Pantai Sigandu Batang yang Kini Tersisih
Pantai Sigandu Batang, dulu pernah menjadi destinasi utama wisata di kawasan tersebut. Namun kini, pantai ini hanya tinggal menjadi cerita dari warga setempat. Dulu, pantai ini ramai dan menjadi primadona bagi para pengunjung, tetapi seiring berjalannya waktu, kondisinya mulai memprihatinkan.
Pantai Sigandu pernah mencapai puncak kejayaannya antara tahun 2003 hingga 2009. Saat itu, banyak pengunjung datang setiap hari minggu dan libur. Namun kini, suasana jauh berbeda. Pantai ini penuh dengan tumpukan sampah laut dan abrasi yang semakin ganas setiap tahunnya. Pengunjung pun mulai sepi, terutama saat musim hujan, nyaris tidak ada wisatawan yang datang.
Seorang warga setempat, Tarmono (73), yang masih bertahan di warungnya, mengaku kesulitan tidur akibat bunyi ombak yang semakin dekat ke bangunan sederhana miliknya. Ia hidup dalam kecemasan karena takut bangunan yang menjadi sumber nafkahnya ambruk sewaktu-waktu akibat abrasi.
“Dulu ada 12 warung, sekarang tinggal 8. Banyak yang ambruk sejak abrasi parah tahun 2009, tambah kenceng lagi 2010,” kata Tarmono. Warungnya sendiri sudah berkali-kali dipindah mundur. Bahkan, belum genap satu tahun, ia kembali harus menggeser bangunan demi menghindari terjangan air laut.
Tarmono mengenang awal dirinya berjualan sekiranya 1999-2000, saat harga karcis masuk masih Rp 600. Kini tiket masuk kawasan pariwisata satu orangnya sudah Rp 5000. Pengunjung kala itu memadati pantai, terutama pada rentang 2003 hingga 2009. “Dulu Sigandu terkenal ramai. Sekarang habis sendiri kena abrasi,” ujarnya.
Kini kondisi berbanding terbalik, mulai dari tumpukan sampah laut setiap baratan dan abrasi setiap tahun semakin ganas. Pengunjung datang tak menentu, lebih sering sepi. Saat musim hujan, Pantai Sigandu nyaris ditinggalkan wisatawan.
Ironisnya, di loket retribusi justru tetap ramai, namun yang datang ke pantai Sigandu tidak ada lantaran kondisi yang tidak layak. “Kalau sepi, satu bulan paling cuma dapat Rp50 ribu. Kalau ramai pun cuma Rp200 ribu, itu Jumat dan Sabtu,” ucapnya. Di tengah penghasilan yang pas-pasan, ia masih harus menyisihkan uang untuk retribusi. Setiap minggu, pedagang ditarik Rp16.700.
“Dari dinas seperti tidak ada kepedulian, cuma narik retribusi. Pantai kotor, sampah numpuk sampai dua minggu,” ujarnya. Jika badan masih kuat, Tarmono membersihkan sampah sendiri. Namun usia membuat tenaganya terbatas. Bahkan tulisan nama Pantai Sigandu yang dulu terpajang kini sudah hilang terseret abrasi sejak tiga bulan lalu.
Nasib Serupa Dialami Warga Lain
Senada dengan Tarmono, Juwito (57), warga Desa Klidang Wetan, Kecamatan Batang, juga merasakan nasib serupa. Selama 10 tahun terakhir, abrasi menjadi ancaman rutin setiap tahun. “Kalau nggak hujan saya bersihin sampah sedikit-sedikit. Tapi malamnya balik lagi, dibawa ombak baratan,” kata Juwito.
Menurutnya, kondisi diperparah karena Pantai Sigandu berdekatan dengan muara sungai, sehingga sampah kiriman dari hulu menumpuk di bibir pantai. “Kalau baratan, sampah semua ke sini. Kalau timuran nggak separah ini,” jelasnya. Juwito mengenang, pada 2007 jumlah warung masih banyak. Kini sebagian besar tutup karena abrasi dan tidak lagi memiliki tempat berjualan yang layak.
“Bukan nggak mau jualan, tapi kondisinya seperti ini,” ucapnya. Baik Tarmono maupun Juwito hanya memiliki satu harapan sederhana, kehadiran negara. Mereka berharap pemerintah daerah tidak sekadar menarik retribusi, tetapi benar-benar turun tangan menyelesaikan persoalan abrasi dan sampah di Pantai Sigandu.
“Harapan saya bupati dan dewan bisa segera cari solusi,” harapnya. Di tengah gempuran ombak dan tumpukan sampah, para pedagang kecil Pantai Sigandu masih bertahan. Namun tanpa penanganan serius, bukan tidak mungkin kisah mereka akan benar-benar hilang, seiring pantai yang terus terkikis setiap bulan.












