Saksi Jambi tak bisa pulang setelah jadi korban penipuan kerja di Kamboja

Pengalaman Andri Budi Sanjaya, Korban Penipuan Kerja di Kamboja

Andri Budi Sanjaya, seorang korban penipuan berkedok lowongan kerja (job scam) di Kamboja, berhasil melarikan diri dari perusahaan tempat ia bekerja. Namun, meskipun telah kabur, ia masih terjebak dan belum bisa kembali ke Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja telah menghubunginya terkait proses pemulangannya.

Sebelumnya, Andri melaporkan bahwa paspornya hilang saat ia melarikan diri dari perusahaan tersebut. Menurutnya, paspor yang ia miliki diberikan oleh perusahaan kepada tukang masak perusahaan. Hal ini menyebabkan KBRI tidak mengenali namanya dalam daftar keberangkatan.

“Saya membuat laporan baru, tetapi nama saya belum muncul dalam list keberangkatan,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa sebagian besar korban berasal dari wilayah Medan, Sumatera Utara. “Mayoritas korban adalah 80 persen orang Medan.”

Kondisi para WNI korban scam tergolong memprihatinkan. Mereka tidak memiliki biaya untuk kembali ke Indonesia dan masih tertahan di Kamboja. Andri menambahkan bahwa hingga kini, ia hanya mengetahui adanya dua orang asal Jambi yang berada di Kamboja. Namun, ia belum menemukan keberadaan warga Jambi bernama Audy Lyliana Putri di penampungan imigrasi KBRI tempat dirinya berada.

Menurut pengakuannya, masih terdapat WNI yang berada di luar penampungan, baik di hotel maupun yang kembali bekerja di perusahaan scam.

Rekaman Video di Penampungan

Andri sempat mengirimkan rekaman video suasana di lokasi penampungan. Dalam video tersebut terlihat para WNI berbaris, sementara seorang perempuan memegang pengeras suara dan sebuah buku. Beberapa pria tampak tidak mengenakan kaus dan hanya memakai celana pendek. Video itu ditutup dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Perempuan dalam video tersebut bernama Armaha Yarapini br Sinaga, kelahiran Binjai, dengan KTP Jakarta Timur. Armaha diketahui bekerja sebagai juru masak di perusahaan scam yang sama dengan Andri.

Armaha menyatakan bahwa mereka adalah warga negara Indonesia yang sedang berada di penampungan di Kamboja. “Kami meminta kepada seluruh perwakilan, dari Kementerian, Presiden, baik itu siapapun kalian, tolong bantu kami,” katanya dalam video yang beredar.

Ia juga menyebut beberapa kepala daerah dalam video tersebut dan memohon pertolongan agar mereka dapat segera dipulangkan. “Kami mohon, segera berikan kami bantuan agar kami segera pulang secepatnya ke Indonesia. Apalagi sekarang mau mendekati bulan suci Ramadan. Kami rindu suasana di Indonesia. Kami hanya minta, tolong diproses cepat, agar kami bisa bekerja kembali di Indonesia. Bisa menafkahi anak-bini kami, kami harap segera keluar,” kata dia.

Kesaksian Kerabat Korban

Tribun Jambi berkesempatan mewawancarai Ibu Fauzan, kerabat sekaligus rekan dekat Andri Budi Sanjaya, warga Tanjung Pinang, Kota Jambi. Ia menceritakan kronologi keberangkatan hingga kondisi korban saat ini.

Menurut Ibu Fauzan, Andri berangkat ke Kamboja setelah memperoleh informasi lowongan kerja dari media sosial Facebook. Tawaran pekerjaan tersebut terdengar menjanjikan karena disebut sebagai pekerjaan di restoran dan penjaga desa. “Awalnya Andri mendapat informasi lowongan pekerjaan dari media sosial (Facebook). Iming-imingnya adalah bekerja untuk menjaga sebuah desa dan bekerja di restoran. Namun sesampainya di sana, ternyata pekerjaannya tidak sesuai. Itu adalah penipuan (scam),” ungkapnya.

Selama bekerja di perusahaan tersebut, Andri hidup di bawah pengawasan ketat. Ia tidak bebas bergerak dan harus memenuhi target yang ditentukan perusahaan. “Dia diawasi selama 24 jam penuh. Untuk tempat tidur dan makan memang disediakan, namun jika tidak bisa mencapai target perusahaan atau melanggar aturan, dia akan dihukum dan disiksa. Di sana penjagaan keamanannya sangat ketat, jadi tidak ada satu pun pekerja yang berani melawan,” jelas Ibu Fauzan.

Keberangkatan Andri ke luar negeri sebenarnya sudah mendapat penolakan dari keluarga dan kerabat dekat. Namun, peringatan tersebut tidak dihiraukannya. “Saat dia pamit, suami saya, yang merupakan teman akrab Andri, sebenarnya sudah melarang keras. Kami sudah mengingatkan bahwa ada larangan dan bahaya bekerja di negara seperti Kamboja, Thailand, atau Vietnam karena kondisinya mengerikan. Tapi Andri tetap ngotot berangkat. Mungkin karena tergiur iming-iming gaji besar,” tuturnya.

Kondisi Saat Ini

Beruntung, Andri akhirnya dapat terbebas setelah adanya operasi razia besar-besaran yang dilakukan aparat setempat. “Alhamdulillah, sekitar seminggu yang lalu ada razia besar-besaran di sana. Berkat razia itulah dia bisa bebas dan diamankan. Kalau tidak ada razia itu, mungkin sudah tidak ada harapan hidup untuknya,” ujarnya.

Saat ini, Andri berada di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja. Meski kondisinya dinyatakan aman, proses pemulangan ke Indonesia terkendala biaya tiket pesawat. “Kondisinya saat ini sudah aman. Untuk makan ditanggung di KBRI sehari dua kali. Dia sudah bisa pulang, namun kendalanya adalah ongkos tiket pesawat yang harus ditanggung secara mandiri,” kata Ibu Fauzan.

Di Jambi, Andri disebut hidup sebatang kara. Ia hanya memiliki mantan istri dan tidak memiliki keluarga inti yang bisa langsung menanggung biaya kepulangannya. “Pak Andri di Jambi ini posisinya sebatang kara, dia hanya memiliki mantan istri. Karena suami saya teman dekatnya, kami sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri,” ungkapnya.

Selain keterbatasan biaya, pengiriman uang pun tidak bisa dilakukan secara langsung ke rekening Andri. “Keterbatasan kami saat ini adalah masalah finansial untuk membeli tiket pesawat. Pengiriman uang pun tidak bisa langsung ke rekening Andri, harus melalui perantara atau prosedur resmi KBRI,” tambahnya.

Melalui Tribun Jambi, pihak keluarga dan kerabat berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah serta masyarakat. “Harapan kami saat ini adalah meminta pertolongan kepada Pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jambi. Kami memohon bantuan, baik dari pemerintah maupun pihak swasta dan masyarakat Jambi, untuk membantu biaya kepulangan Pak Andri agar dia bisa kembali ke Jambi dengan selamat,” pungkas Ibu Fauzan.


Exit mobile version