Indonesia Bank Beri Insentif, Kredit Tumbuh Rendah, Apa Penyebabnya?

Pertumbuhan Kredit Perbankan yang Masih Belum Optimal

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit perbankan saat ini masih belum mencapai level yang optimal. Meskipun Bank Indonesia (BI) telah mengeluarkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM), kondisi tersebut tetap terjadi.

“Di dalam kredit perbankan, credit gap masih terjadi, artinya walaupun likuiditas bank banyak, pertumbuhan kredit belum mencapai level yang optimal. Ini yang terus kami dorong,” ujar Destry dalam acara Peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK), Jumat (27/2/2026).

BI mencatat pertumbuhan kredit sepanjang 2025 masih berada di level single digit, yakni mencapai 9,69 persen. Memasuki 2026, pada Januari 2026 pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 9,96 persen. BI menargetkan kredit tumbuh 8—12 persen pada 2026, sedangkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan pertumbuhan kredit double digit, sekitar 10—12 persen.

Destry menjelaskan, dalam dua tahun terakhir BI memiliki kebijakan likuiditas makroprudensial atau KLM yang terus digencarkan sebagai upaya mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Hingga pekan pertama Februari 2026, total insentif KLM yang diberikan kepada bank mencapai Rp 427,5 triliun.

Ia menerangkan, bank yang dalam kondisi normal memiliki kewajiban menempatkan dananya sebagai Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 9 persen. Namun, karena bank tersebut menyalurkan kredit kepada sektor-sektor prioritas, termasuk sektor inklusi, GWM efektif menjadi 3,5 persen. Artinya, 5,5 persen kembali kepada bank dan saat ini telah dimanfaatkan sekitar Rp 427,5 triliun.

“Kami paham bahwa dalam enam bulan atau satu tahun terakhir ini ada tantangan di perbankan, khususnya jika berbicara intermediasi. Karena itu kami mengakselerasi intermediasi untuk pertumbuhan ekonomi. Likuiditas sebenarnya ada dari sisi supply side, tinggal mungkin di sisi demand yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” jelasnya.



Seorang warga menerima uang pecahan rupiah dari petugas mobil kas keliling Bank Indonesia. – (ANTARA FOTO/Jessica Wuysang)

Destry menuturkan, salah satu yang menghambat pertumbuhan kredit perbankan adalah suku bunga yang relatif masih tinggi. Suku bunga acuan atau BI Rate sebenarnya sudah diturunkan sejak September 2024 sebesar 150 basis poin (bps). Namun, transmisi ke penurunan suku bunga kredit perbankan masih cukup minim, yakni turun 40 bps dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,8 persen pada Januari 2026.

BI melakukan variasi pada kebijakan KLM sebagai upaya mendorong pertumbuhan kredit. Kebijakan itu meliputi lending rate channel dan interest rate channel. Interest rate channel diketahui baru dua bulan berjalan. Dari total insentif KLM Rp 427,5 triliun, sebanyak Rp 357,9 triliun dialokasikan untuk lending rate channel, sedangkan Rp 69,6 triliun untuk interest rate channel.

Destry menuturkan, meski suku bunga kredit existing baru turun 40 bps, suku bunga kredit baru sudah turun lebih masif, yakni mencapai 88 bps. Hal itu menunjukkan transmisi kebijakan suku bunga mulai berjalan, sejalan dengan realisasi insentif KLM interest rate channel yang hampir mencapai Rp 69,6 triliun dalam kurang lebih dua bulan.

Ia menyebut BI bersama OJK terus mendorong bank agar menurunkan special rate sehingga lending rate-nya juga ikut turun.

“Dan tentunya tantangan ke depan bagi perbankan adalah kami optimistis intermediasi ini bisa lebih baik. Karena kalau kita lihat undisbursed loan bank itu masih cukup besar, saat ini berada di level Rp 2.506 triliun atau 22,65 persen dari plafon kredit yang tersedia,” ujarnya.

Bank Indonesia juga menyampaikan terjadi selisih kredit atau credit gap perbankan Indonesia antara likuiditas perbankan dan permintaan kredit yang cukup tinggi. BI mendorong pelaku pasar tidak lagi wait and see pada 2026 agar ekonomi bisa lebih terdorong.

“Credit gap kita mengalami kondisi di bawah potential level-nya,” kata Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Solikin M. Juhro dalam acara Peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK), Jumat (27/2/2026).

Solikin menjelaskan, pertumbuhan kredit perbankan perlu diupayakan lebih kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2026 yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Pada 2025, BI mencatat pertumbuhan kredit perbankan 9,69 persen, berada di kisaran target 8—11 persen.



Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Solikin M Juhro. – (/Eva Rianti)

Memasuki 2026, BI mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada Januari 2026 sebesar 9,96 persen. Bank sentral menargetkan kredit perbankan tumbuh 8—12 persen pada tahun ini, sementara target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yakni double digit di kisaran 10—12 persen.

Ia menuturkan, untuk mendorong pertumbuhan kredit yang lebih tinggi, baik supply maupun demand harus sama-sama kuat. Dengan kuatnya kedua sisi tersebut, credit gap akan bergerak menyempit.

“Kita akan mempersempit credit gap, mempersempit output gap. Caranya, pembiayaan dari sisi supply disediakan, dan dari sisi demand juga harus didorong dengan baik. Kita lihat tahun ini kadar wait and see-nya lebih berkurang. Kita harapkan seperti itu,” ujar Solikin.

Dari sisi supply, BI dalam dua tahun terakhir memiliki kebijakan insentif likuiditas makroprudensial atau KLM yang terus digencarkan sebagai upaya mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Hingga pekan pertama Februari 2026, total insentif KLM yang diberikan kepada bank mencapai Rp 427,5 triliun. Sebanyak Rp 357,9 triliun di antaranya untuk lending rate channel, sedangkan Rp 69,6 triliun untuk interest rate channel.

Solikin mengatakan, masih ada cukup ruang untuk menggelontorkan KLM ke perbankan. Ia menyebut index lending requirement (ILR) menunjukkan kapasitas lending masih cukup longgar. Adapun dari sisi pricing, suku bunga sudah mulai turun.

BI terus mendorong transmisi suku bunga perbankan agar terus turun. Meski sudah tercatat turun, penurunan tersebut dinilai masih perlu didorong lebih lanjut.

Sepanjang 2025, suku bunga acuan (BI Rate) telah dipangkas sebanyak 125 basis poin (bps). Namun, transmisi ke penurunan suku bunga kredit perbankan masih cukup minim, yakni turun 40 bps dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,8 persen pada Januari 2026. Kendati demikian, meski suku bunga kredit existing baru turun 40 bps, BI mencatat suku bunga kredit baru sudah turun lebih masif mencapai 88 bps.

Sementara itu, dari sisi demand, diharapkan program-program Pemerintah dapat terealisasi secara optimal. Dengan begitu, perputaran ekonomi akan lebih bergairah sehingga mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Program-program Pemerintah juga diharapkan dapat mendorong konsumsi rumah tangga. Solikin berharap konsumsi rumah tangga bisa bangkit karena dampak yang belum sepenuhnya pulih pasca-Covid-19.

“Di sini tentunya stabilitas makroekonomi menjadi tumpuan agar investasi atau sektor demand ini bergerak,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *