Peran Ruang Publik dalam Pengaruh Kesehatan Mental Anak dan Remaja
Keberadaan banner dan billboard film di ruang publik selama ini dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, konten yang ditampilkan tidak selalu memiliki dampak yang sama bagi setiap orang, terutama anak-anak dan remaja. Hal ini menjadi perhatian khusus dari para ahli kesehatan mental.
Dampak Banner Film Horor pada Anak dan Remaja
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, menyampaikan bahwa banner film horor dengan tulisan “Aku Harus Mati” memerlukan perhatian khusus dari sisi kesehatan mental anak. Menurutnya, situasi ini sangat penting mengingat kondisi kesehatan mental remaja di Indonesia yang cukup mengkhawatirkan.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 10 persen remaja di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Angka ini cukup besar jika dilihat dari jumlah populasi remaja yang mencapai sekitar 40 juta jiwa. Dengan demikian, sekitar 4 juta remaja mungkin mengalami gangguan tersebut.
Bahaya Pesan Ekstrem Bagi Remaja
Paparan pesan ekstrem seperti “Aku Harus Mati” tidak bisa dianggap netral. Terutama bagi remaja yang sudah memiliki kerentanan atau gangguan kesehatan mental sebelumnya. Dalam kelompok tertentu, khususnya yang mengalami depresi berat, pesan tersebut bisa menjadi penguat atau afirmasi terhadap pikiran negatif yang sudah ada.
“Jika yang kelompok depresi berat tiba-tiba melihat banner itu, dan kemudian dia memang udah ada ide bunuh diri sebelumnya, itu kan terkonfirmasi. Ada afirmasi untuk bunuh diri pada diri dia, jadi mendorong, semakin mendorong,” tambahnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak tidak akan sama pada setiap individu. Bagi orang dengan kondisi mental sehat, banner tersebut mungkin hanya menimbulkan rasa tidak nyaman atau sekadar gangguan visual. Namun, situasi berbeda bisa terjadi pada anak-anak yang masih dalam tahap belajar memahami kata dan makna.
Kesulitan Orang Tua dalam Mendampingi Anak
Kalimat sederhana seperti “Aku Harus Mati” dapat memicu kebingungan. Anak-anak bisa mempertanyakan makna kalimat tersebut kepada orang tua, bahkan membandingkannya dengan nilai-nilai yang selama ini diajarkan.
“Anak belajar baru baca, bacaannya aku harus mati, loh mama kemarin katanya bilang aku harus semangat, aku harus berprestasi, aku harus begini begitu, kok tiba-tiba aku harus mati gitu,” ujar dr Piprim lagi.
Di sinilah tantangan muncul bagi orang tua. Mereka perlu memberikan penjelasan yang tepat sesuai usia anak, sekaligus menjaga agar anak tidak salah memahami pesan yang diterima dari lingkungan sekitar. Situasi ini menunjukkan bahwa ruang publik bukan hanya milik orang dewasa, tetapi juga diakses oleh anak-anak dengan berbagai tingkat pemahaman.
Permintaan IDAI untuk Pembuat Konten
Karena itu, IDAI mengimbau para pembuat konten, termasuk produsen film, untuk lebih sensitif terhadap dampak psikologis dari pesan yang disampaikan. Pendekatan yang diharapkan bukanlah pembatasan kreativitas, melainkan keseimbangan antara nilai komersial dan tanggung jawab sosial.
Konten tetap bisa menarik perhatian publik, namun tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak dan remaja. Selain itu, kolaborasi dengan para ahli seperti psikolog, pakar kesehatan anak, dan pakar kesehatan jiwa dinilai penting dalam proses produksi konten.
Langkah ini diharapkan dapat menghasilkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga aman dan edukatif bagi masyarakat luas.
Pentingnya Kesadaran akan Dampak Konten
Di tengah perkembangan industri kreatif yang semakin pesat, kesadaran akan dampak konten terhadap kesehatan mental menjadi bagian penting dari gaya hidup modern yang lebih mindful. Bagi orang tua, situasi ini juga menjadi pengingat untuk lebih aktif mendampingi anak dalam memahami berbagai informasi yang mereka temui di ruang publik.












