Budaya  

Masjid Kuningan Pondok Kidul, Saksi Bisu Sejarah Islam di Blitar yang Berusia Lebih Dua Abad

Sejarah Masjid Kuningan Pondok Kidul, Saksi Perjuangan Penyebaran Islam di Blitar

Masjid Kuningan Pondok Kidul di Desa Kuningan Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, menjadi salah satu saksi sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Blitar Raya. Dibangun sekitar tahun 1823, masjid ini dikenal sebagai masjid tertua di Blitar dan lebih tua dibandingkan Masjid Agung Kota Blitar yang dibangun pada sekitar 1895.

Usia Masjid Kuningan Pondok Kidul mencapai lebih dari dua abad atau sekitar 200 tahun. Masjid ini didirikan oleh dua tokoh penting yang juga merupakan pasukan khusus Pangeran Diponegoro, yaitu Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur. Keduanya memiliki hubungan bapak mertua dan anak menantu. Syekh Abu Hasan adalah bapak mertua dari Syekh Abu Mansur.

Sebelum menyebarkan agama Islam ke Blitar, kedua tokoh ini telah memiliki peran penting di Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta. Syekh Abu Hasan adalah salah satu ulama di kerajaan tersebut, sedangkan Syekh Abu Mansur secara silsilah masih keturunan Raja Mataram Islam Pertama, Panembahan Senopati.

Menurut Pengurus Masjid Kuningan Pondok Kidul, M Haikal Asfari, Syekh Abu Hasan yang pertama kali datang ke wilayah Blitar. Beberapa tahun kemudian, menantunya, Syekh Abu Mansur, menyusul ke sini. Mereka mendirikan pondok pesantren dan masjid sebagai pusat pendidikan dan kegiatan agama bagi masyarakat di wilayah Blitar.

Pada masa perang Jawa, ketika Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur tetap tinggal di Blitar. Mereka terus meneruskan misi daulat dari Diponegoro, yaitu membebaskan rakyat dari penjajah dan menyebarkan agama Islam. Jika mereka kembali ke Yogyakarta, kemungkinan besar akan ikut ditangkap karena pemerintah Hindia Belanda mendoktrin masyarakat bahwa Pangeran Diponegoro adalah pemberontak.

Akhirnya, Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur tetap tinggal di Desa Kuningan Kecamatan Kanigoro untuk mensiarkan agama Islam. Jejak peninggalan mereka, berupa bangunan pondok dan masjid, hingga kini masih terawat dan digunakan oleh masyarakat.

Bangunan Lama Pondok Masih Utuh

Sampai saat ini, bangunan rumah panggung dengan arsitektur gaya joglo masih berdiri kokoh di halaman Masjid Kuningan Pondok Kidul. Rumah panggung ini memiliki dinding kombinasi bata di bagian bawah dan kayu jati di atasnya. Bangunan ini merupakan peninggalan Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur yang menjadi saksi sejarah penyebaran Islam di Blitar.

Dulunya, bangunan ini digunakan sebagai pondok untuk para santri yang ingin belajar agama Islam. Pembangunan pondok dan masjid hampir bersamaan pada sekitar tahun 1830. Bangunan pondok digunakan untuk pendidikan, sedangkan masjid untuk ibadah.

Asfari menjelaskan bahwa sekitar 90 persen konstruksi bangunan pondok masih asli seperti awal didirikan. Kayu dan genteng bangunan pondok masih asli, tidak banyak yang diganti. Pintu pondok juga masih asli dengan engsel model lama menggunakan bahan kayu.

Lantai di dalam pondok diganti dari bambu yang dibelah menjadi kayu. Bagian lainnya, termasuk genteng, kayu, dan pintu, masih asli seperti semula. Bangunan pondok memiliki enam kamar yang posisinya saling berhadapan. Penyekat tiap kamar menggunakan anyaman bambu.

Di masing-masing bagian atas pintu kamar terdapat ukiran yang modelnya mirip dengan ukiran di bagian langit-langit menara Masjid Kuningan Pondok Kidul. Bentuk ukiran sama ini menjadi tanda bahwa pembangunan pondok dan masjid dilakukan hampir bersamaan.

Dari pintu pondok terdapat batu andesit yang ditata memanjang berjarak satu jangkah kaki menuju ke masjid. Batu-batu andesit itu menjadi jalan bagi para santri yang sudah bersuci dari pondok menuju ke masjid dan sebaliknya.

Masjid Masih Difungsikan untuk Ibadah Masyarakat

Sampai sekarang, Masjid Kuningan Pondok Kidul masih difungsikan untuk ibadah masyarakat. Bangunan asli masjid masih dipertahankan hingga kini. Sekarang, bangunan asli berada di bagian dalam masjid, setelah ada penambahan serambi depan dan samping kiri masjid.

Renovasi terakhir masjid ini dilakukan pada tahun 1880, dan sejak itu tidak ada penambahan, kecuali penambahan serambi karena kebutuhan umat. Dinding dan pilar di bagian dalam masjid masih asli dari bangunan sejak peninggalan Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur.

Beberapa properti di masjid, seperti bedug dan mimbar, juga merupakan peninggalan Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur. Peninggalan lain yang masih digunakan adalah tombak untuk khotib saat khotbah salat Jumat. Tombak ini diberi nama tombak Dwisula dengan dua mata tombak di ujungnya.

Menurut Asfari, sampai saat ini, masjid masih difungsikan untuk ibadah salat jamaah oleh masyarakat. Saat momen puasa Ramadan 2026, masjid juga digunakan untuk salat Tarawih, tadarus, itikaf, dan anak-anak mengaji.

Selain itu, masjid ini juga menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Blitar. Banyak peziarah dari Blitar dan luar kota yang datang berziarah ke Makam Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur yang berada di kompleks area masjid. Seperti saat menjelang Ramadan, banyak peziarah yang datang untuk nyekar di makam tersebut.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *