Siswa SMK Menolak MBG, Minta Dana Digunakan untuk Gaji Guru Honorer

Surat Siswa SMK yang Viral Tolak Program MBG dan Minta Dana Dialihkan untuk Guru

Seorang siswa SMK di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, membuat heboh media sosial setelah menulis surat yang menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan meminta dana tersebut dialihkan untuk kesejahteraan guru. Surat ini ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto dan viral di berbagai platform digital.

Surat itu ditulis oleh Muhammad Rafif Arsya Maulidi, seorang siswa kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual di SMK NU Miftahul Falah Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Dalam suratnya, ia menyampaikan aspirasinya dengan jelas bahwa meski program MBG bertujuan baik, ia merasa dana yang dialokasikan untuk dirinya lebih baik digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan guru-guru yang mengajar di sekolahnya.

Alasan Menolak Program MBG

Arsya menjelaskan bahwa selama masa belajarnya, jika dihitung secara sederhana, total dana MBG yang akan diterimanya mencapai Rp 6.750.000. Angka ini dihitung dari 18 bulan belajar dikalikan 25 hari per bulan dan Rp 15 ribu per hari.

Namun, bagi Arsya, jumlah tersebut tidak terlalu besar, tetapi bisa menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi guru-gurunya. Ia memohon agar dana MBG yang seharusnya dialokasikan untuk dirinya dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru.

“Bagi saya pribadi angka tersebut mungkin tidak mengubah banyak hal, tetapi dapat menjadi bentuk penghargaan atas dedikasi guru,” tulis Arsya dalam suratnya.

Perhatian pada Kesejahteraan Guru

Arsya mengatakan bahwa keinginannya untuk menulis surat ini bermula dari kekhawatirannya terhadap kesejahteraan guru honorer. Ia merasa bahwa gaji guru honorer masih jauh dari layak dibandingkan dengan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ia juga menilai bahwa kemajuan suatu bangsa dimulai dari pendidikan, dan pendidikan bergantung pada dedikasi para guru. “Katanya mau buat Indonesia emas. Kalau MBG menurut saya tidak membuat pintar dan semua berasal dari guru yang baik supaya anak dididik lebih baik,” ujarnya.

Surat ini diunggah oleh Arsya di akun Instagram pribadinya @arsya_graph. Dalam unggahannya, ia juga menautkan akun milik Tiyo Ardianto dan menandai beberapa tokoh penting seperti Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming, Ahmad Luthfi, Taj Yasin, Bupati Kudus Sam’ani, dan Wakil Bupati Kudus Bellinda Birton.

Hingga saat ini, unggahan tersebut telah mendapatkan 12 ribu tanda hati dan 447 komentar dengan dominasi dukungan atas surat yang disampaikan oleh siswa tersebut.

Uji Coba Program MBG di Kota Malang

Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan diujicobakan di MIN 2 Kota Malang. Konsep MBG Prasmanan di Kota Malang dilakukan secara perdana pada Kamis (2/4/2026). Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, turut hadir dalam kegiatan ini bersama sejumlah kepala dinas dan anggota dewan.

Menurut Wahyu, uji coba masih akan dievaluasi secara menyeluruh sebelum diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah. Meskipun konsep prasmanan mendapat respons positif dari siswa karena variasi menu dan fleksibilitas porsi, ada sejumlah hal krusial yang perlu diperhatikan.

“Yang harus diperhatikan adalah soal waktu. Karena ini antre dan makan butuh waktu, tentu ada potensi jam pelajaran tersita. Ini yang harus diatur,” kata Wahyu.

Ia menilai bahwa model prasmanan membutuhkan manajemen waktu yang lebih matang karena siswa harus antre sebelum makan. Berbeda dengan sistem nasi kotak yang bisa langsung dibagikan secara serentak.

Meski demikian, Wahyu mengakui keunggulan sistem prasmanan dari sisi kualitas makanan. Ia menyebut, makanan yang disajikan lebih hangat, tidak berair, dan terasa lebih alami dibandingkan dengan sistem distribusi tertutup.

Setelah itu, Wahyu akan mengumpulkan seluruh hasil evaluasi dari uji coba ini untuk kemudian dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Hasil tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan kebijakan lanjutan program MBG di daerah.

[NAMA PEMESAN]

[NAMA PEMESAN]


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *