Budaya  

Hari Jadi Samarinda: Jejak Sejarah Kota Tepian Usia 358 Tahun

Sejarah Kota Samarinda yang Menggambarkan Identitas dan Perkembangan

Pada 21 Januari 2026, Kota Samarinda akan merayakan hari jadinya yang ke-358. Pada momen yang sama, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda juga memperingati usia ke-66 tahunnya. Hari jadi ini tidak hanya menjadi penanda bertambahnya usia kota, tetapi juga mengingatkan masyarakat tentang sejarah panjang dan peristiwa penting yang membentuk identitas kota hingga saat ini.

Samarinda, yang dikenal dengan konsep Smart City, memiliki akar sejarah yang dalam dan unik. Nama Samarinda sendiri memiliki berbagai versi makna, seperti “sama-rendah” yang mencerminkan tatanan kemasyarakatan yang egaliter atau “Samarendo” yang bermakna selamat sejahtera. Hal ini mencerminkan nilai-nilai yang terus dipegang oleh masyarakat Samarinda hingga kini.

Asal Usul Sejarah Samarinda

Sebelum dikenal sebagai Samarinda, wilayah ini termasuk dalam Kerajaan Kutai Kartanegara yang berdiri pada tahun 1300 Masehi di Kutai Lama. Kerajaan ini awalnya merupakan daerah taklukan dari Kerajaan Banjar, yang semula bernama Kerajaan Negara Dipa. Pusat kerajaan ini awalnya berada di Jahitan Layar, lalu berpindah ke Tepian Batu pada 1635, kemudian ke Pemarangan (Jembayan) pada 1732, dan terakhir di Tenggarong sejak tahun 1781 hingga 1960.

Penduduk awal yang mendiami Kalimantan Timur adalah Suku Kutai Kuno yang disebut Melanti, termasuk dalam ras Melayu Muda (Deutro Melayu). Mereka merupakan hasil percampuran antara ras Mongoloid, Melayu, dan Wedoid yang bermigrasi dari Semenanjung Kra pada abad kedua sebelum masehi (SM).

Sebelum nama Samarinda digunakan, terdapat enam perkampungan penduduk di lokasi-lokasi seperti Pulau Atas, Karang Asam, Karamumus (Karang Mumus), Luah Bakung (Loa Bakung), Sembuyutan (Sambutan), dan Mangkupelas (Mangkupalas). Penyebutan keenam kampung ini tercantum dalam manuskrip Salasilah Raja Kutai Kartanegara yang ditulis oleh Khatib Muhammad Tahir pada 30 Rabiul Awal 1265 H (atau 20 Februari 1849 Masehi), yang kemudian dikutip oleh ahli sejarah Belanda, C. A. Mees.

Keberadaan Suku Banjar di Samarinda

Suku Banjar merupakan suku bangsa yang menempati wilayah Kalimantan Selatan serta sebagian Kalimantan Tengah dan Timur. Keberadaan mereka di Samarinda dan daerah lain di Kalimantan Timur tidak dapat dikategorikan sebagai kaum pendatang, karena sebelum pembentukan provinsi pada 1957, Pulau Kalimantan kecuali daratan Malaysia dan Brunei merupakan satu provinsi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Awal pemukiman Suku Banjar di Kalimantan Timur dimulai sejak Kerajaan Kutai Kartanegara berada dalam otoritas Kerajaan Banjar, setelah runtuhnya Kesultanan Demak pada 1546 Masehi.

Kedatangan Orang Bugis Wajo ke Samarinda

Kedatangan orang-orang Bugis Wajo ke Samarinda memiliki berbagai versi. Salah satu versi menyebutkan bahwa rombongan Bugis Wajo yang dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona tiba di wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara pada 21 Januari 1668. Latar belakang perantauan mereka adalah karena menolak Perjanjian Bongaya setelah Kesultanan Gowa kalah dalam perang melawan pasukan Belanda. Raja Kutai saat itu, AjI Pangeran Dipati Maja Kusuma ing Martapura, memberikan lokasi kampung dataran rendah untuk usaha pertanian, perikanan, dan perdagangan kepada mereka. Dalam kesepakatan tersebut, orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama dalam menghadapi musuh.

Asal Usul Nama Samarinda

Nama Samarinda memiliki beberapa versi. Pertama, berdasarkan persamaan ukuran tinggi rumah-rumah rakit atau terapung penduduk Bugis Wajo di Samarinda Seberang, di mana tidak ada yang lebih tinggi antara satu dengan yang lain. Sehingga disebut “sama-rendah”, yang juga dapat dimaknai sebagai tatanan kemasyarakatan yang egaliter. Ada pula versi yang menyebut bahwa Samarinda berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu “Samarendo” yang artinya selamat sejahtera.

Perayaan Hari Jadi Samarinda

Penetapan tanggal 21 Januari 1668 sebagai peristiwa kedatangan rombongan Bugis Wajo didasarkan oleh estimasi atau asumsi pelayaran selama 64 hari, ditambahkan sejak 18 November 1667. Tanggal tersebut lalu ditetapkan sebagai hari jadi Samarinda. Penetapan ini mendapatkan legitimasi politis pada masa kepemimpinan Wali Kota Samarinda Andi Waris Husain melalui Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda Nomor 1 Tahun 1988 Pasal 1, yang menyatakan bahwa “Hari Jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, bertepatan dengan tanggal 5 Sya’ban 1078 Hijriyah.”

Peristiwa Penting dalam Sejarah Samarinda

Beberapa peristiwa penting dalam sejarah Samarinda antara lain:
* Tahun 1950: Samarinda ditetapkan sebagai ibukota keresidenan Kalimantan Timur, bagian dari Provinsi Kalimantan.
* Tahun 1953: Samarinda ditetapkan sebagai ibukota Daerah Istimewa Kutai berdasarkan UU Darurat No. 3 Tahun 1953.
* Tahun 1957: Samarinda ditetapkan sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan UU No. 25 Tahun 1956.
* Tahun 1959: Samarinda ditetapkan sebagai kotapraja berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959.
* Tahun 1965: Samarinda ditetapkan sebagai kotamadya berdasarkan UU No. 18 Tahun 1965.
* Tahun 1999: Samarinda ditetapkan sebagai kota berdasarkan UU No. 22 tahun 1999.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *