Kultum tentang Komunikasi Damai dalam Buka Puasa Bersama di Unimal
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (Unimal), Dr Kamaruddin Hasan, memberikan kultum bertema komunikasi damai selama acara buka puasa bersama yang digelar di Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe. Acara ini menjadi momen penting untuk memperkaya diskursus akademik sekaligus mempererat hubungan antar sesama dalam bulan Ramadhan.
Kultum yang disampaikan oleh Dr Kamaruddin Hasan, dosen yang juga merupakan Doktor Komunikasi Damai pertama di Indonesia, mengajak peserta untuk memahami bahwa komunikasi damai tidak hanya sekadar meredam konflik, tetapi juga membangun empati, dialog, dan penghargaan terhadap perbedaan. Ia menekankan bahwa komunikasi damai dapat dikembangkan dengan menggali nilai-nilai kearifan lokal Aceh yang hidup di tengah masyarakat.
Pentingnya Nilai Lokal dalam Komunikasi Damai
Menurut Dr Kamaruddin Hasan, dalam kajian komunikasi, tidak selalu harus bergantung pada teori-teori Barat. Nilai-nilai lokal, termasuk kearifan Aceh, bisa menjadi dasar penting dalam membangun konsep komunikasi yang relevan dengan konteks sosial kita. Ia menjelaskan bahwa sistem komunikasi lokal yang berkembang di daerah, termasuk di Aceh, memiliki perspektif dan nilai-nilai komunikasi yang berbeda-beda.
Ia juga menyebutkan bahwa dalam beberapa semester, kajian mengenai sistem komunikasi Aceh pernah dirancang sebagai bagian dari pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk memperkuat konsep local wisdom atau kearifan lokal dalam studi komunikasi. Dengan demikian, pendekatan komunikasi tidak hanya dilihat dalam kerangka konflik antar kelompok atau negara, tetapi juga melalui sudut pandang budaya, agama, dan nilai sosial yang berkembang di masyarakat.
Pengembangan Meta Teori Komunikasi
Selain itu, Dr Kamaruddin Hasan menyoroti pentingnya pengembangan meta teori komunikasi yang tidak hanya berasal dari pendekatan Barat. Ia menilai bahwa nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal juga bisa menjadi sumber teori komunikasi yang relevan. Jika ditelaah lebih dalam, nilai-nilai tersebut dapat dihubungkan dengan komunikasi interpersonal yang menekankan penghormatan, empati, dan sikap inklusif dalam berinteraksi.
Beberapa negara memiliki nilai-nilai komunikasi damai yang lahir dari budaya mereka masing-masing. Misalnya, nilai inklusivisme dan empati menjadi prinsip penting yang dapat menjembatani perbedaan tanpa harus berujung pada konflik. Ia menambahkan bahwa konsep komunikasi damai juga relevan diterapkan dalam berbagai bidang, seperti pemasaran. Pendekatan komunikasi yang menghargai nilai budaya dan kearifan lokal dapat memperkuat hubungan antara komunikator dan audiens.
Peran Empati dalam Komunikasi Damai
Wakil Dekan I FISIP Unimal, Prof Suadi, menegaskan bahwa dalam konteks komunikasi damai, empati menjadi salah satu unsur penting yang mampu menjembatani perbedaan. Empati memungkinkan seseorang memahami sudut pandang orang lain tanpa harus memicu agresi atau kekerasan. Menurutnya, empati menjadi kunci dalam komunikasi damai karena memungkinkan seseorang menghormati perbedaan dan membangun dialog tanpa harus menyelesaikan persoalan melalui kekerasan fisik.
Sebelum pelaksanaan buka puasa bersama, kegiatan juga diisi dengan diskusi ringan mengenai prospek pengembangan kajian komunikasi damai sebagai salah satu penciri akademik Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unimal. Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi, Awaluddin Arifin, menyampaikan apresiasi kepada semua dosen dan staf yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada semua dosen dan staf yang telah berpartisipasi dalam kegiatan buka puasa bersama yang dirangkai dengan diskusi dan kultum mengenai komunikasi damai. Semoga kegiatan ini dapat terus mempererat silaturahmi sekaligus memperkaya diskursus akademik di lingkungan Ilmu Komunikasi,” ujarnya.
Acara ini turut dihadiri oleh Dekan FISIP Unimal, Teuku Zulkarnaen, PhD; Wakil Dekan I FISIP, Prof Dr Suadi; Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi dan Politik, Subhani, MSi; Sekretaris Jurusan Ilmu Komunikasi dan Politik, Dr Mulyadi; serta Koordinator Program Studi Ilmu Politik, Teuku Muzaffarsyah, MAP.












