Detik-detik Bayi di RSHS Bandung Nyaris Diculik, Sikap Petugas Keamanan Disoroti

Detik-Detik Bayi Nyaris Dibawa Orang Tak Dikenal di RSHS Bandung

Sebuah kejadian yang mengejutkan terjadi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, di mana seorang bayi nyaris dibawa oleh orang tak dikenal. Insiden ini memicu perhatian publik dan menjadi bahan pembicaraan mengenai kesiapan tenaga medis serta pengawasan keamanan di rumah sakit tersebut.

Pihak RSHS telah melakukan tindakan tegas dengan menonaktifkan sementara seorang perawat yang bertugas di ruang intensive care. Perawat tersebut juga dipindahkan ke unit kerja yang tidak bersentuhan langsung dengan pasien sebagai bentuk tindak lanjut internal. Tindakan ini dilakukan setelah video yang menampilkan keluhan seorang ibu muda bernama Nina Saleha viral di media sosial.

Nina menjelaskan bahwa bayinya dirawat selama empat hari karena mengalami penyakit kuning dan sudah diperbolehkan pulang sehari sebelum kejadian. Namun, proses administrasi yang belum selesai membuat ia dan suaminya harus menunggu cukup lama. Keduanya sempat keluar untuk makan, tetapi Nina merasa ada firasat tidak enak.

Saat kembali ke ruang perawatan, ia mendapati bayinya tidak berada di inkubator. Setelah dicek, ia menemukan bahwa bayi yang digendong itu memang anaknya. Nina langsung menghentikan perempuan tersebut dan berteriak meminta bantuan.

Respons Petugas Keamanan yang Menyulitkan

Nina mengaku respons awal yang diterimanya justru membingungkan. Ia diarahkan ke petugas keamanan, namun bukan untuk penanganan insiden yang sedang berlangsung. Menurutnya, seorang petugas keamanan justru meminjam telepon genggamnya dan mengubah penilaian layanan rumah sakit menjadi lebih baik.

“Saya diminta kasih rating, saya kasih empat, lalu satpamnya malah pinjam hp saya dan diubah jadi bintang lima dengan kata-kata yang bagus,” ungkap Nina. Situasi tersebut membuat Nina semakin panik karena di saat yang sama ia berusaha memastikan keselamatan bayinya.

Nina juga menyoroti minimnya kehadiran petugas keamanan saat ia berteriak meminta bantuan. “Saya teriak sambil nangis, tapi saya malah disuruh diam jangan teriak oleh perawatnya,” ucapnya.

Setelah kejadian itu, bayi akhirnya berhasil diambil kembali oleh perawat. Namun, Nina meminta suaminya untuk segera membawa bayi tersebut.

Penjelasan dari Pihak Rumah Sakit

Direktur Utama RSHS Bandung, Rahim Finata Marsidi, menegaskan bahwa langkah penonaktifan perawat tersebut diambil untuk memastikan evaluasi menyeluruh terhadap kejadian itu. Ia menyebut penonaktifan ini bersifat sementara sambil dilakukan pendalaman lebih lanjut.

Rahim juga menegaskan bahwa insiden tersebut tidak mengandung unsur kriminal maupun kesengajaan dari pihak perawat. Menurutnya, kondisi di ruang intensive care saat itu sedang cukup sibuk dengan banyaknya pasien yang membutuhkan penanganan.

Pihak rumah sakit telah melakukan komunikasi langsung dengan keluarga pasien untuk meredakan kekhawatiran yang muncul. Selain itu, kasus ini juga telah dilaporkan kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai bentuk transparansi dan pertanggungjawaban.

RSHS akan melakukan evaluasi, salah satunya terkait standar operasional prosedur (SOP) penyerahan bayi kepada orang tua. “RSHS akan mengevaluasi dan melakukan pembinaan lagi kepada para perawat terhadap kepatuhan melaksanakan SOP mengenai penyerahan bayi kepada orang tuanya, yang selama ini sudah berjalan dengan baik,” ucapnya.

Exit mobile version