Pengalaman Masuk ke Toko Oen Semarang
Saat memasuki sebuah toko roti tua, disambut oleh karyawan yang sudah bekerja selama lebih dari 50 tahun, rasanya campur aduk: tersanjung sekaligus terharu. Itulah yang saya alami ketika pertama kali bertemu dengan Pak Moel, salah satu karyawan terlama di Toko Oen Semarang.
Sebelum bercerita tentang Pak Moel, saya ingin mengakui rasa malu. Saya tinggal lama di Semarang, tapi baru kali ini mampir ke toko roti paling legendaris di kota ini. Jika bukan karena menemani Kompasianer Latipah Rahman yang beberapa waktu lalu menyempatkan diri datang ke Semarang, mungkin saya tidak akan pernah terpikir untuk mampir ke Toko Oen.
Nama Toko Oen lebih dikenal oleh para pelancong. Ia selalu masuk daftar rekomendasi tempat yang wajib dikunjungi bagi mereka yang datang ke Semarang. Namun anehnya, namanya tidak begitu sering disebut di kalangan warga kabupaten seperti saya dan kawan-kawan.
Awalnya, saya dan Latipah Rahman mengunjungi Toko Oen yang berlokasi di dekat Stasiun Tawang. Sayangnya, kami datang terlalu pagi (padahal sudah siang). Toko mereka belum siap menerima pelanggan. Beruntung, kami masih sempat berbincang dengan penjaga toko.
Di sela-sela kesibukannya menata toko, ia menyarankan kami untuk mengunjungi Toko Oen yang ada di jalan Pemuda. Katanya, itulah Toko Oen pertama di Semarang. Menunya lebih lengkap, sementara yang di sini lebih mengunggulkan ice cream-nya.
Tanpa rasa takut akan tertinggal kereta, kami membelokkan motor ke arah jalan Pemuda. Kami berhasil menemukan sebuah bangunan tua yang kondisinya terhalang kabel-kabel listrik. Saya jadi kesal sendiri, mengapa ada kabel listrik di sana? Sungguh mengurangi unsur estetika! Foto yang saya dapat jadi tidak maksimal. Huft!
Rasa kesal itu langsung surut begitu kami melangkah masuk ke dalam toko. Seorang lelaki lanjut usia membukakan pintu dan menyapa kami dengan hangat. Saya cukup terkejut karena bukan seorang pria muda nan gagah seperti yang biasa kami temui ketika masuk ke sebuah bank.
Namanya Pak Moel. Kami sempat berbincang sebentar mengenai cerita perjalanan hidup beliau. Usianya masih terbilang muda ketika pertama kali bekerja di Toko Oen. Ia mulai bekerja tahun 1975 atau berusia sekitar 20 tahun. Ketika itu Toko Oen masih dikelola oleh generasi kedua. Bisa dibilang, Pak Moel sudah mengabdikan diri lebih dari 50 tahun di tempat ini.
Toko Oen sendiri sudah berdiri sejak 1936, beberapa tahun sebelum Indonesia merdeka. Kini usianya sudah menginjak 89 tahun, waktu yang tidak sebentar untuk merekam perubahan yang terjadi di sekitarnya.
“Sekarang lebih ramai. Kalau dulu kan kebanyakan orang bule, Belanda-Belanda, sampai tahun 2000,” mata Pak Moel menerawang, membayangkan bagaimana dulu Toko Oen ini masih menjadi tempat nongkrong favoritnya para Londo.
Kini Toko Oen memang lebih ramai. Saya rasa, efek pemberitaan dari media, blogger, dan para traveler cukup besar pengaruhnya. Pak Moel sendiri telah banyak menyapa pelanggan lintas zaman. Dari era masih banyak wajah asing hingga masa modern seperti sekarang.
Bule-bule yang datang ke sini bukan hanya orang Belanda yang mau bernostalgia, tapi ada juga yang dari Jerman dan negara-negara Eropa lain. Pak Moel juga mengaku bertemu dengan banyak wajah para pejabat baik sekelas wakil presiden, menteri, hingga gubernur.
