Suara Minor Menggema! 3 Alasan Bonek Kecewa Usai Dejan Dicoret Persebaya


Persebaya Surabaya secara resmi mengumumkan bahwa enam pemain tidak lagi menjadi bagian dari skuad untuk putaran kedua BRI Super League 2025/2026. Keputusan ini langsung memicu berbagai respons dari suporter, khususnya di kalangan Bonek. Di antara nama-nama yang dilepas, pencoretan Dejan Tumbas menimbulkan reaksi yang cukup kuat dan nyaring.

Tiga poin utama kekecewaan Bonek terhadap kepergian Dejan Tumbas mencerminkan perasaan sebagian besar suporter yang merasa keputusan ini belum sepenuhnya adil. Meskipun manajemen telah menyampaikan alasan teknis, Dejan tetap meninggalkan pertanyaan di benak pendukung Green Force.

Berikut adalah daftar enam pemain yang tidak lagi menjadi bagian dari Persebaya Surabaya di putaran kedua kompetisi:
* Diego Mauricio
* Dejan Tumbas
* Dime Dimov
* Rizky Dwi Pangestu
* Kadek Raditya
* Rendy Oscario

Dari keenam pemain tersebut, Dejan Tumbas menjadi sosok yang paling disorot oleh suporter. Bagi sebagian Bonek, kepergian pemain asal Eropa ini menyisakan rasa kecewa yang sulit diabaikan. Akun fanbase @onlinepersebaya merangkum kegelisahan tersebut lewat tiga poin utama:

Poin Pertama: Minimnya Kesempatan Bermain di Posisi Aslinya

Dejan Tumbas sejatinya adalah penyerang murni, namun selama membela Persebaya Surabaya, ia jarang mendapat ruang sebagai ujung tombak utama. Ia lebih sering dimainkan di luar posisi natural atau hanya memperoleh menit bermain terbatas. Kondisi ini membuat potensi Dejan tidak pernah benar-benar keluar secara maksimal. “Minimnya kesempatan tampil sebagai ujung tombak membuat potensinya tak sepenuhnya keluar, padahal ketika diberi ruang, ia punya naluri gol yang cukup baik.”

Poin Kedua: Fleksibilitas di Lapangan

Dejan Tumbas juga dikenal sebagai pemain serbaguna yang bisa bermain di beberapa posisi, termasuk striker, pemain tengah, maupun pemain belakang. Kemampuan ini sejatinya menjadi nilai tambah bagi sebuah tim dengan jadwal padat. Namun, kelebihan ini justru dinilai menjadi bumerang bagi Dejan. “Sayangnya, kelebihan ini justru membuatnya sering ‘terseret’ jauh dari posisi terbaiknya.”

Poin Ketiga: Karakter Bermain yang Cocok dengan Kultur Surabaya

Gaya bermain Dejan Tumbas, yang agresif dan pantang menyerah, dianggap sangat cocok dengan kultur Surabaya. Ia dikenal sebagai pemain yang berani duel dan memiliki karakter kerja keras. Gaya bermain seperti itu selama ini identik dengan identitas Persebaya Surabaya dan Bonek. “Tipe pemain seperti ini biasanya cepat mendapat tempat di hati suporter.”

Secara statistik, kontribusi Dejan Tumbas di putaran pertama memang belum terlihat menonjol. Ia mencatatkan 14 penampilan dengan total 1.148 menit bermain bersama Persebaya Surabaya. Dari sisi produktivitas, Dejan belum mampu mencetak gol dari expected goals 2,75. Ia melepaskan 10 total attempts tanpa satu pun berbuah gol. Catatan assist juga masih nihil sepanjang putaran pertama. Akurasi umpannya berada di angka 76 persen dengan satu keypass tercipta.

Dalam aspek duel, Dejan tercatat melakukan 12 pelanggaran dan dilanggar empat kali. Ia mengoleksi satu kartu merah tanpa satu pun kartu kuning. Statistik tersebut menjadi dasar sebagian pihak yang menilai pencoretan Dejan sebagai keputusan rasional. Namun bagi suara minor Bonek, angka-angka itu belum mencerminkan kontribusi utuh seorang pemain.

Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, sebelumnya menegaskan pentingnya skuad yang sesuai dengan gaya bermainnya. Ia menginginkan tim dengan kedalaman dan persaingan sehat di setiap posisi. “Jika ingin memiliki tim yang kuat, setiap posisi harus punya dua atau tiga pemain yang bersaing secara sehat.” Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan karakter pemain di dalam tim. “Kami butuh keseimbangan antara pemain cepat dan pemain yang kuat dalam duel udara.” Menurut Bernardo, keseimbangan itu menjadi kunci performa tim secara kolektif.

Keputusan mencoret Dejan Tumbas pun tak lepas dari kerangka besar tersebut. Bagi tim pelatih, langkah ini dianggap bagian dari proses membentuk Persebaya Surabaya versi terbaik. Namun di sisi lain, suara minor Bonek tetap menggema di tengah dinamika tim. Dejan Tumbas mungkin telah pergi, tetapi perdebatan soal keadilannya masih terus hidup di benak suporter Green Force.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *