Kehidupan YBR, Anak yang Berjuang untuk Sekolah
YBR (10), seorang anak SD yang mengakhiri hidupnya dengan tragis, menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Ia tinggal di sebuah pondok bambu sederhana bersama neneknya, Welumina. Sebagai anak bungsu, YBR tidak hanya dikenal rajin bersekolah, tetapi juga menjadi tumpuan kecil bagi keluarga yang mengasuhnya.
Di sudut sunyi Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), YBR menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak ringan. Meski usianya masih belia, ia terbiasa memikul beban berat. Setiap hari setelah pulang sekolah, YBR lebih sering membantu ketimbang bermain. Ia memanggul kayu bakar, mengangkut sayur dan ubi, lalu menjualnya demi menambah penghasilan keluarga.
Semua aktivitas ini dilakukan tanpa banyak bicara, demi membantu neneknya bertahan hidup. Bagi Welumina, cucunya adalah anak yang patuh dan jarang mengeluh. YBR selalu berusaha melakukan apa yang ia mampu, meski tenaganya terbatas. Namun, memasuki semester baru, YBR menghadapi kenyataan pahit: ia tidak memiliki buku tulis dan pena untuk menunjang kegiatan belajarnya.
Keinginan sederhana itu tak dapat terpenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang kian terhimpit. Diduga, keterbatasan itulah yang menumpuk keputusasaan dalam diri YBR. “Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” tutur Welumina. Namun kemampuan itu kalah oleh kerasnya kemiskinan, hingga YBR ditemukan tak bernyawa di pohon cengkeh, mengakhiri hidupnya karena mimpi kecilnya untuk memiliki buku dan pulpen tak terwujud.
Bantuan Pendidikan Terganjal Aturan
Tragedi ini menjadi semakin memilukan saat terungkap bahwa bantuan pemerintah sebenarnya sudah ada di depan mata. Maria Ngene, Kepala UPTD SD Negeri Rutojawa, mengungkapkan bahwa dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) sebesar Rp450 ribu sebenarnya sudah cair dan masuk ke rekening tabungan YBR.
Sejak kelas 1 hingga kelas 3 SD, YBR memang tidak pernah tersentuh bantuan apa pun, termasuk PIP, karena ketiadaan Nomor Induk Kependudukan (NIK). “Sejak kelas satu sampai kelas tiga dia belum menerima bantuan karena belum memiliki NIK,” kata Maria.
Baru pada tahun ini, harapan muncul saat pihak sekolah menyarankan YBR masuk ke Kartu Keluarga (KK) neneknya karena sang ibu masih terdaftar di Kabupaten Nagekeo. Setelah administrasi beres, YBR akhirnya terdaftar sebagai penerima PIP. Dana sebesar Rp450 ribu sebenarnya sudah masuk ke dalam rekening atas nama YBR.
Namun, saat hendak dicairkan untuk membeli buku dan pena yang sangat dibutuhkannya, tembok birokrasi kembali menghadang. Pihak bank menolak mencairkan dana tersebut karena perbedaan domisili KTP ibunya. Sang ibu tercatat sebagai warga Kabupaten Nagekeo, sementara YBR dan neneknya tinggal di Ngada.
Sekolah Tak Tahu YBR Kehabisan Buku
Meski hidup sangat sulit, keluarga YBR dikenal tetap bertanggung jawab terhadap urusan sekolah. Maria menyebutkan bahwa pembayaran uang komite tetap berjalan meski sering terlambat. “Pembayaran uang sekolah tetap berjalan, walaupun kadang terlambat. Entah ibunya atau neneknya yang membayar, kami tetap menerima,” jelasnya.
Namun, pihak sekolah mengaku tidak mengetahui bahwa YBR sedang mengalami kesulitan ekonomi, bahkan untuk membeli selembar buku. Menurut Maria, pemantauan kebutuhan pribadi biasanya ada di tangan wali kelas. “Saya belum menerima informasi soal kekurangan perlengkapan belajar. Biasanya wali kelas yang lebih mengetahui. Apalagi ini awal semester, mungkin kebutuhannya belum sempat dipenuhi,” ujar Maria.
Ia juga menambahkan bahwa selama di sekolah, YBR tidak pernah mengeluh. “Tidak ada laporan atau keluhan. Kami memang tidak bisa memantau kondisi pribadi semua siswa secara detail,” ucapnya.












