PALEMBANG,
Sukamto duduk di kursi pengemudi mobil yang ia tumpangi. Matanya sesekali menatap lurus ke jalan, lalu beralih ke kaca spion. Ia tampak serius mengemudikan kendaraan tersebut sambil memberikan panduan kepada para penumpangnya. Meski hanya mengenakan kaus polo, kacamata, dan sandal, pria berusia 47 tahun ini berusaha memastikan perjalanan berlangsung aman dan nyaman.
Obrolan ringan mengalir, seperti biasa dalam dunia sopir. Sukamto sesekali menunjuk ke arah deretan rumah makan dan kedai di pinggir jalan, memberi rekomendasi kuliner khas Palembang kepada wisatawan yang menggunakan jasa rental mobil tempatnya bekerja. “Pempek di situ juga enak. Kalau mau, bisa ke sana,” ujarnya sambil tersenyum.
Menjadi sopir mobil rental baru sekitar enam bulan terakhir, tetapi profesi itu bukan satu-satunya sumber penghidupannya. Jika tidak ada panggilan mengantar penumpang, ia beralih mencuci pendingin ruangan (AC) dari rumah ke rumah sendirian. Ketika order cuci AC sepi, Sukamto mencari pekerjaan lain, yaitu membersihkan tandon air.
Tiga profesi—sopir rental, pencuci AC, dan pencuci tandon—dijalani bersamaan oleh Sukamto demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. “Kalau cuci AC Rp 60.000 per unit. Kalau banyak bisa Rp 50.000. Kalau tandon tergantung kapasitas, misalnya 1.500 liter Rp 200.000,” kata Sukamto saat ditemui.
Belajar Otodidak, Masuk ke Dalam Tandon
Pekerjaan mencuci AC dan tandon dipelajari Sukamto secara otodidak. Ia bahkan tidak ragu masuk langsung ke dalam tandon untuk menyikat dinding bagian dalam agar bersih dari lumut. “Sekarang sudah pakai kompresor, dikasih teman. Lumayan membantu, tapi tetap harus dicuci dari dalam supaya benar-benar bersih,” ujarnya.
Di balik kesederhanaan hidupnya, Sukamto menyimpan latar belakang pendidikan yang tidak banyak orang sangka. Ia adalah lulusan Universitas Sriwijaya (Unsri) jurusan teknik, lulus pada tahun 2004. Pernah mengelola lembaga les, penghasilannya dua digit.
Pernah Kelola Lembaga Les, Penghasilan Dua Digit
Setelah menikah dengan istrinya, Puput, Sukamto sempat tinggal di Bandar Lampung. Di sana, ia membuka usaha les privat untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, dan MIPA. Meski berlatar belakang teknik, Sukamto dikenal piawai mengajar Matematika. Sementara istrinya fokus mengajar Bahasa Inggris dan MIPA.
“Tahun 2006 kami buka tempat les privat namanya Ming Education Centre,” kenangnya. Usaha itu berkembang pesat, dengan enam pengajar dan banyak murid. Penghasilannya terbilang sangat mencukupi. “Bisa sampai dua digit waktu itu, karena muridnya juga banyak,” ujarnya.
Namun, pandemi Covid-19 menjadi titik balik kehidupannya. Jumlah murid terus menyusut. Upaya mengalihkan metode belajar secara daring melalui Zoom tak mampu menyelamatkan usaha tersebut. Pada 2021, lembaga les privat itu akhirnya tutup.
Pindah ke Palembang, Bertahan dengan Apa yang Ada
Bersama istri dan dua anaknya, Sukamto pindah ke Palembang untuk mencoba peruntungan baru. Namun, pasar les privat di kota ini tidak semudah yang dibayangkan. Ia sempat menawarkan diri sebagai pengajar, tetapi usia menjadi kendala. “Pernah melamar jadi pengajar, tapi karena usia, tidak diterima,” katanya.
Tak ingin larut dalam keterpurukan, Sukamto kemudian bekerja sebagai sales toko bahan bangunan. Beberapa tahun dijalani, pekerjaan itu ia tinggalkan karena kelelahan harus keluar-masuk kota. Ia pun memutuskan kembali bekerja mandiri, dimulai dari mencuci AC, lalu merambah ke jasa cuci tandon. Kesempatan menjadi sopir rental pun datang dan langsung ia ambil.
“Kalau ada panggilan dari rental, saya langsung jalan,” ujarnya. Upah yang diterima sebesar Rp 200.000 per hari untuk perjalanan dalam kota, dan Rp 300.000 untuk luar kota. Namun, pekerjaan itu bersifat musiman. “Awal tahun biasanya sepi. Ramainya akhir tahun atau Lebaran,” kata Sukamto.
Keinginan Membuka Kembali Tempat Les Privat
Keinginan membuka kembali tempat les privat masih tersimpan di benak Sukamto. Namun, keterbatasan modal dan tempat tinggal menjadi penghalang. Ia dan keluarganya saat ini tinggal di rumah kontrakan sederhana. “Kalau buka di rumah nggak bisa. Masih pengin sih buka les lagi, tapi harus cari modal dulu,” ujarnya.
Meski harus menjalani tiga profesi sekaligus, Sukamto mengaku tak mengeluh. Baginya, yang terpenting adalah memastikan keluarganya tetap bisa makan dan anak-anaknya memperoleh pendidikan yang layak. Dua anaknya kini duduk di bangku SD dan SMP.
Dengan pengeluaran sekitar Rp 3 juta per bulan dan penghasilan yang tak menentu, Sukamto memilih menjalani hidup apa adanya. “Mengeluh sih enggak. Dicukup-cukupi saja,” katanya menutup perbincangan.












