Krisis Finansial Sriwijaya FC yang Mengancam Eksistensi Klub
Sriwijaya FC, salah satu klub sepak bola ternama di Indonesia, kini tengah menghadapi krisis finansial yang sangat serius. Klub yang berjuluk Laskar Wong Kito ini terpaksa menghadapi tantangan besar dalam menjalani kompetisi Liga 2 musim ini. Masalah keuangan ini tidak hanya menjadi isu semata, tetapi telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir dan mulai memengaruhi berbagai aspek operasional klub.
Krisis finansial yang dialami oleh Sriwijaya FC menyebabkan penundaan pembayaran gaji kepada pemain. Hal ini juga berdampak pada kualitas akomodasi tim ketika melakukan pertandingan tandang. Akibatnya, sejumlah pemain Sriwijaya FC memutuskan untuk hengkang di masa transfer putaran kedua Liga 1, yang berlangsung antara Januari hingga awal Februari mendatang.
Pemain Berpindah, Hanya Sisakan 15 Orang
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah pemain Sriwijaya FC pergi meninggalkan klub. Hingga pertengahan Januari lalu, hanya tersisa 15 pemain, tiga di antaranya adalah penjaga gawang. Situasi ini menunjukkan bahwa jumlah pemain yang tersisa semakin sedikit, dan hal ini bisa memengaruhi performa klub di lapangan.
Meskipun kondisi finansial sangat sulit, Sriwijaya FC masih berupaya keras untuk memperkuat skuad mereka. Mereka terus mencari pemain baru yang siap berjuang tanpa memikirkan nominal gaji. Bahkan, ada beberapa pemain yang bergabung secara sukarela. Mereka hanya diberikan tempat tinggal dan makanan, tanpa gaji.
Pemain Tanpa Gaji, Tapi Siap Berjuang
Pemain-pemain yang direkrut oleh Sriwijaya FC saat ini memiliki status tanpa gaji. Mereka bersedia membantu klub sambil mencari menit bermain untuk persiapan musim depan. Menurut asisten pelatih Sriwijaya FC, Joe Berry, manajemen hanya sanggup menyediakan makan dan tempat tinggal bagi para pemain.
“Para pemain ini tidak digaji. Mereka mau membantu saya dan Sriwijaya FC sambil mencari menit bermain buat persiapan musim depan,” ujar Joe Berry.
Kekalahan Telak dan Masalah Administrasi
Pemain baru yang didatangkan oleh Sriwijaya FC belum sepenuhnya bisa dimainkan karena masalah administrasi. Selain itu, chemistry tim juga belum terbentuk dengan baik. Hal ini menyebabkan kekalahan telak yang diraih oleh Sriwijaya FC dengan skor 7-0 dari Bekasi City pada 16 Januari lalu.
Pelatih Sriwijaya FC, Budi Sudarsono, yang gajinya belum dibayar selama empat bulan terakhir, menyatakan keinginan untuk hengkang. Ia mengatakan bahwa sulit menjalani kompetisi dengan materi pemain yang ada saat ini.
Skenario Terburuk: Degradasi ke Liga 3
Eko Saputro, manajer Sriwijaya FC, mengungkapkan skenario terburuk dari situasi ini. Saat ini, Sriwijaya FC berada di dasar klasemen zona Barat dengan koleksi 2 poin dari 16 pertandingan. Jarak dengan tim di zona degradasi, Persekat Tegal, terpaut 15 poin.
Jika situasi ini tidak berubah, degradasi ke Liga 3 rasanya tidak akan bisa dihindari. Namun, Eko tetap optimis dan berkomitmen untuk berbenah jika terjadi degradasi.
“Kalau hasilnya degradasi, saya dan pak Anggoro (direktur olahraga PT SOM Anggoro Prajesta) tetap kawal Sriwijaya FC ini untuk berbenah dan ke depannya bisa meloloskan ke Liga 2 lagi,” kata Eko.
Pertandingan Lawan Sumsel United
Pada matchday ke-17 Liga 2 pekan ini, Sriwijaya FC akan menghadapi rival sedaerah, Sumsel United. Tim yang kini bertengger di posisi 3 klasemen zona barat dengan koleksi 27 poin akan menjadi lawan berat bagi Sriwijaya FC.
Pertandingan antara Sriwijaya FC vs Sumsel United akan berlangsung di Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang pada Sabtu (24/1/2026) jam 15.30 WIB.










