Lebaran Berubah: Menanti Huntap di Tengah Ekonomi yang Lumpuh Pasca Banjir Padang

Warga Kapalo Koto Merayakan Lebaran di Hunian Sementara

Lebaran tahun ini berbeda bagi warga Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat. Mereka tidak lagi merayakan Idul Fitri dengan tradisi yang biasa mereka lakukan sebelumnya, seperti menata rumah atau menyediakan kue-kue lebaran. Kini, perayaan hari raya tersebut dilakukan di dalam Hunian Sementara (Huntara) Mandiri, tempat tinggal sementara para penyintas banjir bandang yang menghancurkan rumah dan sawah mereka.

Perubahan Tradisi yang Mendalam

Rahmadanis, salah satu penghuni Huntara Mandiri, mengungkapkan bahwa Lebaran kali ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada persiapan besar-besaran seperti dulu, bahkan tidak ada buat kue lebaran. Baginya, Lebaran tahun ini adalah momen paling sulit dalam hidupnya.

Dahulu, ia selalu sibuk mempersiapkan rumah untuk menyambut tamu. Ia mengganti gorden dengan warna-warna cerah dan menata setiap sudut ruangan agar terlihat indah. Namun, semua itu kini hanya kenangan. Banjir bandang yang melanda di akhir tahun 2025 menghancurkan rumahnya dan juga sawah-sawah yang menjadi sumber penghidupannya.

Sawah yang dulunya hijau kini tertutup material lumpur dan bebatuan, sehingga tidak bisa ditanami lagi. Hal ini menjadi pukulan berat bagi ekonomi warga. Rahmadanis mengaku khawatir bagaimana ia akan bertahan hidup setelah masa tanggap darurat berakhir.

Ketidakpastian Bantuan dan Harapan pada Hunian Tetap

Meski bantuan dari pemerintah dan berbagai pihak masih mengalir, warga tidak tahu sampai kapan bantuan tersebut akan terus diberikan. Rahmadanis menyadari bahwa ia tidak bisa selamanya bergantung pada uluran tangan orang lain.

Fitri Afriyani, penghuni Huntara lainnya, juga mengalami kisah serupa. Ia menganggap kehidupannya sedang diuji oleh Tuhan. Ia mencoba tetap tegar meskipun setiap sudut Huntara selalu mengingatkannya pada kehidupan yang hilang.

“Kehidupan ini memang tidak bisa ditebak. Saya tidak pernah menyangka harus merayakan Lebaran di Hunian Sementara. Tapi ini cobaan Tuhan, kami harus sabar dan bangkit kembali,” kata Fitri.

Di tengah segala keterbatasan, harapan masih tersisa di hati para penyintas. Mereka berdoa agar pembangunan Hunian Tetap (Huntap) yang dijanjikan oleh pemerintah segera selesai. Bagi mereka, pindah ke Huntap adalah langkah awal untuk memulai kembali hidup yang sempat terhenti.

Harapan untuk kembali memiliki atap yang permanen menjadi satu-satunya motivasi mereka untuk terus bertahan. Mereka mendambakan sebuah tempat di mana mereka bisa kembali menata gorden, menyusun kue, dan menyambut hari raya dengan senyum yang tulus, bukan senyum yang dipaksakan.

Tantangan dan Kekuatan Bersama

Lebaran kali ini menjadi momentum bagi warga Pauh untuk saling menguatkan. Meski tidak ada hiruk pikuk perayaan, mereka tetap bersatu dan saling mendukung. Dengan semangat yang kuat, mereka menantikan janji pemulihan yang nyata dari para pemangku kebijakan.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *