Pertemuan Gibran dan Rismon Sianipar di Istana Wapres
Pertemuan antara Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres) Gibran Rakabuming Raka dengan Rismon Sianipar, tersangka kasus tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), menjadi perhatian publik. Pertemuan ini terjadi setelah Rismon menerima undangan khusus dari Gibran pada Kamis (12/3/2026).
Rismon yang saat itu sedang berada di Solo, Jawa Tengah usai mengunjungi kediaman Jokowi di Sumber, tiba-tiba dihubungi untuk bertemu dengan Gibran di Istana Wapres. Setelah sejenak istirahat di hotel, Rismon langsung berangkat ke Jakarta menggunakan kereta api.
Pertemuan tersebut digelar selama sekitar 50 menit dan berlangsung tertutup. Rismon tiba di Kompleks Istana sekitar pukul 09.57 WIB dan selesai bertemu Gibran pukul 10.50 WIB. Selama pertemuan, Gibran menunjukkan sikap yang sangat ramah. Ia bahkan merangkul Rismon sambil menyebutnya sebagai saudara.
Setelah saling berjabat tangan dan membungkukkan badan, Gibran meminta stafnya untuk mengeluarkan hampers atau bingkisan Lebaran dan memberikannya kepada Rismon.
“Katanya mau pulang kampung,” ucap Gibran sambil memberikan hampers tersebut.
Bingkisan tersebut diterima Rismon dengan penuh rasa terima kasih. Setelah mengantar Rismon keluar pintu, Gibran pamitan untuk kembali masuk ke kantornya.
Janji Rismon untuk Menebus Kesalahan
Dalam pertemuan tersebut, Rismon juga menyampaikan janjinya untuk menulis buku yang akan merevisi buku Jokowi’s White Paper dan Gibran Endgame yang diterbitkan sebelumnya. Ia mengakui bahwa apa yang dituliskan dalam buku tersebut adalah sebuah kekeliruan.
Sebagai peneliti, Rismon mengatakan bahwa ia bertanggung jawab untuk mengkoreksi tulisannya, bukan menyembunyikan kebenaran hanya demi sorak-sorai, fanatisme, dan kepentingan politik praktis.
Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukannya selama ini murni untuk memenuhi rasa ingin tahu sebagai penulis dan peneliti. “Dan saya clear tidak punya afiliasi politik apapun baik dalam maupun luar negeri,” tegasnya.
Rismon mengaku siap jika dia akhirnya dianggap pengkhianat dan dicaci maki. “Yang penting saya telah menemukan kebenaran itu dengan rekonstruksi, dengan uji coba yang sudah saya lakukan 3 bulan ini dan akan saya tuliskan dalam buku,” katanya.
Untuk membuktikan hal itu, Rismon berencana menuliskan buku kembali yang diprediksi selesai pada 2026 ini.
Sikap Gibran Terhadap Penelitian Rismon
Gibran mengatakan bahwa keluarga besarnya terbuka jika ada penelitian dan mengoreksinya, asalkan jujur, tidak ada motif politik atau karena jabatan publik. Rismon juga meminta izin untuk menyelesaikan bukunya di Balige, kampung halamannya.
“Karena di Jakarta terlalu hirup pikuk, macet. Saya tidak punya banyak waktu dan panas. Saya lebih nyaman menulisnya di kampung saya di Balige dan Pematang Siantar yang dingin dan tidak macet. Saya akan mempublikasikannya,” tukasnya.
Permohonan Maaf dan Restorative Justice
Sebagai informasi, Rismon merupakan salah satu tersangka atas kasus tudingan ijazah palsu Jokowi. Selain Rismon, Polda Metro Jaya juga menetapkan tujuh orang lainnya sebagai tersangka setelah penyidikan yang panjang.
Baru-baru ini, Rismon Sianipar pun meminta maaf kepada Jokowi dan keluarganya. Permohonan maaf ini disampaikannya usai mendapatkan temuan terbaru dalam penelitiannya soal ijazah.
“Saya sebagai peneliti menyatakan minta maaf secara gentleman kepada keluarga Bapak Jokowi terkait dengan temuan-temuan saya yang baru yang saya umumkan,” ujar Rismon seperti dilansir dari YouTube Balige Academy, Kamis (12/3/2026).
Rismon juga mengaku ada kekeliruan dari penelitian yang dituliskan sebelumnya di buku Jokowi’s White Paper. Ia juga sudah mengajukan permohonan restorative justice ke Polda Metro Jaya.
Atas permintaan maaf ini, Gibran sebelumnya menegaskan bulan Ramadhan adalah momen baik untuk saling memaafkan. “Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan,” ucap Gibran dalam keterangannya, Kamis (12/3/2026).
Dalam keterangannya, Wapres Gibran juga menghargai pernyataan dan sikap Rismon yang telah menyampaikan klarifikasi serta kesediaan meninjau kembali pernyataannya. Menurut Gibran, langkah tersebut menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi.










