Panas Perang Timur Tengah, Disnaker Catat 2.490 PMI Bali, Ancaman Kehilangan 30 Persen Wisman

Perang di Timur Tengah Mengancam Keamanan dan Pariwisata Bali

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran semakin memanas, menyebabkan gangguan keamanan global. Hal ini berdampak langsung pada penerbangan, terutama di wilayah udara yang terkena dampak konflik. Seorang warga Bali asal Sanur, Kota Denpasar, Adi Darmadi (31), kini terjebak di Dubai dan belum dapat kembali ke Bali.

Adi datang ke Dubai untuk berlibur selama satu minggu. Setelah berlibur selama tiga hari, ia tidak menyangka akan menghadapi situasi seperti ini. Ia memutuskan segera pulang ke Bali, tetapi aktivitas penerbangan di Bandara Dubai masih ditutup. Informasi yang diterima oleh Adi menyebutkan bahwa maskapai Emirates akan melanjutkan jadwal penerbangan mereka, namun hingga saat ini belum ada konfirmasi dari pihak bandara.

Adi sudah berada di Dubai selama lima hari. Ia merasa khawatir karena belum mendapatkan kepastian kapan bisa kembali ke Bali. Selain itu, ia juga takut jika pesawat yang digunakan nanti terkena rudal perang. Meski situasi di Dubai masih kondusif, ia tetap cemas dan berharap bandara segera dibuka agar bisa kembali ke Bali untuk makan babi guling.

PMI Asal Bali yang Bekerja di Timur Tengah

Sementara itu, Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali mengatakan hingga saat ini belum ditemukan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali yang bekerja di Iran. Data dari Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) dan situs resmi KP2MI menunjukkan bahwa pada tahun 2025 tercatat 2.490 PMI asal Bali bekerja di kawasan Timur Tengah. Pada 2026 (hingga Februari) tercatat 187 orang.

Dari 11 negara tujuan di kawasan Timur Tengah pada 2025, termasuk Turki, Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, Oman, Qatar, Bahrain, Lebanon, dan Mesir, tidak terdapat penempatan PMI asal Bali ke Iran pada tahun tersebut. Pada 2024, hanya satu orang yang terdata bekerja di Iran.

Pemprov Bali melakukan koordinasi intensif dengan BP3MI Bali dan dinas ketenagakerjaan kabupaten/kota untuk inventarisasi jumlah PMI asal Bali yang bekerja di negara-negara Timur Tengah. Sampai saat ini, belum ada laporan PMI asal Bali yang bekerja di Iran.

Dampak Perang Terhadap Pariwisata Bali

Konflik militer yang memanas antara AS dan Israel melawan Iran, meskipun terjadi ribuan kilometer dari Bali, mulai terasa nyata di Bali. Dampaknya terutama dirasakan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Pelaku pariwisata di Bali mulai cemas akan kondisi pariwisata akibat perang di wilayah Timur Tengah.

Selain mempengaruhi penerbangan menuju Timur Tengah, perang tersebut juga membuat terjadinya pembatalan pemesanan akomodasi penginapan di Bali. Ketua Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA), I Kadek Adnyana, mengungkapkan bahwa telah terjadi pembatalan sekitar 20 sampai 30 persen dari anggota.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, menyatakan bahwa pariwisata di Bali sangat dipengaruhi oleh adanya perang di Timur Tengah. Dampaknya terlihat dari penundaan penerbangan dari Middle East atau negara-negara yang berada di Timur Tengah.

Pengamat Pariwisata dari Universitas Warmadewa, Dr. I Made Suniastha Amerta, mengungkapkan bahwa dampak konflik langsung menyasar pada konektivitas, dimana penerbangan dibatalkan, rute diputar, dan harga tiket melonjak. Denyut pariwisata Bali dari Eropa dan Timur Tengah sangat bergantung pada hub penerbangan utama seperti Doha, Dubai, dan Abu Dhabi. Ketika ruang udara di kawasan Timur Tengah dibatasi, rantai kedatangan wisatawan internasional otomatis tercekik.

Langkah Pemerintah dan Komunitas Wisata

Pemerintah Provinsi Bali menegaskan bahwa apabila terdapat perkembangan terbaru atau laporan PMI terdampak, langkah-langkah penanganan dan perlindungan akan segera dilakukan. Hingga kini, belum ada pengaduan maupun laporan resmi terkait PMI asal Bali yang berada di Iran.

Anggota Komite III DPD RI, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, menilai pemerintah perlu menunjukkan empati kepada wisatawan yang terdampak dan masih berada di Bali. Ia mengusulkan pemerintah pusat melalui kementerian terkait bersama pemerintah daerah membentuk satuan tugas (satgas) pelayanan. Satgas ini penting agar wisatawan yang belum bisa kembali tetap mendapat informasi dan pelayanan yang jelas.

Dengan situasi yang semakin tidak pasti, seluruh komponen pariwisata di Bali diminta bersiap menghadapi berbagai kemungkinan. Termasuk memikirkan PMI asal Bali yang jumlahnya cukup banyak di kawasan Timur Tengah. Semua harus diantisipasi sejak dini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *