Tonton Sepak Bola dengan Gembira

Sepak Bola, Kebahagiaan yang Tak Pernah Hilang

Ada kalimat-kalimat yang sering terdengar dalam dunia sepak bola: “Saya bermain sepak bola karena saya suka dan bahagia”; “Sepak bola seharusnya menyenangkan.” Kalimat pertama berasal dari Neymar, sedangkan yang kedua dari Matthew Le Tissier. Mereka berdua memiliki cinta yang besar terhadap permainan ini.

Neymar sering dianggap sebagai pemain yang lahir di waktu yang salah. Jika tidak hidup sezaman dengan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, mungkin dia akan menjadi pemain terbaik di dunia. Sementara itu, Le Tissier, meskipun hanya bermain untuk Southampton, klub yang tidak terlalu terkenal di Inggris, tetapi teknik tingginya dan gol-gol spektakulernya membuat banyak orang mengaguminya. Bahkan Xavi Hernandez pun mengidolakannya.

Meski begitu, Le Tissier memilih tetap bermain di Southampton selama masa prime-nya. Dia bermain 443 kali dan mencetak 161 gol. Banyak klub besar seperti di Inggris, Italia, dan Spanyol ingin mendapatkannya, tetapi dia memilih tetap di sana. Karena bagi Le Tissier, sepak bola adalah hal yang menyenangkan dan harus dinikmati.

Begitulah hakekat sepak bola. Di tengah modernisme dan pengaruh kapitalisme, sepak bola tetap menjaga esensinya. Sepak bola adalah kebahagiaan, keriaan, dan kehormatan. Di beberapa negara, rasa-rasa ini bahkan melebihi nalar.

Di Brasil, tempat kelahiran Neymar, orang-orang membicarakan sepak bola setiap hari, setiap minggu, bahkan setiap tahun. Hari ketika mereka tidak lagi membicarakan sepak bola adalah hari ketika mereka tidak lagi bernapas.

Indonesia bukan Brasil, tapi situasinya tidak jauh berbeda. Orang-orang Indonesia tidak hanya menyukai sepak bola, mereka memuja sepak bola lebih dari cinta kepada kekasih. Loyalitas mereka sangat kuat. Dari pertandingan antarkampung hingga laga di stadion megah, mereka selalu datang dengan penuh semangat. Seragam klub atau tim nasional, yang nilainya bisa setara dengan sepuluh goni beras, tidak menjadi masalah. Mereka akan membelinya, bahkan dengan menabung atau mengangsur, lalu pergi menonton dengan riang gembira.

Sepak bola menjadi kultur, meski di satu sisi juga menjadi cara untuk melarikan diri dari beban hidup. Dalam 90 menit, segala masalah rumah tangga, tekanan kerja, atau ancaman utang bisa terlupakan. Saat gol dicetak, seperti saat Pratama Arhan menyingkirkan Korea Selatan atau Marselino Ferdinan mencetak gol ke gawang Arab Saudi, orang-orang sejenak lupa bahwa setelah pluit panjang mereka harus kembali bekerja.

Uang bisa dicari, bos bisa dihadapi, masalah rumah tangga bisa diatasi. Yang terpenting adalah merayakan gol dengan gegap gempita dan menangis saat lagu ‘Tanah Airku’ dikumandangkan.

Namun, kita pernah kehilangan momen-momen seperti ini. Seperti roller coaster di pasar malam, kita dilempar ke sana kemari. Dari Olimpiade Montreal 1974 ke Paris 2020, dari Meksiko 1986 ke Meksiko bersama Kanada dan Amerika Serikat 40 tahun kemudian. Dari Pasukan Garuda ke Primavera yang “keberatan nama”, dari Toni Ponagnic ke Sinyo Aliandoe, Bertje Matulapelwa, Anatoli Polosin, Rusdy Bahalwan, Benny Dollo.

Lalu tiba era kerusuhan dan kegelapan, yang ditandai oleh kekalahan besar dan skandal memalukan. PSSI, rumah besar sepak bola Indonesia, sempat pecah dan dikendalikan dari balik penjara. Shin Tae-yong didatangkan, tapi kemudian didepak, seperti roller coaster yang melesat lalu berhenti lagi.

Ini kali, kesedihan lebih menyakitkan karena momentum yang hilang dirasa lebih berat. Banyak yang tidak mengerti mengapa orang-orang top di PSSI memilih imitasi daripada emas asli. Akibatnya, kesedihan yang berlarut diiringi kemarahan. Banyak yang tidak ingin lagi menonton pertandingan tim nasional.

Namun, bangsa ini dianugerahi Tuhan sifat welas asih. Kemarahan atas pendepakan Shin Tae-yong belum sepenuhnya reda, tapi sinyal-sinyal memaafkan mulai terlihat. PSSI mendepak Patrick Kluivert dan menggantinya dengan John Herdman. Hasil kerjanya sudah terlihat, seperti kemenangan 4-0 atas Saint Nevis & Kitts di Gelora Bung Karno.

Setelah gol dari Beckham Putra, Ole Romeny, Mauro Ziljstra, dan Elkan Baggott bermain kembali, keriaan kembali hadir. Untuk sejenak, orang-orang lupa bahwa ini baru laga pertama. Mereka lupa bahwa setelah pluit panjang, mereka masih harus menghadapi masalah hidup.

Perkiraan ini bisa keliru. Barangkali mereka tidak benar-benar lupa. Boleh jadi mereka tidak sedang dalam ancang-ancang untuk memaafkan dan melupakan. Boleh jadi, sepak bola Indonesia telah mengajarkan pada mereka untuk terbiasa dan menganggap segala kesemrawutan ini sekadar sebagai hiburan. Walau tak lucu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *