Masalah Sampah di Kalianyar Belum Selesai, Warga Minta Solusi Jangka Panjang
Masalah sampah di wilayah Kalianyar, Tambora, Jakarta Barat, masih menjadi perhatian masyarakat meskipun tumpukan sampah yang sempat viral telah diangkut. Namun, akar masalah seperti ketiadaan Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan keterbatasan armada pengangkut sampah belum teratasi.
Penumpukan sampah terjadi karena gangguan dalam pengiriman ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, sehingga sampah menumpuk di jalan dan memicu protes warga. Warga kini meminta solusi permanen, termasuk pembangunan TPS yang layak dan edukasi pengelolaan sampah agar masalah tidak terus berulang.
Viral di Media Sosial
Persoalan sampah di Kalianyar menjadi sorotan setelah viral di media sosial. Dalam postingan yang beredar pada akhir Ramadan hingga Lebaran, sampah nampak menumpuk di sepanjang jalan yang berbatasan dengan Kanal Banjir Barat (KBB) dari arah Season City menuju Roxy. Kondisi ini membuat Anggota DPRD DKI Jakarta, Fraksi PDIP Hardiyanto Kenneth meninjau langsung kondisi gunungan sampah tersebut.
Dalam sidak tersebut, beliau didampingi oleh Camat Tambora Pangestu Aji, Lurah Jembatan Besi Achmad Subhan, Lurah Kalianyar Iman Suhendar serta perwakilan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat, Dahlan.
Dampak dari Gangguan di TPST Bantar Gebang
Ketua RT 12 RW 01 Kalianyar, M. Toyib, menjelaskan bahwa penumpukan sampah yang terjadi di wilayahnya bukanlah kondisi harian, melainkan dampak dari terganggunya pengiriman ke TPST Bantar Gebang, Bekasi. “Penumpukan kemarin itu lantaran kejadian di Bantar Gebang. Bahkan sempat ada instruksi dari Dinas Lingkungan Hidup pada tanggal 8 Maret untuk tidak membuang sampah sementara,” ujar Toyib ditemui di dekat TPS Kalianyar, Senin (30/3/2026).
Akibat kondisi tersebut, sampah sempat menumpuk di wilayah permukiman padat itu dan viral di media sosial karena dibagikan oleh warga yang protes dengan pemandangan tersebut. Hingga akhirnya, pada 24–25 Maret atau beberapa hari setelah Lebaran, sampah akhirnya diangkut hingga tuntas. “Dua hari diangkut sampai selesai dan langsung disterilkan,” katanya.
Spanduk Penolakan
Pantauan di lokasi, memang sudah tak banyak sampah yang belum terangkut di TPS Kalianyar. Satu truk sampah milik Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta nampak tengah mengangkuti sampah yang berasal dari sejumlah gerobak dan mobil bak terbuka. Hanya saja di depan TPS tersebut terpampang sejumlah spanduk penolakan akan keberadaan tempat penampungan tersebut.
Toyib mengakui spanduk itu dipasang oleh warganya sebagai bentuk protes atas lambannya pengangkutan sampah. “Iya itu memang warga yang pasang karena kemarin protes sampah itu lama sekali diangkutnya dan jelas menganggu warga, bahkan juga bikin macet karena kan itu lokasinya di jalan,” kata Toyib.

Minta Dibangun TPS yang Layak
Selain itu, Toyib menyebut alasan spanduk masih terpasang kendati tumpukan sampah telah terangkut lantaran persoalan mendasar belum teratasi. Ketiadaan lahan membuat warga terpaksa menjadikan jalan sebagai lokasi pembuangan sementara, yang memicu penolakan dari masyarakat sekitar.
“Warga kami memang menolak kalau sampah dibuang di situ lagi. Karena itu di jalan, bukan tempatnya,” tegas Toyib. Menurut dia, kondisi ini sudah berlangsung lama. Warga pun berharap ada relokasi TPS ke lokasi yang lebih layak, seperti di bantaran kali di sekitar wilayah tersebut.
Adapun selama ini warga rutin membayar iuran sampah sebesar Rp10.000 per bulan sesuai ketentuan retribusi daerah. Namun, tanpa dukungan fasilitas yang memadai, persoalan sampah dinilai akan terus berulang. “Daripada di jalan, lebih baik ada TPS di bantaran kali. Kita juga sudah usulkan, bahkan menyurati dinas terkait. Tinggal butuh kajian dan keterlibatan semua pihak,” jelasnya.
Selain itu, Toyib menyoroti keterbatasan armada pengangkut sampah di wilayah Kalianyar. Saat ini, hanya tersedia dua truk untuk melayani seluruh wilayah yang mencakup 101 RT dan 9 RW. “Ini udah terjadi sejak tahun 2016, artinya udah 10 tahun dan belum ada solusi. Warga udah resah karena baunya jelas bikin enggak sehat. Jadi harapannya dipindahkan supaya enggak ada problem masyarakat,” kata dia.
Di sisi lain, Toyib mengatakan warga juga siap mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik, termasuk jika ada program pengolahan dan pemilahan sampah. Namun, mereka berharap ada edukasi dan sosialisasi dari pemerintah. “Kalau memang ada pengolahan sampah, kami minta diajarkan. Biar warga bisa memilah sampah dengan benar,” ujarnya.












