Aktivis HAM Disiram Air Keras, Polri Janjikan Tindakan Tegas

Tim Gabungan Tindak Lanjuti Kasus Penyiraman Air Keras pada Anggota KontraS

Tim gabungan dari Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, serta Polres Metro Jakarta Pusat hingga kini masih mendalami kasus dugaan penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus. Peristiwa ini terjadi di kawasan Jakarta Pusat dan telah menjadi perhatian serius dari berbagai pihak.

Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Johnny Eddizon Isir, menegaskan bahwa kepolisian berkomitmen mengusut tuntas peristiwa tersebut tanpa memandang siapa pun pihak yang terlibat maupun latar belakangnya. Ia menambahkan, penanganan perkara ini juga menjadi perhatian khusus Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sehingga proses penyelidikan dilakukan secara serius dan menyeluruh.

“Kita segenap personel Polri dalam hal ini penyidik, baik yang ada di Polres Jakarta Pusat, yang ada di Polda Metro Jaya, termasuk dari Mabes Polri yang mem-backup, akan serius dan bersungguh-sungguh untuk membuat terang benderang, mengungkap, dan menangkap pelakunya, siapa pun dia,” kata Isir dalam keterangannya, Sabtu (14/3/2026).

Ia mengatakan penyelidikan akan dilakukan dengan cara ilmiah, profesional dan transparan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Saat ini, kata Isir, pihaknya tengah menganalisis rekaman CCTV yang merekam detik-detik kejadian untuk mengungkap identitas pelaku. Pemeriksaan saksi-saksi di lokasi juga masih terus dilakukan tim gabungan untuk membuat terangnya kasus tersebut.

“Pengumpulan berbagai alat bukti digital, dalam hal ini termasuk CCTV, yang kemudian sedang dalam proses untuk analisa lebih lanjut. Harapannya dapat teridentifikasi segera, ya. Mohon dukungan doa,” jelasnya.

Terduga Pelaku 2 Orang

Sebelumnya, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras di kawasan Jakarta Pusat pada Kamis (12/3/2026) malam. Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya membenarkan kejadian tersebut usai Andrie Yunus menghadiri acara podcast berjudul “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sekitar pukul 23.00 WIB.

“Telah mengalami serangan penyiraman air keras oleh Orang Tidak Dikenal (OTK) yang mengakibatkan terjadinya luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata,” kata Dimas dalam keterangannya, Jumat (13/3/2026).

Dimas mengatakan usai insiden itu, Andrie Yunus pun langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. “Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24 persen,” tuturnya.

Dimas melanjutkan, dari informasi awal yang diterima pihaknya, Andrie Yunus awalnya tengah mengendarai sepeda motornya di Jalan Salemba I – Talang, Jakarta Pusat. Kemudian, dua orang pelaku menghampiri secara melawan arah Jalan Talang (Jembatan Talang) dengan mengendarai kendaraan roda dua, yakni diduga merupakan motor matic Honda Beat tahun 2016 sampai dengan 2021.

“Pelaku merupakan 2 orang laki-laki yang melakukan operasinya dengan menggunakan satu motor, masing-masing berperan menjadi pengemudi dan penumpang,” ucapnya.

Adapun ia menyampaikan ciri-ciri dari terduga pelaku yang pertama yakni mengenakan kaos berwarna kombinasi putih-biru, celana gelap diduga jeans, dan helm berwarna hitam. Pelaku kedua yakni penumpang belakang menggunakan penutup wajah atau masker menyerupai ‘buf’ berwarna hitam yang menutupi setengah wajah, kaos berwarna biru tua, dan celana panjang berwarna biru yang dilipat menjadi pendek dan diduga berbahan jeans.

“Salah satu pelaku kemudian menyiramkan air keras ke arah korban hingga mengenai sebagian tubuh korban. Akibat serangan tersebut, korban langsung berteriak kesakitan hingga menjatuhkan motornya,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tidak ditemukan adanya barang milik korban yang hilang atau dirampas baik saat kejadian maupun setelah peristiwa berlangsung. “Atas informasi yang kami himpun tersebut, kami menilai bahwa tindakan penyiraman air keras ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat khususnya pembela HAM,” ucapnya.

Proses Penyelidikan Terus Berlangsung

Tim gabungan terus bekerja keras untuk mengungkap identitas pelaku. Selain menganalisis rekaman CCTV, pihak kepolisian juga melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang ada di lokasi kejadian. Proses penyelidikan ini dilakukan secara ilmiah dan transparan agar bisa memberikan keadilan bagi korban.

Selain itu, pihak kepolisian juga mencari tahu apakah ada motif politik atau kepentingan tertentu di balik kejadian ini. Sejauh ini, belum ada indikasi bahwa pelaku memiliki hubungan spesifik dengan korban, namun penyelidikan tetap dilakukan secara menyeluruh.


Exit mobile version