Istri Ipda Purnomo yang Setia Bantu Suami Bina ODGJ dan 39 Guru PPPK Tuban

Dukungan Penuh Istri Menjadi Fondasi Aksi Sosial Ipda Purnomo

Di balik sosok Ipda Purnomo yang dikenal luas karena aksi-aksi kemanusiaannya, ada figur perempuan yang jarang tersorot namun perannya sangat menentukan. Lilik Ika Wahyuni, sang istri, menjadi orang pertama yang berdiri di belakang keputusan-keputusan besar suaminya. Bahkan sejak hari-hari awal ketika ODGJ dibawa pulang ke rumah dan dimandikan bersama, tanpa ragu, tanpa pamrih.

Lilik Ika Wahyuni dikenal publik sebagai istri dari Ipda Purnomo, seorang perwira polisi yang viral karena kiprahnya dalam kegiatan kemanusiaan. Meski jarang tersorot secara personal, Lilik Ika Wahyuni memiliki peran penting di balik aktivitas sosial sang suami. Ia setia mendampingi Purnomo dalam berbagai aksi kemanusiaan, mulai dari santunan anak yatim, bantuan bencana, hingga merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang terlantar di jalanan.

Tanpa latar belakang khusus di bidang kesehatan, Lilik terlibat langsung dalam perawatan sehari-hari, seperti memberi makan, membersihkan, dan membantu proses pemulihan para ODGJ di rumah mereka. Bersama suaminya, ia juga aktif mencari keluarga para ODGJ melalui media sosial agar mereka bisa kembali ke lingkungan asal. Dedikasi Lilik dilakukan secara tulus sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan, menjadikannya sosok pendamping yang bukan hanya berperan sebagai istri polisi, tetapi juga mitra sejati dalam pengabdian sosial yang menyentuh banyak kehidupan.

Perjalanan Kemanusiaan yang Dimulai dari Niat Baik

Ipda Purnomo (46), anggota Polri yang kini menjabat Kepala Unit Binpolmas Satbinmas Polres Lamongan, dikenal sebagai sosok yang konsisten melakukan aksi sosial. Ia mendirikan Yayasan Berkas Bersinar Abadi, lembaga yang secara khusus merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari berbagai daerah.

Perjalanan itu bermula dari pengalaman sederhana saat dirinya masih bertugas sebagai Bhabinkamtibmas. “Awalnya itu, saat saya masih dinas di Polsek Babat, dan jadi Bhabinkamtibmas di Kelurahan Banaran.” “Melihat ada ODGJ keliaran jadi kasihan, makanya muncul inisiatif menolongnya,” kata Pak Pur, Minggu (1/2/2026).

Niat tersebut tak berhenti sebagai empati sesaat. Justru dari sanalah, langkah panjang dimulai, dengan dukungan penuh dari sang istri. “Bulan Maret besok itu, tahun kesembilan (menekuni menolong ODGJ), yayasan masuk tahun kelima.” “Istri mendukung, saat awal itu sampai ikut memandikan ODGJ yang saya bawa pulang ke rumah,” katanya.

Mengorbankan Uang Pribadi Demi Martabat ODGJ

Dalam menjalankan misi kemanusiaannya, Ipda Purnomo tak jarang harus mengandalkan dana pribadi yang bersumber dari tunjangannya sebagai anggota Polri. Tantangan pun datang dari berbagai arah, termasuk keluhan warga atas perilaku ODGJ yang kerap dianggap meresahkan.

Upaya membawa ODGJ ke rumah sakit jiwa tak selalu berjalan mulus. “Oleh pihak rumah sakit ditolak, karena enggak ada KTP keluarga.” “Kemudian saya ditawari, agar ditaruh di yayasan swasta dengan biaya Rp 3,5 juta per bulan.” “Saya langsung dimarahi sama istri,” kenang Pak Pur. Teguran itulah yang justru melahirkan solusi besar.

“Kemudian, istri usul kepada saya agar bikin sendiri (mendirikan yayasan),” katanya. Dengan tekad bulat, Ipda Purnomo mendirikan Yayasan Berkas Sinar Abadi setelah meminta izin Bupati Lamongan serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial setempat.

Tangis dan Bahagia dalam Satu Jalan Pengabdian

Selama bertahun-tahun bergelut di dunia sosial, Ipda Purnomo mengaku emosinya kerap diuji. Ia menyaksikan langsung praktik pemasungan dan penolakan keluarga terhadap anggota mereka yang mengalami gangguan jiwa. “Saya itu sedih namun bahagia. Sedih ketika melihat ODGJ dipasung seperti di Blitar, yang hendak saya ajak tapi ibunya menolak.” “Namun bahagia, ketika anak itu akhirnya sembuh dan memeluk ibunya saat dijemput di Lamongan,” kata Pak Pur.

Bagi Purnomo, momen-momen itu menjadi pengingat bahwa perjuangan ini bukan soal angka, melainkan tentang memulihkan martabat manusia.

Uluran Tangan untuk Guru PPPK dan Seorang Pemulung

Kepedulian Ipda Purnomo tak berhenti pada isu kesehatan mental. Baru-baru ini, Ipda Purnomo membagikan bantuan uang tunai kepada puluhan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kabupaten Tuban yang sebelumnya diputus kontraknya. Total bantuan yang diberikan mencapai Rp11.700.000 dan disalurkan kepada 39 guru PPPK terdampak. Yang berarti masing-masing menerima Rp 300 ribu.

Bantuan tersebut merupakan bentuk empati sekaligus dukungan moral agar para guru tetap semangat menjalani aktivitas sehari-hari meski menghadapi kondisi sulit. “Semoga dengan bantuan ini bisa memberikan keringanan kepada mereka. Dan bisa untuk membeli kebutuhan masuk bulan puasa ini,” kata Purnomo, Rabu (18/2/2026).

Selain itu, Ipda Purnomo juga seorang ibu berjalan kaki sambil memanggul dua karung besar berisi barang bekas, Jumat (20/2/2026). Ibu tersebut diketahui bernama Muntama (56), warga Desa Suci, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Sehari-hari ia berjalan kaki sejak subuh hingga selepas Asar untuk mencari rongsokan di sepanjang jalan.

Tanpa ragu, Purnomo bergegas menghentikan kendaraan yang dikendarainya dan menghampiri sang ibu. Melihat beban berat yang dipikulnya, Ipda Purnomo kemudian menawarkan bantuan dan mengantarkan Ibu Muntama pulang ke rumahnya. “Beliau sudah puluhan tahun keliling jalan kaki mencari barang bekas untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ujar Purnomo anggota Polres Lamongan ini kepada .

Tak hanya mengantar pulang, polisi tersebut juga memberikan sejumlah uang agar Muntama bisa segera membeli kebutuhan pokok di rumanya. “Saya terenyuh dan saya beri Rp 1 juta untuk belanja keperluan selama Ramadan,” kata Purnomo. Suasana haru pun tak terelakkan. Muntama memeluk dan mendoakan para anggota polisi dengan mata berkaca-kaca. Tangis bahagia pecah sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang datang di hari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *