Detik-detik Pengemudi Ojol di Jakbar Dianiaya Paspampres, Awalnya Hanya Konfirmasi Alamat

Pengemudi Ojol di Jakarta Barat Diduga Dianiaya Anggota Paspampres

Peristiwa yang menimpa pengemudi ojek online (ojol) Hasan (26) di Jakarta Barat viral di media sosial setelah diduga menjadi korban penganiayaan oleh anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Kejadian ini bermula dari kesalahpahaman terkait alamat, yang berujung pada cekcok dan perkelahian.

Awal Peristiwa

Hasan menceritakan bahwa kejadian berawal saat ia menjemput penumpang bernama Nur di Jalan Mawar dengan tujuan Jalan Haji Lebar, kawasan Srengseng, Jakarta Barat. Namun, saat tiba di lokasi tujuan, penumpang menyatakan bahwa alamat tersebut salah. Ia mencoba memastikan arah dengan menggunakan fitur share location, tetapi tidak bisa dibuka.

Hasan kemudian mengikuti titik merah pada peta yang mengarah ke Jalan Kecapi, Meruya Utara, sekitar dua kilometer dari titik awal aplikasi. Meskipun sampai di sana, ia masih belum menemukan rumah yang dimaksud.

Dimaki Saat Konfirmasi Alamat

Sesampainya di Jalan Kecapi, Hasan meminta penumpangnya untuk menelpon pelaku agar bisa memastikan alamat. Telepon diserahkan kepada Hasan agar bisa bertanya langsung. Namun, alih-alih mendapat petunjuk, Hasan justru dimaki oleh pelaku di ujung telepon.

“Kami bilang, ‘Pak, saya di Jalan Kecapi nih, rumah Bapak ke mana lagi ya?’ Terus dia jawabannya malah kasar, marah-marah. ‘Ngapain kamu di Jalan Kecapi? Situ kan udah saya share-loc!'” ucap Hasan.

Meski sempat enggan mengantar penumpang hingga ke rumah pelaku, Hasan akhirnya melanjutkan karena kasihan kepada penumpang, seorang ibu-ibu yang pergi sendirian pada malam hari.

Cekcok dengan Pelaku

Sesampainya di lokasi, seorang pria yang merupakan anak pelaku sudah menunggu di depan rumah dengan nada menantang. “Anaknya sudah berdiri di depan rumah dengan nada kayak nantangin gitu, bilang kalau saya enggak sopan ke bapaknya. Padahal mah saya cuma nanya alamat, bapaknya dia yang ngomel-ngomel,” tutur Hasan.

Cekcok pun tak terhindarkan hingga anak pelaku menendang motor Hasan, memicu perkelahian antara keduanya. “Saya nggak terima kan, saya dorong, terus dia mukul saya, terus saya pukul juga. Pukul-pukulan di situ,” ucapnya.

Di tengah perkelahian itu, pelaku yang diduga anggota Paspampres keluar rumah membawa senjata tumpul berupa batang besi. “Bapaknya ini, saya perkirakan usia 40 sampai 50 tahun ke atas lah. Dia datang bawa besi dan mukul kepala saya. Sekali pukul pakai besi, terus warga langsung sudah di situ semua,” ungkap Hasan.

“Saya luka berdarah di dahi kiri, ngucur darahnya,” sambungnya.

RT Sebut Pelaku Paspampres

Setelah keributan, Hasan dibawa ke rumah RT setempat untuk menjelaskan kronologi. “Di situ saya dibawa ke rumah RT, ditanyain ada apa sebenarnya. Nah, di sini lah RT nya tuh bilang, katanya pelakunya itu anggota Paspampres,” jelas Hasan.

Hasan kemudian melakukan visum dan membuat laporan ke Polsek Kembangan. “Saya langsung lapor polisi. Nah, hari Sabtu (7/2/2026) saya dipanggil lagi, terus minta nomor RT setempat. Di situ polisi baru tahu karena nanya RT, iya kejadiannya benar pelaku Paspampres,” jelas Hasan.

Namun, polisi sempat menyatakan kesulitan memproses kasus tersebut karena status pelaku sebagai anggota militer. “Di situ kepolisian bilang, ‘Wah kalau Paspampres kita enggak bisa, harus ke Pomdam (Polisi Militer Kodam),” kata Hasan.

Harapan Kasus Ditindaklanjuti

Hasan pun membagikan keluhannya ke media sosial Instagram karena merasa kasusnya mandek. Setelah unggahannya viral, ia kembali dipanggil Polsek Kembangan untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Nah setelah viral itu, tadi pagi sih saya dipanggil buat ke kantor lagi. Katanya sih pemeriksaan lebih lanjut bilangnya. Cuma mungkin habis dari Polsek saya langsung ke Pomdam,” ucapnya.

Hasan berharap kasus ini ditindaklanjuti secara adil dan tidak ada penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat. “Ya, semoga ditindaklanjut lah. Jangan ada orang-orang yang punya jabatan begitu bisa seenaknya,” tutur Hasan.

Exit mobile version