggahan akun Facebook Gemilang Jaya Ban (Rumoton Sitanggang), yang merupakan temannya.

Franky batal berangkat karena ada pelayanan gereja yang harus ia ikuti. Hal ini diketahui melalui akun Facebook Tribun Timur Berita Online. Rumoton Sitanggang, yang berteman dengan Franky D Tanamal, menyatakan bahwa pesawat ATR 42-500 layak terbang. Ia mengungkapkan bahwa teknisi pesawat adalah temannya yang juga luput dari musibah ini.

“Kebetulan tekhnisinya teman saya yang luput dari musibah ini,” ujar Rumoton Sitanggang. Ia juga menjelaskan bahwa ia meminta izin kepada komandannya untuk tidak ikut terbang karena ada pelayanan di gereja. “Yang pasti pesawat layak terbang. Ini murni musibah,” tambahnya.

Gemilang Jaya Ban juga mengunggah pesan di akun Facebooknya. Ia bersyukur atas keselamatan temannya dan menulis: “Puji Tuhan atas segala kemurahannya. Sobatku luput dari musibah ini (tidak ikut dalam penerbangan beliau izin ke komandannya karena ada pelayanan di gereja). Kami sama-sama melayani umat Tuhan untuk beribadah pagi ini. Itulah cara Tuhan tdk terselami tq. Tuhanku engkau sangat baik.”

Perbedaan Nama Kru Pesawat

Sebelumnya, PT Indonesia Air Transport (IAT) mengungkap adanya perbedaan jumlah dan nama-nama kru pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026). Direktur Utama PT IAT Tri Adi Wibowo mengatakan bahwa terdapat tujuh kru pesawat yang tengah bertugas dalam penerbangan.

Jumlah kru yang bertugas bukan delapan orang sebagaimana tercantum dalam Passenger Manifest yang beredar. “Saya menginformasikan, dari PT Indonesia Air Transport karifikasi bahwa kru yang on-board ada tujuh,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta, Sabtu (17/1/2026).

Tri merincikan nama-nama krunya, yaitu Andi Dahananto, Muhammad Farhan Gunawan, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, Esther Aprilita, dan seorang lain yang belum disebut namanya. Nama-nama yang disebutkan ini ada perbedaan dengan nama-nama yang ada di daftar manifest penumpang. Hanya Andi Dahananto, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita yang namanya ada di manifest.

Sementara nama-nama kru yang tidak Tri sebutkan tapi ada di manifest yaitu Yudha Mahardika, Sukardi, Hariadi, Franky D Tanamal, dan Junaidi. Kendati demikian, Tri tidak menjelaskan alasan perbedaan nama kru yang bertugas dengan yang ada di Passenger Manifest.

Dua Korban Telah Ditemukan

Dua korban Pesawat ATR 42-500 telah ditemukan hingga Senin (19/1/2026). Korban pertama ditemukan ialah seorang laki-laki pada Minggu (18/1/2026). Ia ditemukan di kedalaman 200 meter dari puncak Gunung Bulsaraung. Korban kedua seorang perempuan ditemukan Senin (19/1/2026) pada kedalaman 500 meter.

Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengungkapkan penemuan korban itu berdasarkan laporan langsung dari tim SAR yang berada di lokasi kejadian. “Dari hasil komunikasi kami yang terhubung langsung dengan tim di lapangan, hari ini kembali ditemukan satu korban,” kata Syafii saat konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar, kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Senin siang.

Basarnas belum dapat memastikan identitas korban yang baru ditemukan tersebut. “Kami sampaikan bahwa untuk penentuan identitas korban bukan kewenangan kami. Itu akan dideklarasikan oleh DVI Mabes Polri,” jelasnya. Berdasarkan informasi awal dari lapangan, korban kedua yang ditemukan diduga berjenis kelamin perempuan. Sementara korban pertama yang ditemukan sebelumnya diduga berjenis kelamin laki-laki.

Namun, kepastian terkait identitas maupun kondisi korban tetap menunggu hasil resmi dari tim DVI Polri. Lokasi penemuan korban berada di area dengan kondisi medan yang sangat ekstrem. “Kondisi lokasi sangat terjal, hampir tegak lurus. Kedalamannya cukup ekstrem dan didominasi bebatuan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, saat ini korban telah berada bersama tim penyelamat di lokasi, namun proses evakuasi masih menghadapi kendala cuaca dan medan. “Korban sudah bersama rescuer, namun evakuasi masih menunggu kondisi yang memungkinkan,” katanya.

Tim SAR saat ini masih mengandalkan kombinasi operasi udara dan darat dalam proses pencarian dan evakuasi. Awalnya, evakuasi direncanakan menggunakan helikopter karena jarak tempuh dari lokasi ke bandara relatif dekat, kurang dari 10 menit. Namun, kondisi cuaca yang tidak mendukung membuat evakuasi udara belum dapat dilakukan secara maksimal.

“Cuaca menjadi tantangan utama. Base cloud rendah dan di ketinggian kondisinya lebih tebal,” jelasnya. Selain korban, tim SAR juga menemukan sejumlah bagian pesawat serta benda-benda yang diduga milik korban. Seluruh temuan tersebut akan dikumpulkan untuk kemudian diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan pihak kepolisian sesuai kewenangannya.

Hingga saat ini, lebih dari 1.200 personel SAR gabungan masih dikerahkan dan pencarian dibagi ke dalam empat sektor. Basarnas juga tengah berkoordinasi dengan BMKG dan BNPB untuk kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca guna mempercepat proses pencarian dan evakuasi.

“Kami masih berada dalam fase golden time. Mohon doa agar seluruh korban dapat ditemukan,” pungkas Kepala Basarnas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *