Kematian Dedi Putra: Keluarga Ungkap Kebijakan Tak Wajar di Polda Jambi

Kejanggalan dalam Kasus Kematian Dedi Putra

Dewi Yulianti, warga Jalan Marene RT 01, Desa Kasang Kumpeh, Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, terus berjuang untuk mendapatkan keadilan atas kematian adiknya, Dedi Putra. Ia meminta Polda Jambi untuk mengungkap misteri yang terjadi di balik kematian Dedi, yang ditemukan tak bernyawa di dalam kamar tidur pada 19 Mei 2025 dengan kondisi penuh lebam.

Sejak awal, Dewi merasa ada sesuatu yang tidak wajar dalam kematian Dedi. Awalnya, Polsek Kumpe Ulu menyatakan bahwa Dedi tewas karena kecelakaan. Namun setelah perjuangan panjang, keluarga akhirnya meminta ekshumasi dan hasilnya menunjukkan bahwa Dedi tewas akibat penganiayaan berat.

“Hasil ekshumasi menunjukkan bahwa wajah dan kepalanya hancur, kondisinya sangat parah. Tetapi sampai saat ini, polisi tidak memberikan kejelasan apapun soal kematian adik saya,” kata Dewi, saat diwawancarai pada Jumat (06/03/2026).

Kejanggalan Setelah Ekshumasi

Setelah menduga adanya kejanggalan kematian Dedi, pihak keluarga meminta Polda Jambi melakukan ekshumasi. Permintaan itu dikabulkan, tepat pada 7 Agustus 2025, proses ekshumasi dilakukan. Dedi dinyatakan tewas akibat luka benda tumpul di bagian kepala, bukan karena kecelakaan seperti yang disampaikan oleh Polsek Kumpe Ulu saat pertama kali kematian Dedi.

Pasca hasil ekshumasi keluar, respons Polda Jambi dalam kasus ini berubah. Penyidik mulai berdalih, dan justru bersikap keras ke pihak korban.

“Kok setelah hasil ekshuasi keluar semua berubah, respons penyidik setiap kali kami datang beda seperti di awal, pas lihat kami itu kek langsung emosi, seolah menyudutkan kami,” tambah Dewi.

Polda Tidak Buka CCTV

Kejanggalan yang paling dirasakan oleh Dewi dan keluarga adalah saat Polda Jambi tidak pernah membuka dan memaparkan rekaman CCTV di komplek perumahan yang diduga merekam detik-detik sebelum Dedi ditemukan tewas.

Dewi dan keluarga yakin, dalam rekaman CCTV itu Dedi sedang bersama dengan seseorang menggunakan sepeda motor Honda PCX.

“Kami tahu suara adik kami, ciri-cirinya. Kami yakin di CCTV itu adik kami, suaranya jelas, bajunya jelas kami kenal,” jelasnya.

Namun sejak awal, kata Dewi Polda Jambi tidak pernah mau membuka dan menganalisa lebih dalam soal CCTV itu.

Keberadaan Sepeda Motor Misterius

Dewi juga mengungkapkan kejanggalan yang paling mencolok dari seorang pemilik sepeda motor Honda PCX yang terekam CCTV ditumpangi oleh Dedi dan satu orang pria yang tinggal tidak jauh dari rumah Dedi.

Sejak awal pihak keluarga sudah meminta polisi untuk mencari tahu pemilik sepeda motor tersebut. Namun Polda Jambi justru berbelit.

“Awalnya, anggota Resmob, kami sekeluarga sepakat bahwa sepeda motor yang diduga membawa adik saya itu adalah sepeda motor Honda PCX. Namun tidak berselang lama, Polda Jambi membantah dan menyebut sepeda motor itu adalah Honda Vario,” jelasnya.

Hal ini justru membuat Dewi bingung, dia merasa jejak pemilik sepeda motor tersebut berupaya dihilangkan. Padahal, dalam rekaman CCTV, Dedi tampak dibonceng dengan kondisi diduga dalam kondisi lemas pakai sepeda motor PCX tersebut.

Data di Handphone Dedi Hilang

Kejanggalan berikutnya adalah data di Handphone Dedi yang telah hilang. Kata Dewi, polisi menyebut semua data yang ada di handphone Dedi hilang, sehingga tidak ditemukan jejak komunikasi Dedi dengan pihak manapun.

Padahal kata Dewi, mereka sebelumnya telah menyerahkan nomor telepon yang terakhir kali menelepon Dedi.

Pihak Polda kata Dewi justru menyalahkan keluarga, karena mencabut kartu telepon yang kata Polisi hal itu membuat data di Handphone Dedi hilang.

“Katanya, kenapa kami keluarkan kartu dari HP, sehingga datanya hilang. Jadi tidak ada jejak komunikasi yang ditemukan di HP adik saya,” katanya.

Upaya yang Dilakukan Oleh Dewi

Berbagai upaya dilakukan oleh Dewi untuk mengungkap kematian adiknya itu. Secara konsisten dia mengunggah setiap proses yang dia lakukan ke media sosial, agar mendapatkan perhatian semua pihak.

Dia juga telah bersurat ke Kapolda Jambi Irjen Pol Krisno H Siregar dan Wakapolda Jambi Brigjen Pol Benny Ali.

“Suratnya sudah direspons, tapi diteruskan ke Ditreskrimum, tapi ya tidak ada kejelasan juga,” jelasnya.

Mengenai hal ini, Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jambi Kombes Pol Jimy Chirstian Samma dan Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Erlan Munaji belum merespons konfirmasi yang dilakukan.


Exit mobile version