“Dulu wakil Presiden, Pak Adam Malik pernah ke sini.” ujar beliau. Pak Moel juga bercerita kalau Pak Ganjar Pranowo sering mampir dengan bersepeda ketika hari libur, begitu pula gubernur Jateng setelahnya. Mereka seperti sudah berkawan baik dengan Pak Moel.
Toko Oen seperti magnet bagi kalangan pejabat. Usianya yang renta dan bangunannya yang bergaya kolonial menambah daya pikat tersendiri. Interiornya seolah membawa kita kembali ke masa lalu. Sebuah masa ketika noni-noni Belanda masih hilir mudik dan nongkrong sembari ngobrol santai di tempat ini.
“Dulu ini terbuka semua, Mba,” kata Pak Moel sembari menunjuk ke jendela-jendela mereka yang berukuran raksasa.
Sebuah foto lawas yang dipajang di salah satu sudut menunjukkan bagaimana rupa toko ini di masa dulu, persis seperti yang diceritakan Pak Moel. Toko ini memang belum banyak mengalami renovasi, hanya lantai mereka saja yang semakin tinggi karena beberapa kali diganti jenisnya. Menurut cerita Pak Moel, dulu, di bagian luar juga ada meja kursi yang terbuat dari rotan.
Soal menu, Toko Oen masih mempertahankan keotentikan citra rasa jadul. Iya, toko ini memang menjual aneka kue jadul khas Belanda seperti Eierkoek atau roti telur, Onbitjkoek -kue dengan aroma kayu manis, Amanda Vruchten hingga Ganjel Rel -kue khas Semarang. Masih banyak lagi menu-menu kue kering lawas yang masih bertahan hingga kini.
Sejak awal, toko ini memang berfokus menjual ice cream dan kue kering khas Belanda. Meski begitu, daftar menu terbaru yang mereka punya menampilkan banyak varian mulai dari Italian food, Chinese food, aneka salad, soup, appetizer, European food, dan tentu saja, Indonesian food.
Saya memesan Onbitjkoek dan Eierkoek yang -based on info pegawai- keduanya masuk menu best seller. Saya juga memesan teh panas, karena sepertinya cocok disandingkan dengan kedua menu tadi. Berbeda ide, lala memilih menyandingkannya dengan segelas kopi hitam. Ia juga membungkus beberapa kue kering untuk oleh-oleh orang rumah. Ya, kopi hitam bukan ide yang buruk, tampak menarik juga.
Saya menyantap Eierkoek bersama teh hangat dengan ditemani lagu-lagu jadul. Vibes di ruangan memang terasa sangat klasik, mungkin karena bangunannya, backsound-nya, meja kursinya, atau hidangan lawas yang ada dihadapan kami.
Kami membicarakan banyak hal: outfit batik yang tanpa sengaja kami kenakan dan terasa begitu menyatu dengan suasana, orang-orang Tionghoa yang konsisten menjaga bisnis keluarga, karyawan yang awet seperti Pak Moel, serta menu-menu yang rasanya seolah membawa kami kembali ke satu masa tertentu.
Waktu seolah memaksa kami bergegas menghabiskan sisa makanan yang ada. Kami harus segera bertolak menuju ke Stasiun Tawang. Di perjalanan ada yang mengganjal pikiran saya. Bodohnya saya bertanya ke Pak Moel, “di mana karyawan-karyawan lain yang seangkatan dengan Bapak?” Ia menjawab sembari tersenyum tipis, “semua sudah tidak ada Mbak.”
Ada semacam rasa sungkan pasca menanyakannya, seolah pertanyaan itu memaksa beliau terlalu banyak memutar ingatan dalam satu waktu. Terlalu banyak kenangan yang harus ia pelihara, sebagai satu-satunya orang lama yang tersisa di sana.












