Kota Tarakan, Pionir Penggunaan Jaringan Gas di Indonesia
Kota Tarakan, Kalimantan Utara, menjadi salah satu kota yang memiliki tingkat okupansi penggunaan jaringan gas (jargas) tertinggi di Indonesia. Hal ini membuat biaya yang dikeluarkan masyarakat lebih efisien dibandingkan dengan membeli tabung LPG.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menjelaskan bahwa saat ini dari 20 kelurahan yang ada di kota pulau tersebut, 18 di antaranya sudah menggunakan jargas. “Tarakan satu-satunya di wilayah kota yang 90 persen menggunakan jargas, yang lain 5-10 persen dari total hunian,” ujar Wahyu di Kantor Pertamina Gas Negara (PGN) Tarakan, Kalimantan Utara pada Jumat (27/3).
Dengan okupansi mencapai 90 persen, Wahyu menargetkan capaian itu bisa menjadi 100 persen serta menjadi contoh untuk daerah lainnya. “Semoga ini yang sudah diusulkan dapat diterima dan segera dibangun. Sehingga Tarakan menjadi contoh suatu kepulauan yang 100 persen dengan menggunakan jaringan gas kota. Ini lebih optimal dan memanfaatkan energi yang diproduksi di wilayah Tarakan sekitarnya,” ujarnya.
Progres Pembangunan Jargas di Tarakan
Saat ini, terdapat 37.145 Saluran Rumah (SR) yang sudah dipasang sepanjang 33.085 meter. Adapun proyek jargas di Tarakan sudah dimulai sejak 2010 dan menggunakan APBN. Ke depan, sudah terdapat proposal untuk rencana penambahan 10.000 SR lagi.
“Yang targetnya dari pemerintah daerah tadi mengusulkan kembali adanya tambahan sambungan jargas, ada 2 kelurahan yang tertinggal. Belum disiapkan infrastruktur. Insya Allah kalau nanti ini juga menjadi program pemerintah dengan skema APBN,” kata Wahyu.
Lebih Hemat dan Efisien dari Tabung LPG
Wahyu juga menjelaskan keunggulan penggunaan jargas ketimbang tabung LPG. Salah satunya soal efisiensi biaya. Dengan asumsi biaya jargas di Tarakan sebesar Rp 25.000 sampai Rp 75.000 per bulan, Wahyu membandingkan jika dibanding LPG non subsidi, biaya jargas hanya 29 persen dari biaya LPG non subsidi. Sementara dibanding LPG subsidi, biaya jargas hanya 72 persen dari LPG subsidi tersebut.
“Jadi masyarakat itu memiliki efisiensi kurang lebih 28 persen dibandingkan dengan LPG yang subsidi itu pun. Artinya harga jargas ini sudah sangat murah untuk dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya. Di Tarakan, harga jargas menurut Wahyu juga menjadi salah satu yang termurah di Indonesia dengan hanya Rp 4.000 an per meter kubiknya. Adapun jargas di Tarakan dipasok oleh Medco EP Tarakan dan Pertamina EP Bunyu dengan volume masing-masing 0,3 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD).
Digunakan di UKM dan Rumah Tangga
Di Tarakan, jargas digunakan baik oleh industri kecil seperti restoran maupun rumah tangga. Salah satu contohnya adalah restoran Warung Teras yang merupakan restoran dengan jargas pertama di Tarakan. Elizabeth, pemilik restoran tersebut, mengakui penggunaan jargas memang lebih murah dan efisien.
“Mahal (pakai LPG), sekarang murah, jauh (dengan jargas). Pernah (ada kendala) tapi sudah lama,” ujar Elizabeth. Selain lebih efisien, Purnawan, juru masak di restoran tersebut, menjelaskan penggunaan jargas cocok untuk kebutuhan restoran karena lebih stabil.
“Sama saja, cuma apinya tergantung kompornya, kan, ada yang pakai blower, ini, kan, enggak pakai. Kalau masalah api sama aja. Lebih hemat jargas, masalahnya, kan, dari segi harga juga, kan, ini walaupun banyak, kan, stabil,” ujarnya.
Selain Warung Teras, tim juga menghampiri pemukiman warga di Desa Karang Rejo, Tarakan. Di sana, rata-rata rumah tangga sudah menggunakan jargas. Lestari (44), salah satu warga, bercerita sudah menggunakan jargas sejak 2010. Ia juga mengakui penggunaan jargas lebih hemat.
“Iritan ini (jargas), hemat karena kita juga tak susah cari gas keliling-keliling, kalau ini enggak ada habisnya. Sebulan sekitar Rp 100 ribu kalau pemakaian banyak, kalau enggak banyak Rp 60 ribuan,” kata Lestari.
