Prediksi Harga Emas dan Logam Mulia di Masa Mendatang
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memberikan prediksi terkait pergerakan harga emas dan logam mulia dalam beberapa pekan ke depan. Menurutnya, harga logam mulia tidak akan mencapai level Rp 3 juta per gram pada minggu depan (30/3/2026–4/4/2026). Namun, ia memperkirakan bahwa level tersebut akan tercapai pada pekan berikutnya (6/4/2026–11/4/2026), mengingat masih berlangsungnya konflik di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur.
Harga emas dunia pada hari Sabtu (28/3/2026) pagi ditutup pada posisi 4.495 dolar AS per troy ons, sementara harga logam mulia mencapai Rp 2,837 juta per gram. Dalam prediksi yang disampaikan, harga logam mulia pada pekan ini seharusnya mencapai Rp 2,8 juta per gram, tetapi tidak tercapai. Jika harga emas terkoreksi, maka pada Senin (30/3/2026) diprediksi akan mencapai 4.363 dolar AS per troy ons dan harga logam mulia sebesar Rp 2,815 juta per gram.
Jika terjadi penurunan, maka harga emas dunia kemungkinan besar akan turun menjadi 4.138 dolar AS per troy ons, sedangkan harga logam mulia akan turun di bawah Rp 2,8 juta per gram, tepatnya Rp 2,75 juta per gram. Di sisi lain, jika harga emas naik, maka titik resisten pertama akan menyentuh 4.666 dolar AS per troy ons, dengan harga logam mulia berada pada level Rp 2,855 juta per gram. Titik resisten kedua untuk harga emas dunia adalah 4.912 dolar AS per troy ons, sementara harga logam mulia mencapai Rp 2,92 juta per gram.
Ibrahim menyatakan bahwa ada kemungkinan besar harga emas dunia tidak akan mencapai level 5.000 dolar AS per troy ons dalam minggu depan. Sementara itu, logam mulia juga kemungkinan besar tidak akan menyentuh Rp 3 juta per gram dalam waktu dekat. Ia menambahkan bahwa kemungkinan besar logam mulia akan kembali ke level Rp 3 juta per gram pada minggu berikutnya.
Investasi Aset Safe Haven Masih Menguntungkan
Menurut Ibrahim, harga emas dan logam mulia masih akan mengalami kenaikan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, berinvestasi di aset safe haven tersebut masih menjadi pilihan yang tepat bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa bagi masyarakat yang memiliki investasi, tidak perlu khawatir karena harga emas ini masih terus naik. Targetnya tahun ini adalah harga emas dunia mencapai 6.000 dolar AS per troy ons, sedangkan logam mulia diperkirakan bisa mencapai Rp 4 juta per gram. Ia hanya perlu menunggu waktu saja.
Pergerakan Indeks Dolar AS dan Harga Minyak Mentah
Selain itu, Ibrahim memprediksi pergerakan indeks dolar AS akan menguat pada pekan depan, dengan rentang perdagangan yang diperkirakan antara 99,30 hingga 101,60. Harga minyak mentah dunia juga diperkirakan akan menguat, dengan crude oil berada di kisaran 92,30–112,20 dolar AS per barel. Sedangkan harga brent oil diperkirakan berada pada level 110–116 dolar AS per barel, bahkan bisa menembus 125 dolar AS per barel pada pekan berikutnya.
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga diperkirakan akan terus melemah. Pada pekan depan, rupiah kemungkinan besar akan menembus Rp 17.000 per dolar AS, bahkan berpotensi mencapai Rp 17.100 per dolar AS. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor geopolitik yang terus berlangsung.
Faktor Utama yang Mempengaruhi Harga Komoditas
Masalah geopolitik menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan dolar, rupiah, minyak mentah, emas, dan logam mulia. Tensi di kawasan Timur Tengah masih bergulir, terutama terkait pembatasan transportasi di Selat Hormuz. Selain itu, penundaan penyerangan AS ke pulau-pulau di Selat Hormuz hingga 6 April mendatang juga menjadi faktor. Wilayah-wilayah AS di Timur Tengah seperti Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi terdampak. Iran dan Israel (sekutu AS) terus melakukan aksi saling serang.
Di sisi lain, konflik di Eropa Timur antara Ukraina dan Rusia masih berlangsung. Ibrahim menyatakan bahwa konflik tersebut belum selesai karena adanya pihak ketiga yang memasok senjata ke Ukraina. Ia memperkirakan bahwa perang Rusia-Ukraina akan terus berlangsung selama 3–5 tahun ke depan.
Dinamika Politik di AS dan Kebijakan Bank Sentral
Dalam dinamika politik di AS, kepercayaan masyarakat terhadap Presiden Donald Trump mengalami penurunan dari sekitar 40 persen menjadi 35–37 persen. Selain itu, Kevin Warsh dikabarkan akan menjabat sebagai gubernur The Federal Reserve pada April 2026, menggantikan Jerome Powell. Setelah menjabat, diperkirakan pada Mei 2026 Warsh akan mengumumkan kebijakan yang kemungkinan besar mengarah pada penurunan suku bunga.
Persaingan antara Partai Republik dan Partai Demokrat dalam pemilu juga menjadi isu penting. Meski saat ini isu perang dagang AS tidak terlalu menonjol, pelaku pasar lebih mencermati dinamika konflik di Timur Tengah. Bank-bank sentral global masih terus membeli atau memupuk logam mulia sebagai lindung nilai.
Kesimpulan
Ibrahim menegaskan bahwa meskipun harga emas terkoreksi, hal ini menjadi kesempatan bagi bank sentral global untuk melakukan pembelian dengan harga yang relatif lebih murah. Bank sentral pun optimistis bahwa harga emas dunia akan terus mengalami kenaikan. Ia menekankan bahwa pelemahan logam mulia tertahan oleh pelemahan mata uang rupiah, sehingga logam mulia tidak akan terlalu jauh pelemahannya dibandingkan emas digital yang menggunakan metode emas internasional.












