Bus Trans Jateng Lintasi Pegunungan, Rute Magelang-Temanggung Siap Beroperasi

Koridor Gelangmanggung Akan Mulai Beroperasi pada 2027

Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jawa Tengah koridor Magelang-Temanggung (Gelangmanggung) akan mulai beroperasi pada tahun 2027. Koridor ini akan menjadi bagian dari tujuh koridor lainnya yang telah berjalan di Jawa Tengah. Namun, menurut pakar transportasi, Pemprov Jateng perlu terus membuka koridor-koridor baru di wilayah lain karena kebutuhan wilayah ini setidaknya membutuhkan sebanyak 30 koridor.

Beberapa rute yang mendesak untuk segera direalisasikan antara lain rute Jepara-Kudus-Pati (Jekuti) dan Pekalongan-Batang. Pakar Transportasi dari Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, mengatakan bahwa rencana pembentukan koridor di Magelang-Temanggung merupakan kabar baik, tetapi melihat aglomerasi daerah di Jateng setidaknya membutuhkan 30 koridor. Oleh karena itu, Pemprov perlu membuka jalur koridor baru yang urgent dibuka seperti Jekuti dan Pekalongan-Batang.

Djoko menyebut, rencana pembukaan koridor Magelang-Temanggung merupakan langkah yang tepat karena jalur tersebut merupakan jalur potensial menghubungkan trayek Kutoarjo ke Borobudur. Pembukaan rute ini juga diharapkan bisa menghidupkan kembali perusahaan Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) di jalur itu yang “hidup segan mati tak mau”. Perusahaan tersebut bisa diajak dalam skema Buy The Service (BTS), artinya sopir dan pengusaha eksisting diberikan kesempatan untuk bergabung dalam konsorsium pengelola. Tujuannya, agar tidak berebutan penumpang dan tidak mematikan transportasi lokal.

Pemrov Jateng sebelumnya telah membuka tujuh koridor meliputi Semarang-Bawen (Kedungsepur), Purwokerto-Purbalingga (Barlingmascakep), Semarang-Kendal (Kedungsepur), Magelang-Purworejo (Purwomanggung), Solo-Sragen (Subosukawonosraten), Semarang-Grobogan (Kedungsepur), serta Solo-Wonogiri (Subosukawonosraten).

Urgensi Pembukaan Koridor Baru

Berkaitan dengan urgensi pembukaan koridor lainnya, Djoko menilai trayek Jekuti dan Pekalongan-Batang perlu segera dibuka. Wilayah Cekuti cukup strategis dalam pengoperasian angkutan umum di jalur itu. Untuk koridor Pekalongan-Batang juga sama-sama strategis karena berkaitan dengan koneksi dengan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).

Selain itu, pemerintah daerah lainnya juga sudah ada yang meminta pembukaan Trans Jateng di daerahnya seperti Brebes, Tegal (Kota) dan Slawi (Kabupaten Tegal). Djoko menyarankan, Trans Jateng agar lebih cepat dalam bergerak membuka koridor baru perlu melakukan sejumlah inovasi. Inovasi tersebut bisa dilakukan dengan pembaharuan lembaga yang diubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Perubahan kelembagaan ini bertujuan agar leluasa mencari sumber-sumber pendapatan lainnya.

Meskipun, layanan transportasi umum memang harus disubsidi oleh pemerintah karena di negara mana pun menggunakan skema ini. Dengan tarif yang sangat terjangkau yakni Rp1.000 untuk pelajar dan Rp4 ribu untuk umum, maka saat tidak disubsidi maka akan mati. Alternatif pendapatan lain itu Penting agar tidak hanya mengandalkan APBD saja, bisa ada usaha lain setidaknya menekan biaya operasional.

Trans Jateng juga bisa memanfaatkan jaringan ke swasta untuk modal awal pengadaan unit bus. Melalui pengadaan itu, setidaknya biaya operasional di awal bisa dipangkas. Pemerintah pusat juga harus membantu daerah seperti Jateng yang sudah berupaya memberikan layanan transportasi umum yang baik bagi publik.

Persiapan Koridor Gelangmanggung

Koridor Gelangmanggung direncanakan melayani rute Terminal Maron (Kabupaten Temanggung)-Terminal Tidar (Kota Magelang)-Terminal Borobudur (Kabupaten Magelang) dengan dukungan 14 armada bus. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Arief Djatmiko menjelaskan, koridor Gelangmanggung merupakan rute transportasi terintegrasi yang disiapkan seiring pengembangan kawasan aglomerasi. Kawasan aglomerasi tersebut meliputi Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Kabupaten Temanggung.

“Kehadiran koridor baru ini diharapkan tidak hanya mendukung mobilitas harian masyarakat dan sektor pariwisata, tetapi juga menekan biaya transportasi warga,” kata Arief, dalam keterangan tertulis (Jumat (23/1/2026).

Arief menjelaskan, persiapan pembukaan jalur ini dimulai dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dengan para bupati dan wali kota di wilayah pengembangan Gelangmanggung. “Melalui kolaborasi aglomerasi, transportasi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi saling menguatkan antarwilayah,” paparnya.

Penghematan Biaya Transportasi

Sementara, Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Provinsi Jawa Tengah, Bekora Seputranto mengungkap, persiapan pembukaan koridor Gelamanggung masih dalam tahap sosialisasi ke Organisasi Angkutan Darat (Organda) di tiga wilayah. Ia mengklaim, kehadiran Trans Jateng tidak dimaksudkan untuk mematikan atau menjadi pesaing bagi angkutan eksisting. “Operator eksisting akan dilibatkan sebagai operator Trans Jateng melalui pembentukan konsorsium, proses scraping, serta mengikuti lelang. Awak angkutan yang terdampak juga dapat bergabung sebagai pramudi atau pramujasa,” paparnya.

Ia menuturkan, merujuk hasil survei pada tujuh koridor Trans Jateng yang telah beroperasi, kebijakan tarif mampu memberikan penghematan signifikan bagi masyarakat. “Rata-rata penghematan biaya transportasi warga mencapai Rp 100.000 hingga Rp 300.000 per bulan,” paparnya.

Selain itu, Pemprov Jawa Tengah juga menerapkan tarif khusus bagi pelajar, mahasiswa, buruh, veteran, dan lansia. Tarif tersebut diturunkan dari Rp 2.000 menjadi Rp 1.000, sesuai Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/124 tertanggal 30 April 2025 tentang Tarif Angkutan Aglomerasi Perkotaan Trans Jateng.

“Sepanjang 2025, layanan Trans Jateng juga telah melayani 10,2 juta penumpang di tujuh koridor dengan total 115 unit bus,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *